Yamaha Mio S

Cita-cita Indonesia Menjadi Negara Besar atau Negara Maju?

  Senin, 21 Januari 2019   M. Naufal Hafizh
Ilustrasi. (Pixabay)

Prof. Sumitro Djojohadikusumo dan Prof. Nugroho Notosusanto masing-masing membuat prediksi dalam bukunya, Indonesia Tahun 2000. Konsultan McKinsey juga telah memberi perkiraan tentang Indonesia pada 2035. Kini ada lagi ramalan Indonesia akan menjadi negara besar pada 2045, hampir satu generasi dari sekarang.

Prediksi Indonesia tahun 2000 berlalu begitu saja karena dua tahun sebelumnya Indonesia kembali ke titik nol, bahkan mungkin di bawahnya. Pergantian pemerintah dan kerusakan ekonomi-perbankan akibat moral hazard serta kerusuhan pada 1997-1998 membuat Indonesia seperti rumah pasir di tepi pantai yang hancur karena ombak.

Kedua prediksi yang terakhir menyebut Indonesia akan menjadi negara besar pada 2035 dan 2045, menyalip negara-negara yang kini berada pada posisi-posisi puncak. Kedua prediksi ini memperoleh perhatian besar karena memberi harapan dan kebanggaan, sebaliknya hanya sedikit yang peduli dengan pernyataan Prof. Jared Diamond dalam bukunya Collapse yang menyebut masa depan Indonesia terancam kolaps akibat kerusakan lingkungan.

Negara Maju

Indonesia memang merupakan negara besar dipandang dari jumlah penduduk, luas wilayah, dan besarnya pasar barang dan jasa. Namun, Indonesia belum menjadi negara maju jika dari definisi sebuah negara maju, negara industri, negara yang lebih atau negara yang secara ekonomi lebih maju.

AYO BACA : Presiden Jokowi: Ekonomi Indonesia Tumbuh

Suatu disebut negara maju bila dilihat dari Produk Domestik Bruto, Produk Nasional Bruto dan pendapatan per kapita, luasan infrastrukturnya dan standar hidup rakyat. Industrinya sudah bergeser ke industri jasa dan mulai meninggalkan industri manufaktur.

Menurut data PBB dan Dana Moneter Internasional (IMF), AS memiliki GDP terbesar di dunia yakni US$20.412.870 triliun (Versi IMF) dan US$18.624.475 (PBB). Disusul Tiongkok US$14.092.510 dan US$11.218.281. Namun, penduduk berjumlah 326.766.748, sedangkan Tiongkok mencapai 1.420.045.928 jiwa.

Jepang, Jerman, dan Inggris masing-masing ber-GDP US$5.167.050 triliun,  US$4.211.640 triliun dan US$3.022.580 triliun. Indonesia berpenduduk 269.536.482 dengan GDP 1.152.890 triliun dan pendapatan per kapita US$4.277. Berdasarkan data IMF 2018.

Predikat negara maju tidak datang begitu saja. Kebanyakan negara-negara maju berlokasi di kawasan empat musim, yakni dingin, semi, panas, dan gugur. Masing-masing musim mempunyai karakteristik sendiri sehingga penduduk harus menyesuaikan diri, peduli dengan waktu, bekerja keras, gigih supaya dapat bertahan hidup.

Mereka juga harus menemukan hal-hal baru agar memperoleh kehidupan yang lebih baik. Tidak heran bila penemuan-penemuan teknologi baru dalam transportasi, komunikasi, kesehatan, manufaktur dan sebagainya kebanyakan di negara-negara empat musim.

AYO BACA : Nasib Bahasa Indonesia karena Tuntutan Dunia Kerja

Kehidupan yang serba terbatas membuat penduduk dari negara-negara empat musim mencari lokasi yang lebih baik. Perantau-perantau ini dengan keberanian tinggi menemukan negeri-negeri yang jauh yang menjadi cikal bakal koloninya. Dewasa ini, negeri-negeri tersebut walaupun tidak dijajah lagi tetapi tetap mengikuti sistem politik, ekonomi, bahkan gaya hidup penjajahnya sebagai kapitalis.

Selain unsur manusia, sistem politik yang demokratis yang ada check and balances, perekonomian pasar bebas, tata kelola pemerintahan yang baik turut membantu terwujudnya negara maju. Beberapa negara maju seperti Belanda dan Inggris memperoleh keuntungan dari mengeksploitasi negara-negara jajahannya. Keunggulan negara-negara maju diperkokoh dengan jargon globalisasi, pemaksaan kehendak, serta penguasaan opini dunia.

Bagaimana Indonesia?

Para pendiri negara Indonesia adalah orang-orang hebat dan berpandangan jauh ke depan. Beberapa penerus seperti Ir. H. Djuanda dan Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja berhasil mengukuhkan keutuhan NKRI melalui konsep Wawasan Nusantara. Sayang, dalam bidang ekonomi, para ekonom menetapkan strategi pertumbuhan yang mengandalkan kepada investasi asing dan utang luar negeri.

Presiden BJ Habibie semasa menjadi anggota kabinet melancarkan terobosan dengan membangun industri strategis dan mengirim ribuan tenaga muda ke luar negeri. Hasilnya mulai dirasakan, tetapi tidak seberapa karena banyak pihak yang menginginkan Indonesia begini-begini saja.

Terkait peran manusia Indonesia berupaya membuat negaranya maju, berikut enam ciri manusia Indonesia yang diidentifikasi budayawan dan tokoh pers Mochtar Lubis, yakni hipokritis dan munafik, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, jiwa feodal, percaya takhayul, artistik, dan watak yang lemah.

Pendapat Mochtar Lubis pada Pidato Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 6 April 1977 itu mengundang kritik. Namun pertanyaan sekarang, apakah sekalian sifat itu masih ada? Seberapa besar pengaruhnya terhadap ketertinggalan negara ini.

Farid Khalidi

AYO BACA : Kemenperin Sebut Making Indonesia 4.0 Kunci Daya Saing di Era Digital

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar