Yamaha Aerox

Pesantren Sebagai Inkubator Revolusi Mental Generasi Muda

  Rabu, 06 Februari 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi Pondok Pesantren. (Pixabay)

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua dengan sistem yang khas di Indonesia. Pesantren dikenal sebagai lembaga yang melatih para santri untuk disiplin dari segi waktu. Berlatih hidup prihatin, sederhana, dan mandiri.

Di pesantren, selain memperdalam ilmu agama, santri juga diajarkan berdagang, belajar melakukan transaksi jual beli dengan pembeli, cara menghasilkan uang seperti yang dilakukan Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul, menanam pohon dalam upaya penghijauan, mengurangi polusi udara juga mengurangi risiko banjir dan tanah longsor, belajar memasak sendiri, mengisi perut dengan jerih payah sendiri.

Semua pembelajaran di pesantren melatih fisik dan mental santri. Fisiknya diuji dengan sedikit tidur karena padatnya kegiatan.

Model pendidikan ini rasanya tepat untuk menjadi metode mendidik mental generasi muda bangsa. Generasi muda bangsa yang bermental bagus merupakan investasi berharga bagi bangsa ini.

AYO BACA : Kasus Haringga, Keluarga Terdakwa Minta Anaknya Dititipkan di Pondok Pesantren

Saat ini, tidak sedikit orang tua yang memiliki pandangan berbeda mengenai pesantren. Pesantren dipandang sebagai tempat mereparasi akhlak anak yang buruk. Jadi, kalau orang tua memiliki anak yang susah diatur, “Masukkan saja ke pesantren”.

Jarang di antara orang tua memasukkan anaknya ke pesantren karena menginginkan anaknya menjadi ulama besar, memiliki ilmu agama yang cukup, dan sebagainya.

Bahkan, beberapa oknum pendiri pesantren membuat pesantren bercitra buruk dengan mendirikan pesantren sebagai sarang teroris. Karenanya, opini publik terarah dengan asumsi yang lahir di masyarakat. Pesantren berikut ajarannya, telah dipersepsi sebagai sarang penjahat yang mengajarkan kekerasan dengan mengatasnamakan agama.

Padahal di pesantren, santri dilatih untuk bisa menjadi pemimpin, pemimpin dalam doa, imam salat, dan memimpin pengajian.

AYO BACA : Kreatif, Cara Unik Santri Manbaul Huda di Hari Tanpa Bayangan

Tak hanya itu, Pesantren kini memadukan ilmu agama dengan ilmu umum yang dipelajari oleh siswa di luar pesantren. Pesantren berbasis integrasi ilmu, demikian istilahnya. karenanya, begitu lulus dari pesantren, seorang santri tidak hanya pandai ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu-ilmu umum. Dengan begitu, jika dia menjadi pemimpin, dia akan menjadi pemimpin yang banyak membawa maslahat bagi rakyatnya.

Orang muslim pada zaman dulu adalah orang-orang yang ahli dalam segala bidang ilmu. Ibnu Sina adalah seorang muslim yang ahli dalam bidang kedokteran. Salah satu karyanya menjadi rujukan para dokter di Eropa.

Sebenarnya, pesantren memiliki peluang untuk menciptakan generasi seperti tokoh-tokoh Islam tersebut. Karenanya, para orang tua dan generasi muda, jangan takut tidak memiliki masa depan gemilang gara-gara masuk pesantren. Karena dengan masuk pesantren, generasi muda akan dilatih kepemimpinan, kemandirian, sekaligus ilmu agama. Hal-hal itulah yang akan bisa mengubah mentalitas kita.

Riki Baehaki

Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung

AYO BACA : Jokowi Bakal Percepat Penetapan RUU Pesantren

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar