Yamaha Mio S

Mitologi di Balik Atraksi Barongsai

  Senin, 04 Februari 2019   Andres Fatubun
Atraksi barongsai. (Djoko Subinarto)

Sejak dicabutnya Inpres Nomor 14 Tahun 1967, Imlek menjadi perayaan terbuka di Indonesia. Seni budaya yang terkait dengan perayaan Imlek, seperti pertunjukan seni barongsai dan liong, dapat dinikmati oleh publik secara bebas dan terbuka di negeri ini.

Kini, dalam berbagai acara dan kesempatan, atraksi barongsai kerap pula ditampilkan. Di beberapa kota di Indonesia, rutin digelarfestival seni barongsai, baik yang berskala lokal maupun nasional.

Sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional Tiongkok, seni barongsai, tentu saja, tidak akan terlepas dari mitologi yang erat kaitannya dengan tradisi dan budaya Tiongkok.

Menurut sementara sinolog (pakar dalam masalah ketiongkokan), terdapat beberapa kisah yang hingga sekarang ini sering dipertalikan dengan asal-muasal lahirnya seni barongsai.

Salah satu kisah menyebutkan bahwa di masa lalu di kekaisaran Tiongkok sempat muncul sesosok makhluk aneh yang menyeramkan. Makhluk ini senang sekali memangsa hewan ternak serta manusia. Dalam bahasa Han (Hanyu), makhluk aneh yang menyeramkan ini disebut sebagai nian. Orang-orang berupaya mengusir makhluk aneh ini. Mereka mencoba meminta bantuan harimau dan rubah untuk menaklukkan sang makhluk aneh tersebut. Namun, kedua hewan ini -- harimau dan rubah -- tidak sanggup menaklukkan sang makhluk aneh.

Orang-orang pun kemudian meminta bantuan singa. Singa menyanggupi dan kemudian berkelahi dengan si makhluk aneh. Dalam perkelahian itu singa berhasil melukai makhluk aneh tersebut sehingga membuatnya lari terbirit-birit. Sambil berlari, si makhluk aneh mengancam bahwa dirinya suatu saat akan kembali untuk membalas dendam.

Persis setahun kemudian, sang makhuk aneh memenuhi ancamannya dan kembali lagi. Orang-orang menjadi sibuk dan cemas. Mereka sekali lagi meminta bantuan singa untuk mengusir makhluk aneh itu. Namun, singa menolak untuk membantu karena ia sedang ditugasi menjaga pintu istana Kaisar Tiongkok.

Akhirnya, sejumlah orang berinisiatif untuk mendadani diri mereka seperti seekor singa sekaligus menirukan gerakan-gerakan seekor singa. Ternyata, sang makhluk aneh itu ketakutan dan kemudian melarikan diri.

Kisah lainmenyebutkan bahwa pada masa Dinasti Ming, Kaisar Tiongkok mendapat bingkisan dari seorang utusan bangsa Barat yang datang ke Tiongkok. Bingkisan itu berupa seekor anak singa dan seekor anjing pudel. Kaisar sangat menyayangi kedua binatang pemberian itu, sehingga tatkala kedua binatang itu mati sang kaisar tidak bisa begitu saja melupakannya.

Kaisar lantas memberikan perintah kepada salah seorang menterinya untuk menciptakan tarian yang sedikit banyak meniru gerak-gerik singa dan anjing pudel tersebut. Nah, sejak itulah muncul seni tari singa dan anjing pudel yang menjadi cikal bakal lahirnya seni barongsai.

Sejauh ini, terdapat dua versi seni barongsai. Pertama, seni barongsai Tiongkok Utara dan kedua, seni barongsai Tiongkok Selatan. Pada seni barongsai Tiongkok Utara, badan singa dipenuhi bulu-bulu lebat dan wajah singa yang ditampilkan memang benar-benar mendekati wajah singa yang sesungguhnya. Barongsai biasanya menari berpasangan.

Pada barongsai Tiongkok Selatan, wajah singa yang ditampilkan sama sekali tidak mirip dengan wajah singa sesungguhnya. Barongsai menari tidak berpasangan, melainkan sendiri-sendiri.

Dalam soal musik yang mengiringi barongsai pun terdapat perbedaan antara barongsai Tiongkok Utara dan barongsai Tiongkok Selatan. Perbedaannya terletak pada struktur melodinya. Hanya saja, bagi orang awam perbedaan ini tidak akan kentara.

Pada perayaan Imlek, seni barongsai ini hampir tidak pernah ketinggalan untuk ditampilkan. Seni barongsai menjadi salah satu hiburan tersendiri. Di berbagai kota di Tiongkok dan juga kota-kota di luar Tiongkok, -- di mana Imlek dirayakan-- seni barongsai menjadi pertunjukan pembuka menjelang dan ketika Imlek berlangsung.

Ada sementara kalangan yang menilai bahwa seni barongsai ini erat kaitannya dengan penggunaan kekuataan-kekuatan magis tertentu. Penilaian ini tampaknya tidak berdasar. Menurut sejumlah praktisi barongsai, seni barongsai murni sepenuhnya bersandar pada kekuatan dan keterampilan fisik. Dengan demikian, siapa pun -- tanpa mengenal batas etnis serta keyakinan -- bisa mempraktikkan seni barongsai ini.

- Djoko Subinarto 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar