Yamaha Mio S

Sempat Menepi di Pulau, Jayadi Menanti Gelombang Laut Mereda

  Senin, 28 Januari 2019   Erika Lia
Seorang nelayan tengah membuat rumpon dari jaring bekas di PPN Kejawanan, Kota Cirebon, Senin (28/1/2019).

CIREBON, AYOBANDUNG.COM--Jayadi (46), warga kampung pesisir, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, sejenak menghela napas.

Duduk di salah satu papan di tengah salah satu kapal, dia hanya menatap ke arah kapal-kapal lain yang bersandar bersebelahan di tepi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan, Kota Cirebon, Senin (28/1/2019).

Dia bermaksud mengambil sejengkal masa untuk beristirahat di tengah aktivitasnya memperbaiki kapal. Kegiatan itu dia lakukan selama kapal yang biasa dia tumpangi sebagai anak buah kapal (ABK), berlabuh.

“Gelombang sedang tinggi, kami pun sementara beristirahat melaut,” katanya kepada Ayocirebon.com (Ayo Medi  Network).

Jayadi mengaku, sudah sejak awal Januari 2019 dia dan rekan-rekan lainnya sesama ABK berlabuh di PPN Kejawanan, menyusul peringatan bahaya tinggi gelombang oleh BMKG. Sebelumnya, sejak sekitar Oktober 2018, Jayadi dan teman-temannya berlayar ke perairan Kalimantan untuk mencari ikan.

Di perairan Kalimantan, mereka menangkap hasil laut seperti ikan tenggiri, ikan kakap, maupun cumi. Sedikitnya sepuluh ton berhasil mereka bawa pulang ke Cirebon.

Saat awal berangkat, lanjutnya, gelombang laut terhitung bersahabat. Pun begitu hingga mereka sempat mencari ikan. Namun, mereka kemudian sempat dihadang gelombang tinggi hingga empat meter di perairan Kalimantan.

“Kami lalu mencoba berlindung dengan menepi ke sebuah pulau yang ada di sekitar situ,” ujar pria yang telah menjadi nelayan selama sekitar 25 tahun ini.

Setelah gelombang laut lebih tenang, mereka pun kembali berlayar hingga kepulangannya ke Cirebon. Menurut Jayadi, kala pulang, tinggi gelombang hanya sekitar satu meter.

Dia pun bersyukur, perjalanan pulang tak terganggu hal lain. Selama melaut dan sempat dihantam gelombang tinggi pun, kapal yang dia tumpangi nihil kerusakan dan seluruhnya selamat, hingga dia bisa pulang kembali ke Cirebon untuk bertemu keluarganya.

“Kembali melaut sekitar Maret nanti. Semoga ketika berangkat nanti, gelombang laut lebih tenang,” ungkap ayah beranak tiga yang tengah menanti kelahiran cucu pertamanya ini.

Sementara itu, nasib berbeda dialami nelayan lain asal Desa Gebang Mekar, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Seli Pratama (28) yang hanyut dan hilang setelah kapalnya dihantam gelombang tinggi pada Jumat (25/1/2019).

“Kami temukan jenazah Seli, pada Minggu (27/1/2019) pagi, setelah tiga hari melakukan upaya pencarian,” kata Korlap Pusdalop Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, Faozan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar