Yamaha Lexi

Kemiskinan dan Kebahagiaan Anak

  Selasa, 22 Januari 2019   M. Naufal Hafizh
Ilustrasi kemiskinan dan kebahagiaan anak. (Pixabay)

Berbagai persoalan masih dihadapi anak-anak Indonesia. Stunting, gizi buruk, kekerasan, bahkan kemiskinan anak.

Anak adalah kelompok paling rentan terimbas kemiskinan. Laporan Analisis Kemiskinan dan Deprivasi Hak-hak Anak di Indonesia (BPS dan UNICEF, 2017) menunjukkan tingkat kemiskinan anak lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. Tercatat sebanyak 13,31 persen anak di tahun 2016 berada di bawah garis kemiskinan.

Persentase yang cukup besar. Walaupun berbagai penelitian menunjukkan tingkat kemiskinan anak menunjukkan tren menurun. Hal ini kiranya sejalan dengan tren penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia.

Masih hangat diperbincangkan hal turunnya kemiskinan Indonesia hingga level satu digit. Banyak argumentasi bermunculan. Indonesia telah berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin di September 2018 menjadi 25,67 juta orang. Tingkat kemiskinan mencapai 9,66 persen setelah pada periode September 2017 berada di level 10,12 persen.

Terlepas dari segala perdebatan terkait metode pengukuran penduduk miskin, pengentasan kemiskinan dalam segala bentuk dan dimensi masih perlu diupayakan. Mengentaskan kemiskinan ekstrem bagi semua orang di mana pun mereka berada, merupakan tantangan global terbesar saat ini. Tertuang dalam tujuan pertama SDGs.

Dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 atau Sustainable Development Goals 2030, diperlukan modal manusia yang sehat, cerdas, produktif dan berdaya saing sehingga dapat menikmati kesejahteraan (well-being) di setiap tahap kehidupannya. Berbagai penelitian menunjukkan kunci utamanya adalah kesempatan kerja dan pembangunan manusia berkualitas.

Menyiapkan kedua hal dalam kurun kurang dari 20 tahun. Tinggal 18 tahun waktu mencapai target SDGs. Siapkah Indonesia kurang dari 20 tahun keluar dari kemiskinan? Mampukah anak-anak keluar dari rantai kemiskinan? BPS memproyeksikan penduduk Indonesia di tahun 2035 mencapai 305,65 juta orang. Sebanyak 26 persennya (79,60 juta orang) adalah anak-anak (usia 0-17 tahun). Peluang dan tantangan besar bagi Indonesia.

AYO BACA : 4 Presiden Paling Miskin di Dunia

Kemiskinan Anak

Pengukuran kemiskinan biasanya menggunakan pendekatan moneter, yaitu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, menurut UNICEF (2005) dalam melihat kemiskinan anak tidak cukup hanya melihat sisi moneter saja. Setidaknya ada tujuh aspek yang memengaruhi khususnya di negara berkembang, yaitu makanan yang cukup, air minum bersih, fasilitas sanitasi yang layak, kesehatan, perumahan, pendidikan, dan informasi.

Tingkat kemiskinan anak secara moneter adalah persentase anak usia 0–17 tahun yang tinggal di rumah tangga miskin. Rumah tangga miskin sendiri adalah rumah tangga yang rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah garis kemiskinan. Setiap anak yang tinggal di rumah tangga miskin, biasanya rentan mengalami tekanan multidimensi yang dapat memengaruhi masa depannya.

Hasil pengukuran kemiskinan anak (BPS-UNICEF, 2017) menunjukkan demografi dan karakteristik rumah tangga sangat berpengaruh terhadap kemiskinan anak di Indonesia. Anak yang tinggal pada rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga 5 orang atau lebih, berisiko lebih tinggi untuk menjadi miskin dibandingkan sebaliknya.

Data pun menunjukkan satu dari empat anak yang tinggal pada rumah tangga dengan jumlah ART lebih dari 7 orang, hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisinya akan semakin buruk, jika dalam rumah tangga “besar” ini, hanya sedikit orang dewasa yang memiliki pekerjaan.

Hal lain yang erat kaitannya dengan kemiskinan anak adalah pendidikan. Anak pada kelompok usia 7-17 tahun yang tidak bersekolah tercatat sebesar 23,09 persen di antaranya berada di bawah garis kemiskinan. Kelompok ini berisiko untuk menjadi miskin hampir 2 kali lipat dibanding anak usia 7-17 tahun yang bersekolah.

Pendidikan Kepala Rumah Tangga (KRT) juga berpengaruh terhadap kemiskinan anak. Sebagian besar anak miskin berasal dari KRT dengan tingkat pendidikan yang rendah. Lebih dari 70 persen anak miskin tinggal bersama KRT dengan tingkat pendidikan tamat SD ke bawah.

AYO BACA : Kemiskinan Berkorelasi dengan Perokok

Melihat kondisi ini, menjadi keharusan untuk meningkatkan akses pendidikan bagi anak agar keluar dari rantai kemiskinan. Sebagaimana disampaikan Ritonga (Kompas, 2018) pentingnya untuk menurunkan kemiskinan kapabilitas, yaitu pendidikan dan kesehatan. Tidak hanya upaya menurunkan angka kemiskinan pendapatan, dari dua digit menjadi satu digit. Lebih urgen adalah, bagaimana kapabilitas masyarakat dalam hal kesehatan dan pendidikan meningkat. Pun demikian pada anak-anak.

Mempersiapkan anak yang tangguh, produktif, dan berdaya saing di masa mendatang harus disiapkan dari sekarang. Waktu 18 tahun tidak lama.

Upaya

Berbagai program telah banyak dilakukan. Tidak hanya pemerintah, swasta dan masyarakat (komunitas) pun turut serta membuka akses pendidikan dan kesehatan seluas-luasnya bagi anak. Jika tahun lalu pembangunan infrastruktur menjadi primadona, kiranya sekarang lebih fokus bagaimana membangun SDM.

SDM yang tangguh, produktif, dan berdaya saing terwujud jika hidup sehat dan berpendidikan. Saatnya giatkan penurunan miskin kapabilitas, mengurangi kemiskinan anak, tingkatkan kesehatan dan pendidikannya.

Perlu upaya keras. Berbagai lini harus bergerak. Sistem perlu terus dipantau. Jangan sampai terulang kembali penyalahgunaan SKTM seperti beberapa tahun ini. Penggunaan SKTM sejatinya adalah untuk orang yang tidak mampu alias miskin. Semua perlu mengawasi. Akankah terulang setiap tahun? Pembukaan kuota 20 persen bagi si miskin, sebagai bentuk afirmasi agar anak miskin punya akses pendidikan.

Menurunkan kemiskinan anak, meningkatkan pembangunan anak. Satu hal yang penting, dalam mengukur berbagai indikator keberhasilan pembangunan anak, perlu dinilai berdasarkan persepsi anak. Bagaimana anak menilai dirinya, bagaimana anak menilai kondisi pendidikannya, bagaimana anak menilai kondisi ekonominya, bagaimana anak menilai kebahagiaannya. Program pengentasan kemiskinan anak, dalam upaya mencapai kebahagiaan anak, perlu dilihat berdasarkan kacamata dan persepsi anak-anak.

Isti Larasati Widiastuty

Statistisi Madya di BPS Provinsi Jawa Barat

AYO BACA : Gaji ASN, UMR, dan Ambang Garis Kemiskinan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar