Yamaha Mio S

Musim Baratan, Jumlah Kapal Berlayar di Pantura Menurun

  Senin, 28 Januari 2019   Erika Lia
Seorang ABK tengah mengecat tiang kapal selama kapalnya berlabuh di PPN Kejawanan, Kota Cirebon, akibat gelombang tinggi, Senin (28/1/2019).(Erika Lia/ayocirebon.com)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM--Jumlah kapal yang berlayar di area Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan, Kota Cirebon, sepanjang musim baratan yang berlaku kini mengalami penurunan.

Kepala PPN Kejawanan, Imas Masriah menyebutkan, musim baratan berlaku sepanjang Desember-Maret. Pada masa ini, biasanya berlaku peringatan gelombang tinggi yang berpotensi membahayakan bagi nelayan.

“Di masa (gelombang) normal, kapal yang melaut berkisar 35-40 kapal. Ketika musim baratan seperti sekarang, turun hanya menjadi 20 kapal saja,” katanya, Senin (28/1/2019).

Saat ini, berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tinggi gelombang di perairan Cirebon atau Laut Jawa 1,25-2,25 meter. Ketinggian itu terutama membahayakan bagi nelayan kecil berperahu kecil.

Lain halnya dengan kapal besar, seperti yang berlabuh di PPN Kejawanan. Gelombang laut setinggi itu, menurut Imas, tak terlalu berpengaruh sehingga tetap dapat berlayar.

“Nelayan berperahu besar tetap bisa berlayar, yang penting nakhoda tahu cara mengendalikan kapal. Biasanya ketika situasi di laut membahayakan, mereka berlindung di pulau,” cetusnya.

Di PPN Kejawanan sendiri, terdata sedikitnya 187 kapal, dengan rata-rata anak buah kapal (ABK) sejumlah 15 orang. Kapal-kapal di sini, yang berukuran 30 Gross Ton (GT), tak menangkap hasil laut di perairan Laut Jawa, melainkan di Laut Natuna di (Provinsi Kepaulauan Riau), Selat Karimata (antara Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan), hingga Laut Arafuru (perairan antara Pulau Papua dan Australia di Samudera Pasifik).

Selama musim baratan, nelayan yang tak melaut melakukan aktivitas lain, seperti memperbaiki kapal. Kalaupun ada kapal yang bersikeras untuk berlayar, dia meyakinkan, pihaknya melakukan pengecekan keselamatan lebih dulu terhadap kapal bersangkutan.

“Kami mengeluarkan peringatan tinggi gelombang berdasarkan informasi BMKG. Kalau ada kapal yang tetap mau berlayar, kami cek persyaratan keselamatannya, seperti jumlah pelampung sama dengan jumlah nelayan yang berlayar,” tuturnya.

Bagi nelayan kecil, pihaknya mengimbau tak melaut. Bila pun tetap ingin melaut, kehati-hatian harus diperhatikan para nelayan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar