Yamaha Lexi

Sam Po Kong, Jejak Peninggalan Cheng Ho di Tanah Jawa

  Jumat, 01 Februari 2019   M. Naufal Hafiz
Kelenteng Sam Po Kong, Semarang. (Djoko Subinarto)

Adanya sejumlah kelenteng kuno di beberapa kota di Indonesia menjadi salah satu bukti keberadaan kawasan pecinan, yang tidak bisa dilepaskan dari proses kedatangan bangsa Tionghoa ke bumi Nusantara di masa silam.

Salah satu kelenteng tua dan monumental yang merupakan peninggalan sejarah pecinan masa silam adalah Kelenteng Sam Po Kong yang berlokasi di kawasan Gedung Batu, Simongan, Semarang, Jawa Tengah.

Kelenteng Sam Po Kong ini merupakan bekas tempat peristirahatan seorang Laksamana Tionghoa beragama Islam, Cheng Ho.

Sam Po Kong yang terdiri dari tiga kata ini memiliki makna. Sam berarti tiga, Po berarti kebaikan, dan Kong bermakna sebagai leluhur atau orang yang dituakan. Jadi, Sam Po Kong secara harfiah bisa berarti Tiga Kebaikan Leluhur.

Sejumlah tulisan menyebutkan bahwa Laksamana Cheng Ho pernah dua kali datang ke Nusantara. Pertama, tahun 1405, kedua tahun 1416.

Nah, pada kunjungannya yang kedua, saat berada di daerah Simongan, Semarang, armadanya mendapat musibah. Beberapa awak kapalnya mengalami sakit parah. Cheng Ho pun memutuskan tidak melanjutkan pelayarannya dan memilih bermukim sementara di kawasan Simongan sambil mengobati awak kapalnya yang sakit.

AYO BACA : Cicip Sajian Khas Kopi Kelenteng di Wisata Pecinan

Saat sedang bermukim di kawasan Simongan inilah Cheng Ho secara tidak sengaja menemukan sebuah gua batu yang kemudian dijadikan tempat istirahat pribadi dan bersemedi.

Setelah bermukim beberapa waktu lamanya di Simongan, Cheng Ho pun meneruskan pelayarannya. Namun, beberapa awak kapalnya memilih tinggal permanen di Simongan dan memutuskan menikah dengan penduduk lokal.

Sementara kalangan berpendapat bahwa yang mendirikan kelenteng ini bukanlah Cheng Ho, tapi para warga keturunan dan penduduk lokal, sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas jasa-jasa Laksamana Cheng Ho. Kelenteng Sam Po Kong sendiri didirikan tahun 1724.

Arca dan beduk

Seperti kebanyakan kelenteng lainnya, warna merah mendominasi semua bangunan di Kompleks Kelenteng Sam Po Kong. Bangunan utama kelenteng Sam Po Kong merupakan bangunan yang paling besar. Di depan kelenteng, berdiri arca Laksamana Cheng Ho. Arca ini terbuat dari perunggu dengan tinggi 10 meter serta berat sekitar empat ton, dan merupakan arca terbesar di Asia Tenggara.

Di sebelah bangunan utama, terdapat beberapa bangunan kelenteng yang lebih kecil. Semua bangunan kelenteng di Kompleks Kelenteng Sam Po Kong memiliki arsitektur yang mirip gaya arsitektur Istana Terlarang di Tiongkok dengan ciri khas gaya atap yang bertumpuk tiga mengarah ke atas, yang melambangkan kelopak teratai.

AYO BACA : Kopi Kelenteng, Warkop di Tengah Kawasan Pecinan

Bagian dalam Kelenteng Sam Po Kong sendiri dibiarkan terbuka, tanpa dinding-dinding penyekat. Kita bisa masuk kelenteng dari arah depan, sisi kanan maupun kiri. Atap kelenteng bagian dalam dipenuhi oleh lampion. Selain sejumlah altar, di dalam kelenteng utama juga terdapat sebuah beduk.

Ada pun gua batu yang dulu biasa digunakan bersemedi Laksamana Cheng Ho, hingga kini masih bisa kita saksikan. Letaknya di bagian bawah depan bangunan utama Kelenteng Sam Po Kong.

Di bagian kanan gua ada sebuah sumur yang dulu airnya biasa digunakan oleh Cheng Ho untuk berwudu. Penulis sendiri hanya bisa menyaksikan bagian luar gua batu tersebut, karena pintu gua dalam keadaan terkunci. Sementara untuk mengambil gambar gua--bagian luarnya sekalipun--juga tidak diperkenankan.

Sementara itu, di bagian belakang bangunan utama Kelenteng Sam Po Kong, terdapat relief-relief yang mengisahkan berbagai hal tentang aktivitas pelayaran dan kunjungan Laksamana Cheng Ho ke kawasan Nusantara. Relief-relief tersebut disertai dengan deskripsi ringkas dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Meski umumnya kelenteng identik dengan warga Tionghoa dan penganut ajaran Tri Dharma (Budha, Kong Huchu, dan Tao), toh pengunjung dan peziarah yang datang ke Kelenteng Sam Po Kong tidak melulu warga Tionghoa dan para penganut ajaran Tri Dharma. Warga muslim juga banyak yang datang dan berziarah ke ke Sam Po Kong.

Tentu, ini bisa dipahami mengingat Laksamana Cheng Ho sendiri adalah seorang muslim. Sementara kalangan percaya bahwa bangunan utama Kelenteng Sam Po Kong dulunya adalah sebuah masjid.

Djoko Subinarto

AYO BACA : Misteri Makam Cheng Ho

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar