Yamaha Mio S

Kedua Capres-Cawapres Didorong Kampanyekan Energi Terbarukan

  Rabu, 06 Februari 2019   Nur Khansa Ranawati
Gerakan #BersihkanIndonesia dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat serta oragnisasi lainnya mendorong agar pasangan capres-cawapres yang bertarung dalam pemilihan presiden 2019 mendatang mengampanyekan penggunaan energi terbarukan. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Elemen masyarakat gabungan yang terdiri dari Gerakan #BersihkanIndonesia dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat serta oragnisasi lainnya mendorong agar pasangan capres-cawapres yang bertarung dalam pemilihan presiden 2019 mendatang mengampanyekan penggunaan energi terbarukan.

Gerakan gabungan yang terdiri dari 37 lembaga non-partisan ini menilai kedua pasangan capres-cawapres masih mengandalkan energi konvensional batu bara untuk pemenuhan energi nasional.

“Kami sudah pelajari visi-misi keduanya. Sayangnya, Capres Jokowi dan Capres Prabowo masih mengandalkan batu bara untuk energi nasional dan tidak ada satu pun yang bicara tentang dampak-dampak masif mengerikan yang tengah dihadapi para petani, nelayan di pesisir dan warga di desa-desa di daerah tambang,” kata Direktur Eksekutif WALHI Jabar, Dadan Ramdan di Kafe Kaka, Rabu (6/2/2019).

AYO BACA : Walhi Jabar: Limbah B3 Masih Dibuang Ilegal

Penggunaan batu bara sebagai sumber energi yang ditawarkan Jokowi dan Prabowo ini dinilai telah mengabaikan fakta tentang dampak buruk yang ditimbulkan industri tambang batu bara.

Di kawasan hulu, lubang-lubang bekas tambang itu menjadi penyebab kematian anak-anak. Di Kaltim saja, ujar Dadan, praktik bisnis batu bara yang di Kaltim telah menewaskan sedikitnya 32 anak.

“Lubang-lubang beracun dibiarkan tanpa diperbaiki. Kita juga tidak pernah mendengar baik Capres Jokowi maupun Capres Prabowo bicara soal bencana mengerikan di halaman rumah anak-anak bangsa ini,” ungkap Dadan.

AYO BACA : Pembangunan di Jabar Masih Abaikan Kelestarian Lingkungan Hidup

Sementara di hilir, bisnis batu bara dinilai telah mendorong eskalasi fenomena kemiskinan masyarakat. Pasalnya, puluhan ribu nelayan dan petani terutama di pesisir utara Jabar semakin berkurang pendapatannya karena laut dan daerah pesisir tempat mereka mencari ikan dan bertani rusak oleh operasional PLTU. 

Dijelaskan pula saat ini sejumlah daerah terdampak PLTU Batubara mulai menggugat kebijakan energi nasional. Di antara masyarakat yang menggugat adalah mereka yang tinggal di sekitar PLTU Batang, PLTU Cirebon, PLTU Celukan Bawang (Bali), PLTU Indramayu, PLTU Pelabuhan Ratu. Pesan yang disampaikan dalam penolakan tersebut cukup jelas, yakni PLTU telah merusak sumber mata pencaharian mereka. 

Lebih lanjut Dadan menjelaskan, Jokowi dan Prabowo seharusnya memberi harapan bahwa Indonesia mampu meninggalkan batu bara dan beralih memanfaatkan energi bersih terbarukan menjadi sumber utama energi Indonesia. Karena fakta lainnya, PLTU Batubara kini menjadi penyebab kematian dini 6.500 jiwa per tahunnya.

Laporan terbaru #coalruption, menyebutkan, ada hubungan antara bisnis tambang batu bara dengan pendanaan politik di tingkat daerah dan nasional terutama pilpres. Jika kedua capres tidak ingin dihubungkan dengan bisnis ini, Dadan menilai, masing-masing paslon harus berani bicara tentang pemanfaatan energi terbarukan sebagai tumpuan energi nasional yang baru.

“Tren global adalah mengganti batu bara dengan energi terbarukan. Dan Indonesia dengan kekayaan energi surya dan sumber energi terbarukan lainnya, bisa membawa bangsa ini lebih baik dan menjadi pemimpin global. Pertanyaannya adalah, apakah Capres Jokowi dan Capres Prabowo akan membawa bangsa ini ke energi bersih dan ikut tren global atau masih ingin berkubang pada energi kotor. Mereka harus jawab ini,” tutupnya.

AYO BACA : Mencari Solusi Pemenuhan Kebutuhan Energi di Indonesia

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar