Yamaha Mio S

Kanker Serviks Jadi Kanker Mematikan Keempat bagi Perempuan

  Senin, 04 Februari 2019   Fira Nursyabani
Ilustrasi vaksin.

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Angka terbaru dari Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, 310 ribu perempuan di dunia meninggal dunia setiap tahunnya karena kanker serviks. Sebagian besar kematian terjadi di negara-negara miskin, yang tingkat imunisasinya rendah terhadap human papillomavirus (HPV) yang menjadi penyebabnya.

Selain itu, tercatat juga ada 570 ribu kasus baru dari kanker tersebut pada 2018. Data-data itu membuat kanker serviks menjadi kanker paling mematikan keempat bagi perempuan secara global. 

Vaksin yang diberikan kepada anak perempuan untuk melindungi mereka dari virus yang menyebabkan kanker serviks adalah hal yang kritis dan aksesnya harus ditingkatkan secepat mungkin, terutama di negara-negara yang lebih miskin, kata Direktur IARC, Elisabete Weiderpass, di London, Inggris, dalam sebuah pernyataan, Senin (4/2/2019), dikutip ABS-CBN.

Ia mengungkapkan, di negara-negara kaya, beberapa aktivis anti-vaksin telah banyak membujuk para orang tua untuk menolak suntikan bagi anak-anak mereka. Hal itu akan membahayakan anak-anak, terutama perempuan.

Rumor yang tidak berdasar tentang vaksin HPV terus menghambat peningkatan vaksinasi, ungkap Weiderpass.

Dia mengatakan, IARC berkomitmen untuk memerangi kanker serviks dan dengan tegas menjamin kemanjuran dan keamanan dari vaksin HPV. Perusahaan farmasi GlaxoSmithKline (GSK) yang berbasis di Inggris dilaporkan telah membuat vaksin anti-HPV yang disebut Cervarix, yang menargetkan dua jenis virus. Sementara Merck membuat vaksin Gardasil, yang menargetkan empat jenis virus.

Dalam sebuah pernyataan terpisah yang ditujukan kepada WHO pekan lalu, perusahaan swasta Gavi, the Vaccine Alliance juga mendesak dukungan yang lebih besar untuk vaksin anti-HPV. Gavi menargetkan imunisasi 40 juta anak perempuan di negara-negara miskin pada 2020.

“Ini akan mencegah sekitar 900 ribu kematian”, kata GAVI.

IARC menambahkan, mengurangi biaya vaksin di negara-negara miskin akan memainkan peran penting dalam meningkatkan aksesnya. Badan itu saat ini sedang bekerja sama dengan produsen obat generik Serum Institute of India untuk mengembangkan suntikan HPV yang berkualitas tinggi dengan biaya yang lebih rendah. (Wildan Aulia Nugraha).

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar