Yamaha NMax

Mencari Pemimpin Inspiratif Melalui Debat Paslon

  Jumat, 18 Januari 2019   M. Naufal Hafizh
Ilustrasi Pilpres. (Attia/Ayobandung.com)

Debat pertama antara dua pasang Capres-Cawapres pada Kamis (17/12/2019) malam, sedikit banyak bermanfaat bagi para calon pemilih. Mereka dapat menilai kualitas para calon pemimpin, kemudian menabung pemahaman untuk memilih yang cocok memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Tentu saja debat pertama belum bisa menjadi faktor penentu karena masih ada empat debat lagi dengan substansi yang berbeda. Selain debat, faktor X turut menentukan pilihan. Harap maklum, bagi tiap-tiap pemilih faktor X ini berbeda-beda.

Debat merupakan merupakan bagian dari pendidikan politik. Tujuannya, memberdayakan masyarakat di bidang politik agar memperoleh daya untuk mengambil keputusan.

Debat politik belum lama diterapkan, alasannya tak sesuai dengan budaya Indonesia dan bisa memantik perbedaan pendapat di kalangan puluhan juta pengikut. Pendapatan keamanan tersebut mencemaskan kerusuhan karena ketidakdewasaan berpolitik.

Dalam debat Kamis malam pun, muncul serpihan budaya itu. Komisi Pemilihan Umum memberi kisi-kisi materi debat agar tidak ada pasangan Capres-Cawapres yang dipermalukan. Maka terjadi keanehan, kertas pertanyaan disegel dalam amplop, tetapi Paslon menjawab berdasarkan contekan yang dibawanya.

AYO BACA : Debat Pilpres 2019: Prabowo Sebut Pendukungnya Diperkarakan, Jokowi Sindir Ratna Sarumpaet

Apa yang ingin dicapai dalam pola seperti di atas?

Kita khawatir, para murid sekolah menjelang ujian akan meniru. Mereka meminta kisi-kisi kepada guru, kemudian belajar hanya pada materi di antara kisi-kisi.

Akibatnya ada kesamaan antara debat Capres dan ujian sekolah, berorientasi kepada prestasi tanpa usaha terlalu keras.

Indonesia merupakan negara besar dengan potensi yang telah terbukti dan belum terbukti. Kalau tidak mempunyai potensi mengapa bangsa-bangsa kolonial Eropa sengaja datang ke Indonesia? Apakah mereka datang hanya dengan panji gospel, tidak disertai gold and glory?

Bangsa-bangsa Eropa itu kemudian Amerika Serikat ketagihan menguasai Indonesia. Cara-cara kekerasan maupun yang lebih halus, seperti melalui sektor pendidikan dipakai untuk menguasai Indonesia. Pertanyaannya, apakah sistem politik, keuangan, investasi, dan perdagangan yang dewasa ini dianut Indonesia berbeda dengan mereka?

AYO BACA : Relawan Nilai Jokowi-Ma'ruf Amin Lalui Debat dengan Baik

Dewasa ini ada kerinduan agar Indonesia berubah. Bayangkan, setiap tahun perlu bahan pangan mengapa selalu impor? Mengapa Indonesia tidak mencari upaya mengurangi ketergantungan kepada impor Migas? Mengapa daya ekspor harus ditopang nilai tukar? Apakah suku bunga tinggi untuk menahan inflasi atau ada maksud lain?

Mengapa kalau menjual obligasi di luar negeri? Mengapa tak jadi-jadi membuat kilang? Mengapa tak bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, padahal tapak sudah ada dan Indonesia punya ahli tenaga nuklir? Mengapa lulusan perguruan tinggi bekerja pada bukan bidang keilmuannya? Apakah ada invisible hand yang mengatur agar Indonesia begini-begini saja?

Pintu Masuk

Debat Paslon merupakan gelanggang untuk menampilkan kehebatan para calon pemimpin rakyat. Kehebatan dalam penampilan. Kehebatan dalam retorika. Kecerdasan dalam menanggapi pertanyaan. Kecepatan berpikir dalam menaklukkan lawan.

Kemungkinan ada yang punya pendapat berbeda, tetapi mengapa tidak dicoba? Debat Paslon selayaknya menimbulkan kesan akhir yang inspiratif bukan adem sebab itu artinya di bawah harapan rakyat.

Debat Paslon bukan pertandingan bulu tangkis. Namun, mengapa tidak ada adegan semenarik tipuan Iie Sumirat, smash silang Rudy Hartono, atau jump smash Liem Swie King yang dikenang sampai sekarang. Mengapa tidak seperti Muhammad Husni Thamrin yang berani berdebat di Volksraad atau Dewan Rakyat. Mengapa tidak berdebat seperti Soekarno–Hatta tentang sistem pendidikan kader partai?

Indonesia merupakan negara besar. Problemnya banyak dan besar. Prospek kondisi dunia maupun regional pun tidak kurang dahsyatnya. Indonesia rindu pemimpin yang inspiratif.

Farid Khalidi

AYO BACA : Ekonomi Jadi Masalah Utama dalam Debat Capres Pertama

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar