Yamaha NMax

Mengapa Malaysia Lebih Reaktif Berbisnis Minyak Kelapa Sawit?

  Selasa, 29 Januari 2019   Adi Ginanjar Maulana
Kelapa sawit.(Reuters)

Ada tiga isu yang dipakai pemerintah negara-negara Eropa untuk mengendalikan impor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) yakni menyerang dengan dalih membahayakan kesehatan, merusak lingkungan dan memberlakukan rintangan bukan tarif.

Negara-negara pengekspor CPO dapat menangkal isu pertama dan kedua bisa ditangkal, namun  yang ketiga belum juga mencapai titik temu.

Pada 19 Desember lalu, Dewan Nasional Prancis memutuskan untuk tidak memasukkan CPO sebagai bahan baku olahan untuk biodiesel dan akan mengakhiri pengenaan insentif pajak atas minyak sawit pada 2020.

Adapun Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang baru-baru ini menerbitkan studi atas industri kelapa sawit menyatakan, menyatakan lobi industri kelapa sawit melakukan lobi seperti yang dilakukan industri tembakau dan alkohol.

Sebegitu jauh belum ada reaksi dari para pihak terkait di Indonesia terhadap perkembangan di atas, padahal Indonesia merupakan eksportir terbesar CPO. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor CPO mencapai US$18,23 miliar pada tahun lalu yang berarti 13,8% dari total ekspor yang berjumlah US$131,23 miliar. Ekspor sawit merupakan kontributor paling besar dari kelompok ekspor non migas.

Lebih Reaktif

Malaysia lebih reaktif. Perdana Menteri Malaysia Dr Mahathir Mohamad langsung mengirim surat kepada Presiden Perancis Presiden Emmanuel Macron. Surat diserahkan Menlu Saifuddin Abdullah said Malaysia kepada Dubes Perancis di Malaysia  Frédéric Laplanche pada 14 Januari.

Pengiriman surat itu merupakan langkah pertama menjunjung kebenaran dan meminta penghentian kampanye negatif terhadap industri  CPO. Kami tidak akan tinggal diam menyuarakan kebenaran, kata Menlu seraya menambahkan Bank Dunia telah menegaskan perkebunan kelapa telah membantu mengurangi angka kemiskinan  dan menjembatani perbedaan antara masyarakat perkotaan dengan pedesaan.

Malaysia juga mengambil serangkaian langkah meningkatkan ekspor CPO,  termasuk dengan membuka pasar baru di Turki, Iran dan Pakistan.Ketiga negara ini penting terutama Turki sebab merupakan pintu masuk ke Eropa, Deputi Menteri Industri Primer Shamsul Iskandar Md Akin.

Malaysia diharapkan memperoleh giliran memimpin dalam pertemuan tingkat menteri Dewan Negara-negara Penghasil CPO ( CPOPC). Dewan akan bertemu di Jakarta pada 28 Februari mendatang membahas berbagai hal, antara lain  membahas isu-isu perdagangan, keterlanjutan produksi tanaman dan  berbagai kegiatan untuk memperkuat kerjasama diantara negara-negara anggota, ujar Menteri Industri Primer Teresa Kok Suh Sim.

CPOPC dibentuk 21 November 2015 untuk mengamankan kepentingan negara-negara produsen CPI dengan mempromosikan konsultasi tentang perkembangan industri, meningkatkan kesejahteraan pekebun kecil,mengatasi hambatan perdagangan dan mempromosikan akses ke pasar.

Teratur

Malaysia sepertinya lebih baik dala menata perdagangan kelapa sawit. Di dalam negeri, pemerintah federal membentuk Malaysia Palm Oil Board  atau Lembaga Minyak Kelapa Sawit Malaysia yang berada di bawah  Kementerian Perkebunan dan Komoditas. MPOB yang dipimpi seorang Dirjen bertanggung jawab mempromosikan dan mengembangkan perkebunan dan industri kelapa sawit.

Dana bagi kegiatan sehari-hari MPOB berasal dari hasil pengenaan pajak terhadap perkebunan dan industri kelapa sawit serta dana hibah riset pemerintah federal. Sebagaimana diketahui, MPOB merupakan gabungan dari Institut Riset Kelapa Sawit Malaysia (PORIM) dan Otoritas Lisensi dan Registrasi Minyak Kelapa Sawit Malaysia (PORIM).

MPOB berkantor pusat di Kuala Lumpur tetapi memiliki perwakilan di China, Amerika Serikat, Mesir dan Brussel (markas besar Uni Eropa). MPOB bekerjasama  dengan sejumlah universitas di Eropa dan China, C.H.E. Metal Works dan Nippon Oil Corp. aktif mengadakan riset turunan kelapa sawit yang bisa dimanfaatkan berbagai industri.  

Total  ekspor CPO Malaysia pada 2017 mencapai 16.555.479 ton. Pasar ekspor terbesar adalah India dengan  jumlah 2.024.843 ton ke India, sebanyak 1.917.288 ke China, 1.003.925 ke Belanda dan ke Pakistan 1.016.977 ton.   

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar