Yamaha

Geliat Prostitusi Tasik, dari Mangkal di Jalanan hingga Gunakan Aplikasi

  Senin, 28 Januari 2019   Irpan Wahab Muslim
Ilustrasi prostitusi.(Reuters)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM--Tasikmalaya sejak dulu dikenal dengan kota santri. Hal itu karena di Tasikmalaya, terdapat ratusan bahkan ribuan pondok pesantren.

Namun, hal ini bertolak belakang dengan menjamurnya prostitusi di daerah tersebut saat ini.

Berdasarkan penelusuran Ayotasik.com (Ayo Media Network), di Tasikmalaya ada beberapa tempat sering digunakan transaksi prostitusi. Salah satunya di Jalan Mayor Utarya Kelurahan Empangsari Kecamatan Tawang atau warga Tasikmalaya mengenal dengan Jalan PLN dan di eks Terminal Cilembang.

Setiap malam, di sepanjang jalan banyak ditemukan wanita penghibur yang menawarkan jasa kepada lelaki hidung belang. Mereka tidak malu menawarkan diri sekaligus menentukan tarif.

AYO BACA : Kabar Saritem dan Dilema Prostitusi

Namun, di sisi lain, wanita yang mempromosikan diri melalui aplikasi perpesanan maupun media sosial pun banyak.

Mereka tidak malu mendeskripsikan diri sebagai wanita panggilan atau lumrah disebut open BO.

AyoTasik.com, mencoba salah satu aplikasi perpesanan. Ternyata benar, beberapa wanita penghibur menjajakan diri dengan tarif antara Rp500.000 hingga Rp700.000. Harga itu untuk kategori short time (ST). Harga berbeda diterapkan bila ingin dilayani secara long time (FT).

"Harga itu sudah termasuk ruangan. Kita sudah biasa booking hotel bintang dua," kata wanita penghibur, sebut saja Shiren, melalui pesan singkat beberapa waktu lalu.

AYO BACA : Polisi Ungkap 5 Artis Lainnya yang Diduga Terlibat Prostitusi Online

Selain di hotel, biasanya wanita penghibur itu melayani lelaki hidung belang di indekos. Dari pengakuan Shiren, hal tersebut dilakukan untuk mengurangi pengeluaran.

Indekos dirasa aman dalam menjalankan praktik protitusi karena jarang terkena razia petugas Satpol PP Kota Tasikmalaya.

"Teman-teman yang lain biasanya sewa indekos, dan layani di situ. Ya, sekalian tempat tinggal juga," kata Shiren yang masih berusia 17 tahun tersebut.

Pengakuan lainnya datang dari wanita penghibur bernama Putri Yasmin. Kebanyakan, di media sosial atau aplikasi perpesanan sebagian besar menggunakan nama samaran.

Hal tersebut untuk menghindari dan menutupi identitas asli. Bahkan sering menyembunyikan alamat asli.

"Kalau saya biasa layani di indekos, yang lain juga banyak. Karena lebih aman dari razia petugas. Yang sama tahu di daerah Rancabango, terus Jalan Galunggung," kata Putri.

Dari pengakuan kedua wanita penghibur, mereka rata-rata sudah menekuni pekerjaannya tersebut lebih dari tiga tahun. Alasan paling lumrah yakni desakan kebutuhan ekonomi dan keinginan hidup serba ada.

AYO BACA : Bukan Model, Agency Ini Tawarkan Jasa Esek-Esek

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar