Yamaha NMax

Rekam Film di Insta Story Melanggar Hak Cipta dan Bisa Didenda?

  Rabu, 23 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustasi merekam film melalui ponsel ke dalam insta story. (Pixabay)

Perkembangan industri perfilman Indonesia kian meroket. Bisa dikatakan, film-film Indonesia mulai bisa bersaing dengan film-film sekaliber Holywood. Setiap film-film Indonesia yang rilis, bisa ‘berbagi’ layar bioskop dengan film-film Holywood. Hal ini juga dapat dilihat dari antusiasme masyarakat Indonesia terhadap film-film lokal.

Dilansir dari viva.co.id, saat ini penonton film Indonesia di bioskop mencapai 40 juta orang. Antusiasme ini juga dapat dilihat dari jumlah penonton film terlaris sepanjang massa, yakni “Warkop DKI  Reborn: Jangkrik Boss! part 1” dan “Dilan 1990” yang mencapai 6 juta orang.

Namun, tingginya antusiasme masyarakat terhadap film-film Indonesia tidak sejalan dengan apresiasi masyarakat terhadap film-film tersebut. Salah satu bentuk kurangnya apresiasi masyarakat adalah maraknya kasus pelanggaran hak cipta. Tunggu dulu. Jika yang dimaksud adalah soal penjualan DVD bajakan atau maraknya film-film berdurasi full dalam bentuk video yang disebarluaskan secara bebas di internet, salah besar. Bukan itu yang menjadi persoalan.

Ini adalah salah satu persoalan sepele, yang parahnya, masih sering dilakukan oleh masyarakat, yakni mengunggah insta story di Instagram saat menonton film di bioskop.

Tidak terlalu penting memang jika menyoroti soal sikap pamer demi esksistensinya di media sosial atau kelakuan yang terkesan ‘alay’. Namun masalahnya adalah, cuplikan film yang disebarluaskan di insta story itu merupakan hak cipta yang harus mengantongi izin dari si pemilik jika ingin disebarluaskan. Undang-undang pun menetapkan bahwa film atau karya sinematografi dilindungi oleh hak cipta sebagaimana yang dimaksud pada Bab V bagian kedua pasal 40 ayat 1.

AYO BACA : Infografis: 10 Film Wajib Ditonton di 2019

Mengacu pada UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, hal ini tentu tidak dibenarkan.

Pada Bab III tentang Hak Cipta bagian ketiga tentang Hak Ekonomi pasal 8 disebutkan ‘Hak ekonomi merupakan hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas Ciptaan.’

Kemudiaan  dalam pasal 9 ayat barulah dijelaskan, ‘(1) Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 memiliki hak ekonomi untuk melakukan: penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya, pendistribusian Ciptaan atau salinannya,’ dan beberapa poin lainnya (ada 9 poin).

Ditegaskan pula di ayat 2 bahwa setiap orang yang melaksanakan hak ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta. Jadi, jelas menyebarluaskan cuplikan film di insta story tidak dibenarkan karena tidak dibarengi izin Pencipta dan Pemegang Hak Cipta.

Meski terkesan sepele dan sering diabaikan dengan alasan durasi pada insta story yang tidak terlalu panjang, tren negatif yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat ini harus ditindaklanjuti. Apalagi, tren negatif ini kebanyakan muncul di kalangan remaja yang belum paham betul soal UUHC ini. Harusnya, dengan adanya peringatan HFN menjadi momentum untuk mengedukasi remaja soal hak cipta, karena film merupakan karya yang dilindungi oleh hak cipta.

AYO BACA : Petugas Sapu di Kota Bandung Nonton Bareng Preman Pensiun

UUHC dibuat dengan berbagai alasan dan salah satunya agar pencipta suatu karya merasa diapresiasi dan dihargai atas karya yang sudah dibuat.

UUHC mengatur pula sanksi-sanki terhadap pelanggaran hak cipta ini, lagi-lagi, dalam rangka melindungi hak cipta. Meski pada Bab XVII tentang Ketentuan Pidana, pasal 112 dan 113 ayat 1-4  jelas memberikan sanksi berupa pidana penjara dan pembayaran denda, tetap saja tidak bisa menjerat para pelaku penyebarluasan cuplikan film di insta story. Mengapa demikian? Karena peraturan tersebut berlaku jika digunakan secara komersial sedangkan insta story terkadang hanya ajang pamer karena telah menonton filmnya bukan untuk diperjualbelikan.

Hal itu yang luput dari perhatian dan harus dikaji ulang. Meski tidak dikomersilkan, tindakan ini tetap merugikan para pembuat film.

Penikmat film Indonesia memang meningkat setiap tahunnya. Namun, apresiasi pada film pun harusnya juga meningkat seiring dengan meningkatnya penikmat film. Kalau antusiasme terus meningkat namun apresiasi terhadap karya dan penciptanya justru terus tergerus, bukannya itu hal yang percuma?

Nurul Amanah

Jurnalistik Fikom Unpad.

AYO BACA : Kapan Film Dilan 1991 akan Tayang?

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar