Yamaha NMax

Meningkatkan Pelayanan Haji di Armina

  Sabtu, 02 Februari 2019   Adi Ginanjar Maulana
Kabah di Mekah.(Dok Nurin)

Penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia mengalami sejarah yang panjang dan berliku. Jika sebelumnya, pergi menunaikan ibadah haji adalah suatu perjalanan berbulan-bulan, berpayah dan lelah, belum ditambah dengan pengurusan perizinan yang rumit, pembayaran yang tidak sedikit, serta pengawasan yang ketat oleh Belanda.

Pada tahun 1948, setelah kemerdekaan, penyelenggaraan haji Indonesia resmi dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia, tidak lagi melalui birokrasi pemerintah kolonial Belanda dan pemenuhan kewajiban menggunakan kapal Belanda.

Pada tahun 1969, pemerintah mengambil alih penanganan penyelenggaraan haji berdasarkan Keputusan Presiden nomor  22 tahun 1969. Sepuluh tahun setelahnya yakni pada tahun 1979,

Menteri Perhubungan meniadakan pengangkutan jemaah dengan kapal laut dan menetapkan pesawat udara sebagai transpotasi satu-satunya menuju tanah suci.

Dua puluh tahun setelahnya, yakni pada tahun 1999 ditengarai sebagai tahun semakin meningkatnya kuota keberangkatan jemaah haji menyusul ditetapkannya Undang-undang No 17 Tahun 1999 mengenai pengaturan penyelenggaraan ibadah haji, termasuk perlindungan, pelayanan dan pembinaan jemaah haji.

Tahun-tahun belakangan, kita menyaksikan penyelenggaraan dan pelayanan haji reguler Indonesia semakin baik. Tidak ada lagi cerita repotnya memasak selama di tanah suci, karena katering makan telah disediakan oleh PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) dan jemaah dijamin tidak kesulitan memikirkan urusan perut.

Tidak ada lagi cerita tentang penginapan yang tidak layak sebab umumnya jemaah haji akan ditempatkan di hotel yang bagus dan nyaman, fasilitas bus dan transportasi selama di tanah suci juga tersedia.

Petugas kesehatan bekerja siang dan malam. Bahkan, beberapa kali, saya menyaksikan sendiri, petugas kesehatan berkeliling mengetuk setiap pintu kamar jemaah dan memeriksa kondisi kesehatan.

Umumnya, berdasarkan pengalaman pribadi saya berkesempatan memenuhi panggilan Allah untuk berhaji di tahun 2018 lalu, alhamdulillah jemaah haji Indonesia dimanjakan dengan berbagai fasilitas layanan yang memudahkan.

Namun, peningkatan pelayanan juga bukan berarti segala sesuatu lantas menjadi lebih mudah dan praktis. Menjadi lebih baik dari sebelumnya itu yang pasti. Satu hal yang tentu sangat membekas dari perjalanan haji ini buat saya, adalah pengalaman selama prosesi haji dilaksanakan. Terutama masa-masa puncak di Armina (Arafah, Musdalifah dan Mina).

Selama di Armina, fasilitas dan layanan tidak semudah dan ‘semewah’ saat di Mekah-Madinah. Tingkat kesabaran kita diuji, ketersediaan tenda terbatas, jemaah harus mau bersabar berhimpit-himpitan dan bersesak dengan jemaah lainnya.

Mau ke toilet juga harus mengantri karena ketersediaan toilet pun terbatas, harus kuat berpanas-panas dengan suhu di atas 40 derajat saat mengantri di luar, pendingin udara juga tidak bisa diatur sesuka hati, belum lagi tentang kebersihan sekitar area tenda, serta pelayanan katering dengan lauk pauk sederhana.

Mengukur Pelayanan Haji di Armina

Sejak tahun 2010, Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, melakukan pengukuran Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) untuk mengetahui tingkat kepuasan jemaah haji terhadap pelayanan yang diberikan oleh PPIH Arab Saudi serta merangkum  saran dan masukan jemaah untuk perbaikan penyelenggaraan ibadah haji yang akan datang.

Pada tahun 2018, IKJHI yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (22/11) menunjukkan angka 85,23 poin yakni sangat memuaskan. Jika ditilik menurut pelayanan, hampir semua pelayanan jemaah haji non Armina sangat memuaskan. Sementara justru pelayanan jemaah haji pada puncak prosesi ibadah haji di Armina hanya sampai pada tingkat kepuasan ‘memuaskan’.

Penilaian pelayanan jemaah haji non Armina, dinilai ‘sangat memuaskan’ pada Pelayanan Transportasi Bus Antar Kota dengan nilai 88,25 poin, diikuti oleh Pelayanan Petugas 87,69 poin, Tranportasi Bus Salawat 87,65 poin, Pelayanan Ibadah 87,12 poin, Pelayanan Katering Non Armina 86,91 poin, Hotel 86,02 poin dan Lain-lain 85,61 poin.

Sementara pelayanan jemaah haji Armina setingkat lebih rendah yakni berada pada kategori ‘memuaskan’ dengan pencapaian nilai Katering berada pada angka 84,38 poin, transportasi Bus Armina 81,09 poin, dan paling rendah adalah Pelayanan Tenda hanya 77,59 poin. Indeks Pelayanan Armina yang relatif jauh lebih rendah ini ditengarai karena sebagian besar pelayanan jemaah haji ditangani langsung oleh Pemerintah Arab Saudi.

Pelayanan tenda di Armina menduduki posisi paling rendah dalam hal Indeks Kepuasan Pelayanan Armina. Terdapat delapan dari dua belas komponen pelayanan tenda dengan nilai indeks di antara 75,00 dan 85,00 atau telah mencapai kriteria ‘memuaskan’, sementara empat sisanya memiliki nilai indeks satu tingkat lebih rendah yakni berada di antara 65,00 dan 75,00 atau hanya memiliki kriteria ‘memenuhi standar’.

Keempat nilai indeks ini yakni ketidaksesuaian kapasitas tenda dengan jumlah jemaah, minimnya kelengkapan fasilitas di tenda dan keberfungsian fasilitas dan alat di tenda diyakini sebagai penyebab rendahnya nilai Indeks Kepuasan Tenda Armina.

Layanan Transportasi bus Armina pada tahun 2018 sebesar 81,09 poin, merupakan Indeks Kepuasan terendah kedua setelah Pelayanan Tenda.

Layanan transportasi yang dimaksudkan di sini adalah layanan bus yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi untuk mengantar jemaah dari hotel di Mekah ke Arafah, dilanjutkan keesokan harinya, dari Arafah menuju Muzdalifah dan Muzdalifah ke Mina.

Ketersediaan armada bus yang melayani jemaah haji, ketepatan waktu kedatangan bus dan kenyamanan selama menggunakan bus merupakan tiga jenis pelayanan bus Armina dengan tingkat kepuasan terendah.

Sementara itu, Pelayanan Katering selama di Armina mendapatkan nilai kepuasan sebesar 84,38, yang juga merupakan indeks kepuasan terendah ketiga.

Angka terendah dan bahkan mengalami penurunan 9,51 poin dibandingkan tahun 2017 menjadi 74,55 adalah pada kesesuaian cita rasa makanan dan minuman Indonesia, dan variasi makanan yang diberikan mengalami penurunan sebesar 8,86 poin di banding tahun 2017 menjadi 75,26.

Hasil survei ini kemudian dapat menjadi landasan perbaikan ke depan bagi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia untuk meningkatkan pelayanan di Armina dan membenahi apa-apa yang kurang.

Armina adalah puncak prosesi haji yang menentukan. Sudah selayaknya standar pelayanan di Arafah dioptimalkan dan diperbaiki baik dari segi kualitas layanan fisik maupun operasional.

Sementara dari sisi jemaah, perlu peningkatan kesadaran dalam hal menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya, tertib dalam budaya antri dan menata hati dalam bingkai kesabaran.

Alangkah baik jika saat manasik, penekanan kondisi Armina berikut gambaran suasana tenda, tempat buang hajat, makanan dan sekitarnya disampaikan secara terbuka kepada calon jemaah haji, sebagai perbekalan pengetahuan. Penting juga untuk menumbuhkan sikap sadar kebersihan sejak dini. Dimaklumi, budaya kebersihan kita memang relatif masih kurang.

Semoga dengan pembenahan dan peningkatan pelayanan yang terus menerus di Armina, seluruh jemaah dapat melaksanakan prosesi haji dengan khusyuk dan nyaman.

Nurin Ainistikmalia, SST

ASN Badan Pusat Statistik.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar