Yamaha NMax

Membaca Pemenang Pilpres 2019

  Selasa, 05 Februari 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi pilpres. (Attia/ayobandung)

Siapa pemenang Pilpres 2019? Dialah yang tidak selalu mendewakan citra. Di era digital yang segala sesuatunya mudah dibuat dan serta cepat, tetapi orang akan semakin sadar mana asli dan mana palsu. Mana kerja hasil citra dan mana kerja tanpa citra. Jadi, kalau sekarang senantiasa menciptakan citra, tunggulah kekalahannya.

Kenapa citra menjadi sumber kekalahan? Harus diakui bahwa sejak zaman reformasi rupanya panggung politik senantiasa dihiasi dengan berbagai praktik citra para kontestan politik. Mulai dari para calon pemimpin lokal sampai nasional, dari calon legislatif daerah sampai pusat. Semuanya berlomba-lomba menghiasi diri agar kelihatan sempurna dan layak dipilih.

Politik pencitraan akan hilang ketika rezim Jokowi dengan slogan kabinet kerja, tapi nyatanya susah dan berat untuk menghilangkan politik pencitraan. Sebenarnya sudah ada niatan untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang layak dan pantas dipilih rakyat. Semangat kerja yang diusung menjadi prinsip setiap pemimpin menjadi sirna karena ada keinginan dilihat orang lain sebagai orang yang sempurna dan tidak ada sedikit pun cacat.

AYO BACA : Jawara Sebut Debat Pilpres Tak Lebih Baik dari Debat RT

Tidak disadari oleh para kontestan, tidak ada manusia yang sempurna dalam hidupnya. Untuk pemimpin pun tidak ada yang lebih baik dan lebih bagus segala sesuatunya dibanding dari pemimpin sebelumnya. Karena orang itu dicipta dengan kelebihan dan kekurangannya agar bisa saling berinteraksi, saling membutuhkan, dan membantu.

Para politisi dan calon pemimpin ini memaksakan diri untuk meraih gelar dan title sempurna di mata orang sehingga kekurangan dan kelemahannya yang menjadi perusaknya diubah dan dimanipulasi. Tidak heran kalau nanti terpilih tambalan kekurangan dan kelemahannya ini lama-kelamaan rapuh memudar dan kelihatan aslinya. Ketika orang tahu akan aslinya seperti apa, orang akan kecewa dan marah. Tidak jauh berbeda dengan membeli sebuah produk yang dikemas bagus namun aslinya jelek sehingga tidak bisa tahan lama. Ketika orang tahu ditipu, orang akan marah dan tidak lagi membeli produk tersebut.

Upaya pencitraan yang awalnya ingin mendatangkan keuntungan, ketika orang tahu aslinya seperti apa, modal besar yang dikeluarkan untuk pencitraan menjadi boomerang dan kekuasaan yang didapatkannya tidak akan tahan lama. Kalau sudah tidak percaya atau hilang kepercayaan dari pembeli atau konstituen, susah untuk mengembalikannya.

AYO BACA : Jelang Pilpres, DKM Diminta Dinginkan Suasana

Pada perhelatan Pilpres 2019, rupaya politik pencitraan sudah tidak lagi laku di pasar. Pasalnya rakyat sudah mulai terbiasa melihat dengan bukti nyata dari kinerja pemimpin. Beberapa Pilkada kemarin memberikan bukti bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil mempertahankan takhta dan merebut kekuasaan adalah pemimpin yang tidak biasa dengan pencitraan. Namun, kebanyakan pemimpin yang memang memiliki budaya kerja yang baik dibanding para pesaingnya. Bagaimana pun rakyat menilai dan merasakan siapa yang bekerja dan siapa yang tidak bekerja. Meskipun sederet penghargaan dan prestasi yang diraih dipublikasikan dan dipampang di berbagai tempat yang strategis, rakyat tetap bisa melihat dengan jelas dan menilai siapa yang sekadar pencitraan, dan siapa yang benar-benar murni telah menjalankan amanahnya dengan baik.

Dibanding dengan berbagai upaya yang menggunakan ongkos citra tidak sedikit, akan lebih pantas jiga ongkos itu digunakan untuk berkontribusi pada pembangunan dan membiayai amanah yang diembannya. Orang akan melihat siapa yang bekerja dan hanya sebatas lip service dan fatamorgana yang tampak dari kejauhan, dan tidak ada apa apanya kalau dari dekat.

Politik pencitraan merupakan strategi politik lama yang sudah saatnya ditinggalkan diganti dengan strategi baru. Kerja dengan cepat dan tuntas. Kalau kerja membuat citra sama dengan terus berupaya melestarikan hoaks, yaitu memublikasikan sesuatu yang tidak ada atau nampak alias bohong.

Masyarakat sudah kesal dengan citra. Peningkatan jumlah golput dalam setiap pesta demokrasi, salah satunya adalah kecewa dengan tampilan pemimpin yang dipilihnya dengan banyak pencitraan. Sekarang ini kepercayaan rakyat begitu mahal dan susah untuk mendapatkannya. Daripada bersusah payah dengan menggelontarkan dana besar untuk membuat dan membeli citra, sebaiknya berjuang secara riil dan jantan. Berjuanglah dengan sepenuh hati, tulus, dan ikhlas insyallah kita akan mendapatkan citra positif. Bukan sebaliknya berjuang dengan banyak banyak bumbu citra.

Encep Dulwahab

Dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

AYO BACA : DPMD Ingatkan Kades Tidak Terlibat Kampanye Pileg dan Pilpres

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar