Yamaha Lexi

Berkat Radio Garden, Dunia di Ujung Telunjuk

  Sabtu, 02 Februari 2019   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi radio.(Pixabay)

Sangat tidak mudah untuk mendengarkan siaran radio dari negeri-negeri yang jauh. Siaran dari BBC London, Radio Australia, Suara Amerika, Radio Korea atau NHK Jepang siaran bahasa Indonesia , terkadang tak dapat ditangkap dengan sempurna. Apalagi siaran yang dipancarkan dari stasiun Radio Nordkapp di Norwegia, Radio Atlantida di Kepulauan Azores dan Sun City Radio di Portmore, Jamaica.

Kini, segala rintangan teknologi atau cuaca tidak lagi membuyarkan keinginan mendengarkan secara langsung siaran radio dari mana-mana. Bila mau mendengar siaran Radio Salam FM, Sukabumi tinggal tekan mouse. Bosan geser saja bola dunia ke Radio Kohala, Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. Bosan cari lagi ke Kanada. Mau dengar khotbah shalat Jumat di Sorong, Papua Barat cari Radio RRI 1 Sorong FM. Mudah, jelas terdengar dan cepat dalam hitungan detik.

Mengapa bisa begitu, padahal sampai pertengahan 2013 geser-menggeser mouse mencari stasiun radio, cuma angan-angan. Ketika itu kita menggunakan radio digital, itupun kurang memuaskan, walaupun sudah dianggap lebih canggih dari teknologi analog. 

Impian Terwujud

Semuanya bisa terjadi karena kehadiran Radio Garden yang mulai beroperasi tanggal 13 Desember 2016. Radio ini merupakan proyek bersama Netherlands Institute for Sound and Vision, Transnational Radio Knowledge Platform dan perguruan tinggi di Eropa seperti Universitas Martin-Luther, Universitas Sunderland, Universitas Metropolitan London, Universitas Kreutzfeld Kopenhagen, Universitas Aarhus, Denmark dan Universitas Utrecht, Belanda. Proyek ini dibiayai HERA (Humanities in the European Research Area).

Radio Garden dirancang perusahaan yang bernama Studio Moniker yang berbasis di Amsterdam serta Studio Puckey. Pada 2017, Moniker menyerahkan proyek ini ke studio Puckey yang dipimpin Jonathan Puckey.

Radio Garden merupakan portal online  yang mengkoneksikan lebih dari 9.000 stasiun radio di seluruh dunia. Sekalian stasiun itu mengirim datanya ke Radio Garden yang kemudian mengorganisir dan melalui satelit menyiarkannya ke seluruh dunia, tak diketahui nama satelitnya.

Kita tinggal memilih dan dalam hitungan detik dapat menangkap serta mendengarkan ceramah puasa Kang Hilman dari  Brian FM, Oamaru, Selandia Baru. Jadi prinsip kerjanya sama dengan siaran televisi, Cuma bedanya siaran televisi menampilkan gambar bergerak dan suara sekaligus, sedangkan radio hanya suara.

Cara Mencari Radio Garden

Ketik Radio Garden visit pada laman Google. Tak lama muncul kalimat Press play to start Radio Garden. Tekan tanda segitiga dalam lingkaran. Tak lama muncul bola dunia yang berputar dengan banyak titik hijau bercahaya. Di tengah bola dunia  terdapat kalimat sprouting live radio streams.

Kita mau pilih Sudarmanto Stream, Cilegon maka cari peta pulau Jawa dan perkirakan dimana kota Cilegon. Pencet titik hijau maka terdengar suara Tetty Kadi yang membawakan lagu Mimpi Sedih. Rindu dengan lagu-lagu India, mainkan tanda + atau – di sudut kiri lalu dapatkan peta India. Mudahkan!

Jika ingin mendengar siaran untuk meneguhkan iman, cari peta Saudi Arabia dan ada tiga titik hijau di situ. Hijau paling tengah adalah radio Al Qassim for Holy Qur’an yang dipancarkan dari kota Al Mithnab. Atau tekan titik hijau di sebelah kiri. Itulah stasiun Alharamyn Fot Sunnah, dari Madinah. Ada lagi Fujairah FM atau Zayed Quran yang dipancarkan dari Fujairah, Uni Emirat Arab. Dan masih banyak lagi.

Perbedaan waktu antara satu negara dengan negara lain atau satu kota dengan kota lain dapat kita manfaatkan. Misal, mendengar khutbah shalat Jumat dari RRI I Pro Sorong FM, karena waktu di sana dua jam lebih cepat dari Waktu Indonesia bagian Barat.

Teknologi informasi telah memungkinkan kita dalam sekejap mendengarkan siaran radio dari Kota Kinabalu, Malaysia. Kemudian diperjelas membuka YouTube untuk melihat situasi kota di ujung Kalimantan itu. Masih kurang, buka keterangan tentang Kinabalu di laman Google. Tiga hal tentang Kinabalu yakni melalui suara, gambar dan teks langsung diperoleh. Pengetahuan pun bertambah.

Rugilah bila teknologi informasi yang sudah di ujung jari telunjuk itu hanya dipakai buat hal-hal yang tak bermanfaat. Buang waktu dan bikin pegal mata bahkan mungkin meraup dosa.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar