Yamaha Aerox

Indonesiaku #10YearsChallenge

  Jumat, 01 Februari 2019   M. Naufal Hafizh
Ilustrasi. (Pixabay)

Di awal tahun 2019, netizen ramai-ramai membuat kreasi dengan tagar #10yearschallenge. Sudah hampir sebulanan ini, unggahan dan story netizen penuh dengan tagar tersebut. Tagar tersebut dilakukan untuk melihat perbandingan diri di tahun 2018 atau 2019 ini dengan 10 tahun yang lalu, bagaimana perubahan-perubahan diri kita, antara lain bentuk tubuh, wajah, dan kulit. Selain itu, dapat terlihat pula perbedaan cara berpakaian, makeup, aksesoris yang dikenakan saat ini dengan 10 tahun yang lalu. Instagram mencatat sebanyak lebih dari 2 juta konten terkait tagar itu diunggah oleh pengguna Indonesia.

Kondisi Indonesia dahulu dan kini

Lantas bagaimana kondisi Indonesia tercinta ini dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu? Tentu sangatlah berbeda dan mengalami banyak perubahan. Dari segi penduduknya saja sudah berubah. Penduduk Indonesia di tahun 2008 sebesar 228,52 juta jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 1,25 persen, sex ratio sebesar 100,24, jumlah kelahiran 4.296,2 ribu jiwa, dan kematian 1.450 ribu jiwa (Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025).

Penduduk Indonesia di tahun 2018 meningkat menjadi 264,16 juta jiwa, sex ratio menjadi 100,92, jumlah kelahiran sebesar 4.472,3 ribu jiwa dan kematian 1.563,8 ribu jiwa (Proyeksi Penduduk 2015-2045 Hasil SUPAS 2015). Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2017 sebesar 1,34 persen (Statistik Indonesia 2018).

Tentunya perilaku dan sikap penduduk sehari-hari akan berimbas terhadap alam sekitarnya. Alam akan mengalami perubahan seiring dengan perubahan waktu dan isi alamnya, termasuk penduduk, dan makhluk hidup lainnya. Peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun akan mengakibatkan berbagai perubahan pada alam, antara lain terhadap kondisi air, udara, tanah, dan sarana prasarana sehari-hari. Status kualitas air sungai di Indonesia pada tahun 2008 masih dikatakan baik, terdapat sebanyak 10 sungai yang dikategorikan belum tercemar dan 7 sungai dengan kategori cemar sedang (Statistik Indonesia 2010).

Sedangkan pada tahun 2017, kondisi sungai di Indonesia termasuk memprihatinkan. Tidak terdapat sungai dengan kategori tidak tercemar. Kategori cemar ringan hanya terdapat pada sungai di Provinsi Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, sedangkan yang lainnya termasuk cemar sedang hingga berat (Statistik Indonesia 2018).

Pemanfaatan air sungai dan saluran irigasi untuk minum/masak dan untuk mandi/cuci dari tahun 2008 hingga 2018 mengalami penurunan. Pada tahun 2008, sebanyak 12.260 desa/kelurahan memanfaatkan air sungai untuk minum/masak dan 36.636 desa/kelurahan untuk mandi/cuci. Pada tahun 2018, sebanyak 742 desa/kelurahan yang memanfaatkan saluran irigasi untuk minum/masak dan untuk mandi/cuci sebanyak 7.474 desa/kelurahan. Keluarga yang menggunakan sumur dan mata air untuk minum/masak pada tahun 2008 hingga tahun 2018 mengalami penurunan. Pada tahun 2018, sudah banyak keluarga yang menggunakan air isi ulang dan ledeng dengan meteran untuk minum/masak, besarnya masing-masing sebanyak 14.123 dan 8.281 desa/kelurahan (Statistik Potensi Desa 2008 dan 2018).

Hal tersebut sejalan dengan peningkatan persentase rumah tangga yang menggunakan sumber air minum bersih dari tahun 2008 hingga 2018, dari sebesar 55,07 persen menjadi 72,99 persen (Statistik Kesejahteraan Rakyat 2008 dan 2018).

AYO BACA : #10yearschallenge, Ridwan Kamil Merasa Mirip Afgan Syahreza

Sumber air minum bersih adalah sumber air minum yang terdiri dari air kemasan, air isi ulang, ledeng, dan sumur bor/pompa, sumur terlindung, serta mata air terlindung dengan jarak ke tempat pembuangan limbah/kotoran/tinja terdekat ≥ 10 meter.

Menurunnya pemanfaatan air sungai dan saluran irigasi untuk minum/masak dan mandi/cuci dari tahun 2008 hingga 2018 sejalan dengan data pencemaran lingkungan di Indonesia yang semakin meningkat dalam periode waktu itu.

Terdapat sebanyak 7.654 desa/kelurahan yang mengalami pencemaran air pada tahun 2008 dan meningkat di tahun 2018 menjadi 16.847 desa/kelurahan, yang mengalami pencemaran tanah sebanyak 1.110 desa/kelurahan menjadi 2.200 desa/kelurahan di tahun 2018, dan yang mengalami pencemaran udara sebanyak 6.325 desa/kelurahan menjadi 8.882 desa/kelurahan di tahun 2018.

Jika dilihat sumber pencemarannya, sumber pencemaran air dan tanah terbesar pada tahun 2008 berasal dari rumah tangga, sedangkan sumber pencemaran udara berasal dari pabrik.

Pada tahun 2018, sumber pencemaran tanah terbesar berasal dari rumah tangga dan sumber pencemaran air dan udara berasal dari pabrik (Statistik Potensi Desa 2008 dan 2018). Salah satu alasan terjadinya kondisi ini adalah keberadaan pabrik/industri manufaktur yang semakin menjamur di Indonesia. Jumlah perusahaan industri manufaktur/pengolahan di Indonesia pada tahun 2008 sebanyak 25.694 perusahaan (Perkembangan Indeks Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang 2008-2011), meningkat menjadi 30.991 perusahaan pada tahun 2017 (Direktori Industri Manufaktur 2017).

Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan dan terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Lempeng Indo-Australian, Eurasia, dan Lempeng Pasifik yang apabila bertemu dapat menghasilkan tumpukan energi yang dapat menimbulkan bencana gempa. Selain itu, Indonesia juga berada pada posisi Pasific Ring of Fire, merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia yang setiap saat dapat meletus dan menimbulkan bencana. Dengan kondisi seperti itu, Indonesia rawan gempa, tsunami, tanah longsor, gunung meletus, dan lain-lain.

Jenis bencana alam yang paling banyak terjadi pada tahun 2006-2008 adalah banjir, yaitu sebanyak 15.143 desa/kelurahan yang mengalaminya, tanah longsor sebanyak 7.558 desa/kelurahan, dan angin puyuh/puting beliung sebanyak 6.982 desa/kelurahan (Statistik Potensi Desa 2008). Sedangkan pada tahun 2016-2018, jenis bencana alam yang paling banyak terjadi adalah banjir, yaitu sebanyak 19.675 desa/kelurahan, tanah longsor sebanyak 10.246 desa/kelurahan, dan gempa bumi sebanyak 10.115 desa/kelurahan (Statistik Potensi Desa 2018).

Peningkatan jumlah penduduk akan berdampak pada perubahan luas lahan yang digunakan untuk pertanian karena lahannya banyak beralih fungsi menjadi permukiman atau fasilitas/sarana tertentu. Luas lahan sawah sebesar 8.014.833 ha (tahun 2008) menjadi 8.087.393 ha (tahun 2015) dan luas hutan lindung sebesar 31.551 ribu ha (tahun 2010) menjadi 29.680 ribu ha (tahun 2016). Persentase luas lahan sangat kritis di Indonesia tahun 2009 sebesar 8,85 persen, sedangkan tahun 2013 meningkat menjadi 19,49 persen (Statistik Indonesia 2010 dan 2018). Lahan kritis adalah lahan yang telah kehilangan penutupan vegetasinya sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sebagai penahan air, pengendali erosi, siklus hara, pengatur iklim mikro, dan retensi karbon.

AYO BACA : #10yearschallenge, Bupati Bogor Merasa Mirip Nissa Sabyan

Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Nasional pada tahun 2010 sebagai tahun dasar penghitungan PDB sebesar 6.864.133,10 miliar rupiah menjadi 9.912.749,3 miliar rupiah pada tahun 2017 dengan share terbesar tetap pada industri pengolahan (lebih dari 20 persen). PDB memang mengalami peningkatan, tetapi di satu sisi, hutang negara kita juga meningkat, dari 80 miliar rupiah lebih pada tahun 2008 menjadi 181 miliar rupiah pada Maret 2018 (Bank Indonesia). Laju pertumbuhan ekonomi dari tahun 2011 hingga 2017 mengalami penurunan, dari 6,17 persen (Pendapatan Nasional Indonesia Tahun 2010-2014) menjadi 5,07 persen (BPS).

Seiring bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, akan memunculkan berbagai masalah sosial dan gesekan di antara penduduknya. Jumlah desa/kelurahan yang mengalami perkelahian massal di tahun 2008 sebanyak 2.283 desa/kelurahan dan di tahun 2018 menjadi 3.147 desa/kelurahan. Tindak kejahatan terbanyak yang dialami warga pada tahun 2008 adalah pencurian, sebanyak 33.687 desa/kelurahan, penganiayaan/kekerasan 5.081 desa/kelurahan, dan penyalahgunaan narkoba sebanyak 4.546 desa/kelurahan. Sedangkan di tahun 2018, tindak kejahatan terbanyak yang dialami warga adalah pencurian sebanyak 37.778 desa/kelurahan, perjudian 12.842 desa/kelurahan, dan penyalahgunaan/pengedaran narkoba sebanyak 12.579 desa/kelurahan (Statistik Potensi Desa 2008 dan 2018).

Solusi dan Kesimpulan

Tentunya waktu 10 tahun ke belakang itu sudah terlewatkan sangat lama, tetapi penting untuk dilihat dan dijadikan pembelajaran bagi kehidupan ke depannya. Dalam rentang masa itu, banyak sekali perubahan yang terjadi. Penting untuk disimak mengenai program pengendalian penduduk Indonesia, salah satunya adalah Program KB dan peraturan pemerintah mengenai batasan usia kawin pertama perlu ditegakkan. Revitalisasi air sungai dan saluran irigasi melalui pembersihan sampah-sampah di sungai, saluran irigasi, dan sekitarnya, denda besar bagi yang membuang sampah sembarangan atau ke sungai, penyediaan tempat pembuangan sampah umum, dan penataan pemukiman kumuh di sekitar sungai.

Untuk mengurangi tingkat pencemaran air, tanah dan udara diperlukan pembenahan pembuangan akhir sampah dan kotoran rumah tangga jangan ke saluran irigasi atau sungai, peraturan pemerintah untuk izin pabrik harus dengan mekanisme penguraian limbahnya, jadi keluaran limbah dari pabrik itu sudah aman untuk dialirkan ke sungai atau irigasi.

Sistem mitigasi dan deteksi dini bencana alam perlu terus dilakukan dan dikonsistenkan, rambu-rambu peringatan bencana perlu dipasang di semua kawasan rawan bencana, sistem deteksi dini gunung meletus, gempa bumi, banjir, longsor, tsunami perlu terus dipantau dan dilakukan.

Dengan semakin bertambahnya waktu, jumlah penduduk semakin meningkat, kondisi lahan pertanian akan terus menurun. Diperlukan langkah nyata pemerintah untuk membeli lahan-lahan pertanian yang menjadi “lahan abadi pertanian” karena jika tidak, masyarakat tidak bisa memastikan keberadaan lahan-lahan pertanian tersebut.

Pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan kondisi utang negara yang terus membengkak, tentu tidak akan berhasil untuk meningkatkan kondisi ekonomi suatu negara. Pemerintah perlu melihat kesesuaian pengeluaran dana untuk pembangunan fisik, keperluan negara, dan pembayaran utang negara.

Nurwenda Ratna Juwita, SST

Fungsional Ahli Statistisi

Badan Pusat Statistik Kota Tasikmalaya

AYO BACA : #10YearsChallenge dan Keabadian

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar