Yamaha Aerox

Gizi Seimbang Solusi Sehat

  Kamis, 31 Januari 2019   M. Naufal Hafizh
Ilustrasi makanan bergizi. (Pixabay)

Konferensi pangan sedunia yang diselenggarakan oleh organisasi pangan dunia (FAO) di Roma dan Genewa pada 1992 merupakan pertemuan yang sangat penting dalam membicarakan masalah gizi. Poin penting acara tersebut adalah menetapkan agar semua negara berkembang, yang semula menerapkan pedoman sejenis basic four seperti empat sehat lima sempurna, diperbaiki menjadi nutrition guide for balance diet.

Tiga tahun berselang, Indonesia merealisasikan implementasi rekomendasi konferensi tersebut.

Di Indonesia, prinsip tersebut dikenal dengan nama Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Menurut Permenkes RI No.41 tahun 2014, Pedoman Gizi Seimbang bertujuan untuk memberikan panduan konsumsi makanan sehari-hari dan berperilaku sehat berdasarkan prinsip konsumsi anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik, dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal. PGS diyakini akan mampu mengatasi beban ganda masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi.

Permasalahan gizi di Indonesia belum sepenuhnya terselesaikan. Namun, kerja keras dari pemerintah patut diapresiasi. Salah satu fokus pemerintah dalam implementasi PGS adalah status kekurangan gizi pada balita. Selama lima tahun terakhir, upaya perbaikan status gizi pada balita di Indonesia berbuah hasil. Proporsi status gizi buruk dan gizi kurang tahun 2013 (19,6%) turun pada 2018 (17,7%) (Kemenkes, 2018).

Penurunan proporsi status gizi buruk dan gizi kurang telah mendekati target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. RPJMN menargetkan prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita turun hingga mencapai 17 persen pada 2019. Hal ini sejalan dengan tujuan kedua Sustainable Development Goals/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs/TPB), yakni mengakhiri segala macam bentuk malnutrisi pada 2030.

AYO BACA : Akibat Gizi Buruk, Pemuda 19 Tahun Lumpuh

Momentum keberhasilan tersebut dan peringatan Hari Gizi Nasional (25 Januari 2019) ke-59 seharusnya menjadi spirit untuk selalu meningkatkan kualitas gizi pada balita maupun masyarakat. Perlu peran aktif dari masyarakat untuk mewujudkannya. Terutama orang tua dan masyarakat sekitar balita agar lebih tanggap dalam memberikan dan memantau asupan gizi yang diberikan. Balita sehat, ibu senang, keluarga bahagia.

Fokus terhadap status gizi balita dan permasalahan obesitas pada orang dewasa di Indonesia seakan terlupakan. Proporsi obesitas orang dewasa selalu meningkat dari 2007 (10,5%) hingga 2018 (21,8%). Masalah obesitas yang dialami Titi Wati, perempuan dari Kalimantan Tengah dengan bobot 350 kilogram menjadi salah satu bukti. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat mengingat RPJMN menargetkan prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas sebesar 15,4 persen pada 2019.

Permasalahan ini menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat dan lingkungan sekitar seyogyanya bersinergi guna membantu terlaksananya program PGS. Penerapan gizi seimbang akan berhasil jika diiringi oleh perilaku hidup bersih dan aktivitas fisik yang cukup.

Keberhasilan Kota Denpasar menempati urutan kesembilan sebagai kota tersehat di dunia (antaranews, 10/01/19) seharusnya menjadi renungan bagi semua pihak. Renungan kebanggaan sekaligus mencontoh apa yang telah dilakukan Kota Denpasar. Keberadaan sarana kebugaran, aktivitas fisik, serta menghadirkan toko jajanan dan restoran berlabel ”sehat” menjadi langkah nyata Kota Denpasar dalam mendukung program PGS.

Sarana kesehatan dan makanan sehat yang cukup banyak di Kota Denpasar menjadi ”teladan” bagi kota lain di Indonesia. Kemudahan akses memperoleh makanan sehat dan aktivitas fisik akan berdampak positif bagi perbaikan gizi di Indonesia. Dengan melihat keadaan seperti itu, perhatian terhadap gizi seimbang sudah selayaknya dilaksanakan secara menyeluruh, agar komitmen pemerintah untuk menyelesaikan masalah gizi bisa terwujud.

AYO BACA : Bandung Pisan: Inisiatif Warga Berantas Gizi Buruk Lewat Omaba Gedebage

Fakta yang terungkap dari dua kasus tersebut (kekurangan dan kelebihan gizi) mengindikasikan bahwa penerapan gizi seimbang yang dicanangkan 23 tahun silam belum terlaksana dengan baik. Secara umum, masih minimnya pengenalan PGS kepada masyarakat serta sedikitnya keberadaan tempat makanan ”sehat”, membuat masyarakat masih menggunakan pedoman lama (empat sehat lima sempurna). Perlu proses dan waktu untuk mengubah pola makan masyarakat untuk beradaptasi dengan pedoman baru (PGS).

Sementara itu, pemerintah sebaiknya dapat memastikan ketersediaan kebutuhan bahan makanan untuk menunjang program PGS. Selain itu, memastikan juga harga-harga kebutuhan tersebut dalam harga yang terjangkau dan tidak berubah. Produktivitas pangan lokal juga seharusnya dapat ditingkatkan guna memenuhi permintaan.

Namun, disadari bahwa untuk memperbaiki gizi masyarakat, khususnya balita, barangkali cukup sulit apabila hanya pemerintah yang berperan aktif. Sebaiknya hal ini bisa bekerja sama dengan pihak swasta. Setiap pelaku usaha diwajibkan untuk mendukung program PGS, dengan memberikan informasi dan edukasi.

Disadari atau tidak, pemberian gizi seimbang memiliki korelasi terhadap angka harapan hidup. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Jurnal kesehatan The Lancet tahun 2016, Singapura memiliki rata-rata harapan hidup selama 85,4 tahun. Sementara itu, Indonesia hanya antara 75-77,5 tahun. Kondisi ini sejalan dengan Studi Diet Total (SDT) 2014 yang dilakukan Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI.

Sayuran dan buah adalah dua bahan makanan yang menjadi bagian dari SDT. Rata-rata konsumsi sayuran dan olahannya, penduduk Indonesia (57,1 gram/orang/hari) jauh tertinggal dengan Singapura (228,2 gram/orang/hari). Sedangkan untuk konsumsi buah, penduduk Indonesia hanya 33,5 gram/orang/hari atau semakin jauh tertinggal dibanding Singapura (290,2 gram/orang/hari) (Kemenkes, 2014). Fakta ini seharusnya menjadi landasan untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah. Di dalam dua bahan makanan ini banyak terkandung nilai gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Sementara itu, sebagai negara muslim terbesar di dunia, alangkah bijaknya jika memiliki konten ”halal” dalam setiap makanan yang dikonsumsi. Kementerian Agama maupun lembaga keagamaan lainnya dapat mengambil peran dalam ranah tersebut. Ini sesuai dengan ajaran Islam yang mewajibkan manusia untuk mengonsumsi makanan halal dan baik (bergizi).

Bertepatan dengan Hari Gizi Nasional, sudah sepatutnya kita semua menyadari pentingnya asupan (gizi) untuk tubuh, khususnya balita. Langkah yang paling bijaksana adalah menyadari pentingnya gizi seimbang serta diiringi dengan aktivitas fisik yang cukup, sehingga menghadirkan hidup sehat. Hal ini sesuai dengan sub tema peringatan Hari Gizi Nasional ke-59 tahun 2019 ”Keluarga Sadar Gizi, Indonesia Sehat dan Produktif”.

Perdy Irmawan Prayitno Fungsional Statistisi, BPS

AYO BACA : Begini Langkah Pemkot Bandung Atasi Gizi Buruk

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar