Yamaha Aerox

Sejarah Berdirinya Perdi, Organisasi Kewartawanan Cikal-bakal PWI (1)

  Rabu, 30 Januari 2019   Rahim Asyik
Liputan koran Sipatahoenan tanggal 20 Desember 1933 tentang pertemuan wartawan di Societeit Hadiprojo, Solo. Pertemuan yang mendompleng acara Kongres Indonesia Raya ini berhasil mendirikan organisasi Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) yang menjadi cikal-bakal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Banyak yang menyebut Perdi (Persatoean Djoernalis Indonesia) sebagai cikal-bakal organisasi kewartawanan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Benarkah demikian? Pertanyaan itu bisa dijawab lewat penyelusuran atas sejarah berdirinya Perdi lebih dulu.

Perdi didirikan 13 tahun sebelum PWI berdiri. Tempatnya sama-sama di Solo atau Surakarta. Perdi didirikan tanggal 23 Desember 1933, PWI tanggal 9 Februari 1946. Menurut Tribuana Said dalam Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila, nama Perdi merupakan usulan J.D. Sjaranamual, pemimpin redaksi Soera Oemoem di Surabaya.

Pembentukan Perdi sebetulnya menumpang acara Kongres Indonesia Raya kedua di Solo. Rencananya, habis meliput kongres, baru menggelar rapat wartawan. Pemrakarsanya adalah Badan Permoesjawaratan Djoernalis Indonesia yang diketuai oleh Soetopo Wonobojo (pemimpin redaksi Koemandang Rakjat di Solo).

Sayangnya, Residen Solo membatalkan Kongres Indonesia Raya dua hari sebelum acara, yakni pada 21 Desember 1933. Alasannya, menurut perintis pers Indonesia RM Soedarjo Tjokrosisworo, karena Partindo (Partai Indonesia Raya) yang sedang terkena vergader-verbod (larangan ikut pertemuan), malah ikut pertemuan.

Mengingat keterbatasan dalam teknologi informasi, kabar pembatalan kongres itu telat diterima wartawan. Para wartawan terlanjur pergi, bahkan ada yang sudah tiba di Solo. Walhasil, lantaran sudah terlanjur itulah maka pertemuan wartawan tetap digelar di Societeit Hadiprojo.

Soetopo Wonobojo Diperiksa Intel Sebelum Membuka Kongres Perdi

Itu pun bukan tanpa masalah. Saat rapat akan dibuka pukul 20.00 WIB, Soetopo Wonobojo tak tampak batang hidungnya. Rupanya Soetopo sedang diinterogasi Politieke Inlichtingen Dienst (Dinas Intelijen Politik) soal rencana rapat wartawan itu.

Untungnya pemeriksaan terhadap Soetopo cuma berlangsung sekitar satu jam. Setelah diperiksa PID itu Soetopo buru-buru membuka pertemuan pukul 21.30 WIB. Karena masih kesal, Soetopo hanya memberi sambutan kurang dari satu menit. Isinya singkat, ”Kita belon merdika.”

AYO BACA : Daftar Organisasi Kewartawanan Sebelum PWI

Hadir dalam pertemuan itu 37 wartawan dari 10 harian, 7 mingguan, dan 9 majalah. Mereka berasal dari Soeara Oemoem, Oetoesan Indonesia, Darmo Kondo, Sikap, Sedio Tomo, Adil, Bahagia, Sin Tit Po, Djawa Tengah, Penjebar Semangat, Koemandang Rakjat, Tekad, Swara Tama, Al Jaum, Soeara Timoer, Soeloh Hoekoem, Kawroeh, Pengetahoean, Soeara PBI, Koemandang Garap, Penyedar, Panggoegah Ra’jat, Ksatrya, Narpowandowo, Berdjoang, Bidjaksana, Sedio Tomo, dan Sipatahoenan.

Soetopo Wonobojo Terpilih Menjadi Ketua Pertama Perdi

Dalam pertemuan itu, Soetopo terpilih menjadi ketua pertama Perdi didampingi RM Soedarjo Tjokrosisworo (sekretaris) dan Samsoe Hadiwijoto (bendahara). Pemimpin redaksi Sipatahoenan Bakrie Soeraatmadja menjadi ketua Perdi cabang Jawa Barat dengan kantor pusat di Bandung.

Seusai memilih dan membentuk kepengurusan serta membuat asas Perdi, para jurnalis mengeluarkan mosi sebagai berikut…

Rapat ”Persatoean Djoernalis Indonesia” di Societeit Hadiprojo tanggal 23 December 1933. Mengetahoei isinja soerat Resident Solo tertanggal 21 December 1933 kepada Hoofd-comite Congres Indonesia Raja.

Mengerti bahwa sikap Resident itoe ada akibat dari pada keadaan jang ada pada waktoe ini, jalah kelemahan kita.

Memoetoeskan bahwa sekarang kita kaoem djoernalis Indonesia haroes berdaja oepaja menebalkan kebatinan bangsa kita dan memperkoeatkan barisan persatoean bangsa kita soepaja dikemoedian hari kita tidak dengan gampang akan diperlakoekan sematjem ini lagi. (lihat ”Journalisten Conferentie djeung Congres Indonesia Raja” dalam Sipatahoenan, 27 Desember 1933: 1).

Perdi dengan gamblang menyatakan membuka diri bagi sesiapa saja wartawan yang ingin bergabung ke dalam organisasinya. Disebutkan dalam azas Perdi, Perhimpoenan ini tidak mempersoalkan haloean politiek djoernalis, sehingga semoea kaoem djoernalis Indonesia, dengan tidak menjinggoeng keagamaan dan kejakinan politieknja, dapat mendjadi anggota.

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (4)

Namun kenyataannya tidaklah demikian. Nobuto Yamamoto menuding Perdi sebagai klub eksklusif untuk editor surat kabar pribumi ternama. Tak heran kalau pertumbuhan anggotanya pun seret.

Dalam Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers No. 24 yang terbit 15 Juni 1935, Perdi menyebutkan alasan mengapa mereka mengurangi dan bahkan lebih selektif dalam merekrut anggotanya. Alasannya adalah untuk meningkatkan kualitas dan reputasi Perdi.

Kendati dibatasi, Perdi nyatanya tetap lebih terorganisasi dan memiliki anggota yang lebih banyak ketimbang asosiasi kewartawanan lain sebelumnya.

Perdi Sempat Diragukan Akan Berumur Panjang

Enam bulan setelah dibentuk, Perdi menyelenggarakan kongres pertamanya di tempat pembentukannya di Solo. Kongres berlangsung dari tanggal 25-26 Juni 1934. Kongres berikutnya digelar hampir tanpa putus setiap tahun kecuali tahun 1936.

Kongres kedua juga digelar di Solo (7-11 Juni 1935). Berikutnya, kongres ketiga di Batavia (17-18 Mei 1937, keempat di Bandung (1938), kelima di Solo (1939), keenam di Bandung (1940), dan ketujuh di Yogyakarta (23 Februari 1941).

Rutinitas kongres itu relatif mengejutkan. Soalnya sebelumnya sempat muncul kecemasan, nasib Perdi tak akan beda jauh dari organisasi kewartawanan lain seperti Inlandsche Journalisten Bond (IJB), Journalistenbond Asia, dan Perkoempoelan Kaoem Journalist (PKJ). Ketiga organisasi itu saja yang diketuai oleh sosok-sosok jempolan yang kapasitasnya di atas Soetopo Wonobojo, berumur pendek. Apalah pula Perdi.

Dalam bahasa RM Soedarjo Tjokrosisworo, ”Orang mengira, bahwa Perdi kelak menjoesoel perhimpoenan jang lain kezaman baka. Bahkan setengah orang mengharap Perdi maoet. Istimewa orang jang mengharapkan nafkah Perdi! Per setan tjita-tjita. Doeit paling perloe. Betapa rendah boeroeknja watak demikian, dirasai oleh orang normal pikiran.”

Kecemasan itu memudar begitu melihat antusiasme peserta yang hadir dalam kongres pertama Perdi. Dalam pertemuan yang diikuti sekitar 500 orang itu, hadir de Geer (jurnalis Belanda) dan J. Takei (jurnalis Jepang). Takei menyatakan perlunya menguatkan ikatan yang lebih erat antara jurnalis Indonesia dengan Jepang (lihat ”Congres Perdi” dalam Sipatahoenan, 26 Juni 1934: 3).

Perdi bahkan terbilang cukup berani. Dalam koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 13 April 1934 misalnya, Perdi memprotes Gubernur Jenderal Hindia Belanda lantaran tidak seharusnya menghukum Saroehoem (redaktur koran berbahasa Tioghoa-Melayu Sin Tit Po) terkait delik pers.

AYO BACA : Sejarah Berdirinya Perdi, Organisasi Kewartawanan Cikal-bakal PWI (2)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar