Yamaha NMax

Ini Aturan Tegas Membangun Masjid dan Ruang Ibadah Lain di Bandung

  Kamis, 07 Februari 2019   M. Naufal Hafizh
Wali Kota Bandung Oded M. Danial saat memaparkan poin Perda Nomor 14 Tahun 2019 tentang Bangunan Gedung, di Auditorium Rosada, Plaza Balai Kota, Jalan Wastukancana, Bandung, Kamis (7/2/2019).

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Pemerintah Kota Bandung mulai menyosialisasikan Peraturan Daerah atau Perda Nomor 14 Tahun 2018 tentang Bangunan Gedung. Sebagai tahap awal, perubahan baru dari Perda Nomor 5 Tahun 2010 ini disosialisasikan kepada Aparatur Sipil Negara Pemkot Bandung.

Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengungkapkan, salah satu substansi dalam Perda Nomor 14 Tahun 2018 ini yakni kelengkapan prasarana dan sarana yang tertuang dalam pasal 31. Salah satunya perihal ketersediaan ruang ibadah.

"Salah satu substansi dari Perda itu di antaranya amanat kepada para penyelenggara bangunan memberikan fasilitas tempat ibadah yang layak," kata Oded, Kamis (7/2/2019), seperti dalam keterangan resmi yang diterima Ayobandung.com.

Ruang ibadah dalam Perda tersebut yakni ruangan pada bangunan gedung yang digunakan secara tetap untuk melaksanakan kegiatan peribadahan. Baik itu ruang salat bagi umat muslim, sebagai agama mayoritas di Indonesia ataupun ruang meditasi untuk penganut agama lainnya.

AYO BACA : Ayo Berkunjung ke Masjid Kapal Semarang

Perda anyar in pun mengatur soal aksesibilitas, kelayakan, kejelasan orientasi, memenuhi kaidah keagamaan, dan adanya pemisahan gender antara pria dengan wanita, lalu memiliki sirkulasi udara, pencahayaan, serta standardisasi kesehatan. 

Soal penempatan ruang ibadah juga harus di lokasi yang mudah dilihat dan dijangkau dengan dipampang informasi lokasi keberadaannya. Rumah ibadah tidak ditempatkan pada fasilitas ruang parkir, lokasi bongkar-muat barang atau pun tempat pembuangan sampah.

"Sekarang kan banyak yang di basemen, di bawah palalaur (berisiko) dan panas," ujarnya.

Dalam Perda Nomor 14 Tahun 2018 tersebut juga mengatur soal persentase luasan ruang ibadah berdasarkan fungsi bangunan gedung. Di antaranya untuk fungsi hunian rumah susun atau apartemen, yakni paling sedikit luasan rumah ibadahnya 5 persen dari luas lantai.

AYO BACA : Sukmawati Minta Masjid Seleksi Muazin

Bagi bangunan gedung fungsi usaha juga tidak boleh kurang dari 5 persen dari luasan lantai, kecuali untuk gudang penyimpanan paling sedikit 3 persen. Begitupun di bangunan fungsi sosial budaya paling sedikit ruang ibadahnya menempati 5 persen dari luasan lantai. Namun, berbeda bagi tempat praktik dokter yang dipatok batas minimumnya sebesar 2 persen dari keseluruhan luas lantai.

Sementara itu, untuk bangunan gedung dengan fungsi khusus ditetapkan ruang ibadahnya paling sedikit 2 persen. Kemudian ruang ibadah bagi bangunan yang lebih dari satu fungsi paling sedikit 3 persen dari luas lantai bangunan.

"Saya harapkan dengan adanya perda ini menjadikan bangunan di Kota Bandung menjadi gedung yang layak," jelasnya.

Oded mengungkapkan, Pemkot Bandung saat ini masih mengimbau bagi pemilik bangunan gedung yang ruang ibadahnya belum memenuhi ketentuan agar segera menyesuaikan. Selanjutnya, Pemkot Bandung bakal menindak tegas para pelanggar aturan.

"Kita akan inventarisir. Kita juga sedang membahas seperti apa pelaksanaannya. Kita publikasi dulu dan mengimbau para pengusaha," ucapnya.

Di samping ketentuan rumah ibadah, Oded berharap semua bangunan gedung di Kota Bandung bisa mengikuti seluruh aturan yang tertera dalam Perda Nomor 14 Tahun 2018 ini. Dengan begitu, aturan ini mampu mendukung kenyamanan dan keamanan masyarakat.

"Kalau ditaati akan meningkat jumlah kunjungan orang karena semakin nyaman," katanya.

AYO BACA : Masjid Istiqlal Indonesia Didirikan di Palestina

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar