Yamaha Aerox

Melihat dari Dekat Kuil Xietian Gong

  Rabu, 06 Februari 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Kuil Xietian Gong di Jalan Kelenteng Bandung. (Djoko Subinarto)

Jejak-jejak sejarah pecinan masa lalu di Kota Kembang Bandung masih bisa dilihat dengan jelas hingga kiwari. Selain adanya bangunan toko serta rumah dengan gaya arsitektur Tionghoa, salah satu bukti peninggalan sejarah pecinan masa silam di kota berjuluk Parijs van Java ini adalah adanya rumah ibadah berupa kelenteng. Salah satunya adalah Kelenteng Satya Budhi.

Awalnya, kelenteng ini bernama Kuil Xietian Gong, berdiri sejak tahun 1865 dan merupakan tempat tinggal seorang kapiten Tionghoa bernama Tan Yun Liong. Barulah pada tanggal 15 Juni tahun 1885, bangunan tempat tinggal ini dijadikan sebuah kelenteng.

Kelenteng Satya Budhi berada di Jalan Kelenteng, Bandung. Di masa kolonial Belanda, jalan ini bernama Chineese Kerk Weg. Setidaknya ada dua jalan masuk untuk mencapai lokasi kelenteng. Pertama, Anda bisa masuk dari arah utara, yaitu dari Jalan Kebon Jati. Kedua, dari arah selatan yakni dari Jalan Jenderal Sudirman.

Jika masuk dari Jalan Kebon Jati, Kelenteng Satya Budhi berada di sisi kanan Anda. Sebaliknya, kalau Anda masuk dari Jalan Jenderal Sudirman, posisi kelenteng berada di sisi kiri Anda. Lokasi kelentengnya sendiri tidak menghadap persis ke Jalan Kelenteng, melainkan agak menjorok ke dalam, menghadap ke arah selatan.

AYO BACA : Tiga Resep Olahan Kue Keranjang yang Dapat Dicoba di Rumah

Sekiranya Anda sudah berada di Jalan Kelenteng, namun masih bingung ihwal keberadaan Kelenteng Satya Budhi, Anda cukup bertanya kepada sejumlah pedagang maupun tukang becak yang mangkal di sekitar Jalan Kelenteng. Dengan senang hati mereka bakal menuduhkan lokasinya kepada Anda.

Mendadak ramai

Suasana kelenteng yang relatif sunyi sepi di hari-hari biasa mendadak ramai tatkala hari Imlek tiba. Kalau Anda menyepatkan dolan-dolan ke kelenteng ini pas di waktu Imlek, nuansa kental Imlek niscaya Anda dapatkan di sini. Lampion bergelantungan. Dupa yang mengepul, aroma hio yang menyengat berbaur dengan hilir mudiknya mereka yang hendak bersembahyang.

Di dalam kelenteng yang didominasi warna merah, orang-orang khusyu memanjatkan doa. Sejumlah arca—antara lain arca Panglima Perang Kwan Yu dan Dewi Kwan Im—serta sajian aneka bunga dan buah-buahan segar terlihat di atas altar. Lilin merah berbagai ukuran menyala di ruang tengah dan halaman belakang kelenteng.

AYO BACA : Aksi Barongsai LED Ramaikan Imlek di Bandung

Pemandangan lain terlihat di gerbang depan kelenteng: para peminta sedekah—dari yang tua hingga belia, dari yang terlihat rapi hingga yang terlihat kucel–tampak bergerombol menanti sedekah dari pengunjung kelenteng. Tidak jarang mereka harus saling dorong dan saling sikut ketika sejumlah pengunjung kelenteng yang dermawan membagi-bagikan uang.

Sementara itu, tidak jauh dari lokasi kelenteng, di sisi sebelah timur, tak jauh dari pintu gerbang, sejumlah pedagang memajang dan menawarkan dagangannya berupa segala pernak-pernik yang ada kaitannya dengan perayaan Imlek.

Ritual sembahyang saat Imlek lazimnya diawali dengan menyalakan dupa. Setelah itu, berdoa di halaman depan kelenteng. Kemudian, masuk ke ruang utama kelenteng dan berdoa kembali di depan altar utama dan dilanjutkan dengan berdoa di ruang barat dan ruang timur kelenteng.

Beres melaksanakan ritual sembahyang di kelenteng, sebagian warga Tionghoa melaksanakan salah satu tradisi Imlek, yaitu melepaskan sejumlah burung pipit. Tujuan utamanya yaitu untuk berbuat baik kepada makhluk lain dan untuk keberkahan hidup.

Meski sempat dipugar pada tahun 1958 dan 1985, hingga sekarang arsitektur asli kelenteng ini masih tetap utuh. Warga masyarakat Tionghoa, yang masih memegang tradisi budaya leluhur mereka, kerap datang ke Kelenteng Satya Budhi untuk melakukan ritual ibadah.

Djoko Subinarto

AYO BACA : Tips Cegah Berat Badan Naik Usai Imlek

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar