Yamaha NMax

Menkeu: Sistem Keuangan Indonesia Masih Terjaga

  Rabu, 30 Januari 2019   Adi Ginanjar Maulana
Menkeu Sri Mulyani saat rapat KSSK di Jakarta, Selasa (29/1/2019).(Setkab)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM—Kementerian Keuangan memastikan kondisi keuangan Indonesia masih stabil dan aman meskipun dibayangi kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian.

“Keseluruhan aspek yang dilihat oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan sistem keuangan kita dalam kondisi normal dan berjalan baik,” kata  Menkeu Sri Mulyani seperti dilaporkan Setkab, Selasa (29/1/2019).

Penerimaan negara secara keseluruhan pada 2018 berhasil melampaui target digunakan untuk menjaga stabilitas, memperbaiki distribusi, serta mengakselerasi alokasi sehingga pertumbuhan perekonomian dalam rangka penurunan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dari sisi kebijakan fiskal 2018 kita tutup dengan sangat baik. Penerimaan negara mencapai 102,5% dengan pertumbuhan penerimaan perpajakan adalah sebesar 16,5% dan penerimaan negara bukan pajak meningkat 30,8%,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut dia, KSSK  akan terus menjaga agar kebijakan fiskal tetap berfungsi untuk bisa menjaga stabilitas, memperbaiki distribusi, serta mengakselerasi alokasi. Pertumbuhan perekonomian bisa makin terjaga dan penurunan kemiskinan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa terus ditingkatkan.

Dari sisi belanja 2018 yang makin tumbuh serta defisit APBN 2018 yang jauh lebih kecil dari 2017, Sri menegaskan, pemerintah percaya diri perekonomian telah dikelola dengan lebih baik dari periode sebelumnya.

“Kita melihat dari sisi belanja negara (2018) yang tereksekusi secara baik yaitu pertumbuhannya 9,7% dari tahun lalu (2017) di mana belanja dari Pemerintah Pusat naik 14,2% dan belanja transfer ke daerah naik 2,1%,” jelasnya.

Dengan defisit APBN 2018 yang jauh lebih kecil dari yang diundangkan yaitu sebesar 1,76% terhadap GDP atau lebih kecil dari 2,19% yang ada di dalam Undang-undang APBN, KKSK optimistis akan mampu untuk terus menjaga confident terhadap perekonomian nasional terutama tahun 2018 di tengah gejolak global.

Lebih jauh, dia menegaskan APBN yang sehat dan kuat dapat dilihat pula antara lain dari sisi keseimbangan primer. Tahun 2018, defisit keseimbangan primer Indonesia jauh lebih kecil daripada tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan fungsi pembiayaan dan defisit financing bisa dikelola dengan baik.

“Kita juga melihat kekuatan dan kesehatan APBN dilihat primary balance kita yang tahun 2018 ditutup hanya dengan Rp1,8 triliun defisit. Ini sangat berbeda jauh dengan tahun lalu dimana primary balance mencapai Rp124,4 triliun. Menggambarkan APBN yang sangat sehat,” tegasnya.

Dengan gambaran kinerja tahun 2018 tersebut, dia memastikan, Pemerintah bersama-sama dengan seluruh stakeholders terkait seperti BI, OJK, dan LPS akan terus bersinergi dan bekerjasama dalam menjaga stabilitas sektor keuangan dan perekonomian Indonesia tahun 2019. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar