Yamaha Lexi

Liputan Khas: RUU Permusikan Dinilai Memberatkan

  Jumat, 08 Februari 2019   Anya Dellanita
Musisi yang pernah ada di bwah naungan FFWD. (whiteboardjournal.com)

CIDADAP, AYOBANDUNG.COM--Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan masih mengundang reaksi. Banyak pegiat musik tanah air berkomentar tentang  19 pasal bermasalah dari RUU tersebut, tak terkecuali pegiat musik asal Bandung.

Salah satunya sepeti yang dikemukakan pemilik label FFWD Records, Didyt Aditya. “Kan itu masih rancangan, jadi kata saya mah sih tunggu aja. Tapi semua isi pasalnya memang memberatkan,” katanya saat ditemui di kantor FFWD Records, Kamis (7/2/2019).

Menurut Didyt, selain memberatkan para musisi. Hal ini juga memberatkan dirinya sebgai promotor dan pemilik usaha di bidang hiburan.

AYO BACA : Musisi Indie Tolak RUU Permusikan, Ini Alasannya

“Kebetulan selain punya ini (FFWD red), saya juga punya usaha café. Di RUU itu kan ada pasal yang nyebutin kalau pelaku bidang usaha musik  dan hiburan wajib memainkan musik tradisional, kan berat juga,” ujarnya.

Dia juga mengungkapkan terciptanya RUU ini mungkin tidak didasarkan pada niat buruk, karena pembuatannya dipastikan melibatkan beberapa musisi.

Selain itu, dia menilai jika pemerintah membuat RUU Permusikan bertujuan untuk membuat musik Indonesia lebih maju, maka adanya RUU menjadi hal wajib. Sebaliknya, jika RUU tersebut membuat pegiat musik merasa dibatasi, maka tidak perlu ada.

AYO BACA : Musisi Indonesia Ramai-ramai Tandatangani Petisi Tolak RUU Permusikan

Menurutnya, hal ini dapat berujung ke monopoli. “Misalnya nih, dulu kan anak SMP atau SMA kalau mau bikin perizinan gampang. Kalau menurut RUU ini kan butuh lisensi. Ya mana ada mereka punya lisensi. Akhirnya kan yang bisa mengundang musisi  cuma lisensi, kan jadi monopoli,” lanjutnya.

Aturan sertifikasi musisi pada pasal 32 juga menurut Didyt bisa berujung aksi monopoli. Karena tidak adanya aturan yang jelas akan pihak yang memberi dan atas dasar apa sertifikasi itu dilakukan.

“Kalau obat harus disertifikasi. Kalau salah, bisa keracunan. Kalau musik salah kan gak ada dampaknya. Jadi buat apa,” ujarnya

Ke depannya, Didyt berharap pemerintah dapat membuat RUU yang dapat memajukan seni musik Indonesia.

“Soalnya Indonesia kan Negara besar. Untuk kelas Asia, musisi Indonesia bagus. Cuma kurang di banyak aspek, seperti sekolah musik kurang. Kalau dibangun kan bisa makin bagus,” ujarnya.

AYO BACA : Tanggapan Armand Maulana soal RUU Permusikan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar