Yamaha Lexi

Menanti PM Baru Singapura

  Minggu, 20 Januari 2019   Redaksi AyoBandung.Com
PM SIngapura Lee Hsien Loong.(Reuters)

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pada 10 Februari mendatang berusia 67 tahun. Itu berarti, sebagaimana dinyatakannya sendiri pada tahun 2015, Lee akan mundur tiga tahun lagi.  Maka mulai 2022, Singapura jika tak ada aral melintang akan dipimpin tokoh dari generasi keempat, bahkan mungkin lebih cepat diselenggarakan pemilihan sela.

 Calon potensial pemimpin Singapura dapat dijejaki dari perjalanan jabatan-jabatan politik maupun birokrasi sipil maupun militer. Ia pernah menduduki posisi penting di Partai Aksi Rakyat (PAP), menjadi menteri industri dan perdagangan, menteri keuangan dan wakil perdana menteri.

Heng Swee Keat (48) mulai disebut-sebut sebagai calon kuat, sesudah diangkat sebagai Asisten Pertama Sekjen PAP. Secara tradisi Sekjen Partai akan menjadi perdana menteri jika PAP menang dalam pilihan raya atau pemilihan umum. Di atas kertas PAP akan menang dalam pemilihan mendatang, sebab sebagai hasil pemilihan terdahulu sudah menguasai 82 dari 89 kursi di parlemen.

Dalam birokrasi, Heng kini menjabat sebagai menteri keuangan dan sebelumnya menjadi direktur pelaksana Otoritas Moneter Singapura (2005-2011) dan Sekretaris  Tetap pada Kementerian Perdagangan dan Industri, lalu menjadi pegawai di Kementerian Pendidikan . Tetapi yang perlu mendapat perhatian adalah ketika Heng menjabat sekretaris pribadi mantan PM Lee Kuan Yew, ayah Lee Hsien Loong. Kemungkinan kedekatan ini yang membuat Lee Hsien Loong merasa nyaman bila mundur dan menjadi mentor.

Tidak seperti Lee yang berlatar belakang tentara, Heng memulai karirnya sebagai anggota kepolisian dan sesudah itu menapak karir di birokrasi. Dia juga pernah mengalami stroke saat mengikuti rapat kabinet pada 2016, hingga harus menjalani bedah syaraf.

Selain Heng, calon kuat lainnya adalah Menteri Pendidikan Ong Ye Kung (49) dan Menteri  Perdagangan dan Industri Chan Chun Sing (49). Chang sebetulnya disebut sebagai calon kuat lainnya, prospeknya memudar lantaran menduduki posisi asisten kedua Sekjen PAP,sedangkan Ong menjadi wakil bendahara partai.

Ketidakpastian

PM Lee Hsien Loong menyatakan transisi kepemimpinan kali ini tergolong pelik karena itu dia membiarkan para politisi dan birokrat generasi keempat memilih pemimpinnya. Hasilnya menunjukkan Heng dan Chan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Keleluasaan yang diberikan kepada Heng dan kawan-kawan tampaknya harus dibuktikan dalam pembentukan kabinet baru. Apakah generasi keempat diberi peluang untuk memperoleh lebih banyak

Masa tiga tahun tergolong singkat. Dalam waktu sependek itu, Heng Swee Keat layak diberi kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan dalam politik domestik, regional  dan internasional serta menangani isyu-isyu ekonomi. Tujuannya untuk memberi keyakinan kepada sekitar 6 juta penduduk Singapura, yang dua juta diantaranya pendatang.

Hubungan dengan dua negara tetangga, Indonesia dan Malaysia tergolong paling penting karena menyangkut isu cinta dan benci. Heng juga akhirnya harus memilih antara Cina dan Amerika Serikat yang bertarung pengaruh di Asia Tenggara. Bukankah PM Lee beberapa waktu lalu menandaskan, Singapura pada suatu saat harus memilih satu diantara keduanya?

Selain mencemaskan kemerosotan kemakmuran dan perekonomian nasional, rakyat Singapura, makin ber harap aspirasi mereka tidak terlalu dikekang lagi. Lalu apakah Heng akan mengendurkan Internal Security Act (ISA) untuk memenuhi harapan tersebut? 

Tidak kurang pentingnya, apakah PM baru akan menggelar karpet untuk Li Hongyi, putra Lee Hsien Loong? Lee muda masih meniti karir di angkatan bersenjata Singapura dan juga menjabat deputi direktur Badan Teknologi Pemerintah, yang bernaung di bawah Kantor Perdana Menteri. 

Li mulai dikenal umum ketika menyampaikan kata-kata pujian pada acara pemakaman Lee Kuan Yew. Dia berusia 28 tahun dan merupakan anak kedua pasangan Lee Hsien Loong – Ho Ching, istri kedua Lee.

Li dikenal cerdas walaupun pernah mengalami gangguan baca-tulis. Lulusan Massachussets Institut of Technology. Bekerja di Google sebagai manajer produk dan ketika menjadi perwira pertama ia berani mengirimkan keluhan melalui e-mail kepada ratusan perwira yang lebih senior dan menteri pertahanan.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar