Yamaha Aerox

Sensasi Relaksasi Gemericik di Curug Cipeteuy Majalengka

  Selasa, 29 Januari 2019   Erika Lia
Pengunjung menikmati keindahan alam Curug Cipeteuy di Desa Bantar Agung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.(Erika Lia)

MAJALENGKA, AYOBANDUNG.COM--Pete atau peteuy dalam bahasa Sunda, menjadi nama yang diberikan pada sebuah lokasi yang kini menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Majalengka.

Terletak di Desa Bantar Agung, Kecamatan Sindangwangi, Curug Cipeuteuy bertransformasi dari hutan garapan menjadi objek cantik kebanggaan warga sekitar.

Untuk menuju ke sana, sebagian besar akses jalan dalam kondisi baik, meski terbilang kecil dan berkelok mengingat letaknya di dataran tinggi. Hanya, pemandangan indah berupa persawahan akan memanjakan mata sepanjang jalan menuju curug.

Pengelola Curug Cipeteuy, Sutardi mengisahkan, Curug Cipeuteuy sejak 2004 menjadi bagian dari area hutan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

"Sebelumnya, ini merupakan hutan produksi. Warga sekitar menyadap getah serta menggarap lahan dengan menanam kopi, pisang, dan lainnya," kata Sutardi kepada Ayocirebon.com (Ayo Media Network) akhir pekan lalu.

Area Curug Cipeuteuy kini menjadi rumah bagi pepohonan maupun satwa, termasuk satwa langka seperti Elang Jawa, Elang Brontok, maupun Surili. 

Selanjutnya, pada 2008 dibentuklah kelompok mitra pariwisata Gunung Ciremai dengan anggota 50 orang warga sekitar. Kelompok yang bermitra langsung dengan Badan Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) ini dibentuk setelah melihat adanya potensi wisata di area hutan konservasi itu.

"Dengan bimbingan BTNGC, pada 2009 dibukalah objek wisata Curug Cipeteuy," ujar Sutardi.

Selain menjadi rumah lindung, Curug Cipeuteuy menawarkan pemandangan alam yang cantik. Selain hutan pinus, sesuai namanya, di sini terdapat curug atau air terjun kecil beserta kolam pemandian mini.

"Disebut Cipeteuy karena dulu pernah tumbuh sebatang pohon peteuy (pete) yang buahnya berukuran besar. Tapi, saat ini pohonnya sudah tak ada," jelas Sutardi.

Curug Cipeuteuy pun dilengkapi bumi perkemahan. Sedikitnya 200 orang mengunjungi Curug Cipeteuy setiap hari. Jumlah itu bertambah dua kali lipat pada Minggu atau hari libur.

Pasca ditetapkan sebagai hutan konservasi, dia mengakui, sebagian warga yang sebelumnya menjadi petani penggarap sempat kehilangan mata pencarian.

Namun kini, sebagai destinasi wisata, Curug Cipeteuy membuka peluang peningkatan ekonomi warga setempat. Sutardi menyebut, dalam rangka itulah, pihak pengelola tengah berupaya mengembangkan lingkungan sekitar curug, salah satunya pemberdayaan industri rumahan berupa panganan lokal.

"Selain itu, rumah-rumah warga sekitar juga dijadikan homestay. Setiap bulan, ada tamu yang melakukan studi banding ke sini," tandasnya seraya menambahkan, pengelolaan Curug Cipeteuy pun kini telah menyumbang sebagian pendapatannya kepada desa setempat.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar