Yamaha NMax

Enyas Sofia Ciptakan Aksesori dari Tepung Ketan

  Sabtu, 12 Januari 2019   Fathia Uqimul Haq
Enyas Sofia. ( Fathia Uqim/Ayobandung)

UJUNGBERUNG, AYOBANDUNG.COM--Seorang wanita 49 tahun asal Ujungberung berhasil membuat aksesori dari tepung ketan. Kreasinya diakui masyarakat dan mendapatkan penghargaan dari ajang UMKM tingkat Kota Bandung dan Jawa Barat pada November 2018. Wanita itu bernama Enyas Sofia. Sejak 2007, dia sudah memulai usaha aksesori meski diawali dari bahan batu-batuan. 

"Mulanya membuat aksesori dari batu-batuan, kata temen coba tawarin ke salah satu butik muslim. Akhirnya saya jadi vendor untuk menyetok aksesoris di butik itu," katanya, Sabtu (12/1/2019).

Dia membuat 200 buah aksesoris untuk pesanan pertamanya. Setelah selesai, dia kembali mencipta 600 buah dan seterusnya hingga 2010. Karena dorongan butik yang ingin memiliki barang unik dan tidak pasaran, akhirnya Sofia mencoba teknik baru menggunakan tepung ketan sebagai bahan dasar aksesori. 

"Saya coba dari tepung ketan karena lihat referensi dari Pinterest. Pernah juga buat dari clay asli, saya buat clay-nya. Ya, pas SD kan pernah membuat kerajinan dari tepung juga, nah sekarang saya modifikasi," tuturnya. 

Sebanyak satu kilogram tepung ketan dicampur dengan lem putih, pengawet makanan, tepung kanji, natrium benzoat, dan pewarna makanan. Semua diadon seperti kue dan didiamkan jika sudah kalis. 

Tepung ketan dipilih karena memiliki daya lekat tinggi, ditambah tepung maizena dan kanji yang diikat oleh lem putih kayu membuat aksesoris semakin kuat.

Kelebihan lainnya adalah potensi unik yang menjadi nomor satu. Pasalnya, pembeli akan lebih antusias dengan barang yang unik apalagi aksesori dari bahan makanan. 

"Kalau dari tepung ketan lebih aneh dan tertarik. Orang ngira batu padahal dari tepung ketan. Motif dari tepung ketan bisa banyak karena bisa enggak sama kayak yang lain, jenisnya bisa bermacam-macam seperti bentuk bunga, bulat, atau beads," ujarnya yang memerlukan waktu 3 bulan untuk bereksperimen. 

Setiap kali membuat adonan, Sofia membutuhkan satu kilo tepung ketan yang bisa mengembang menjadi 5 kilogram adonan. Setelah berhasil menjadi sebuah campuran, ibu empat anak itu mengerahkan ibu-ibu PKK untuk membentuk adonan menjadi bunga dan daun. 

Butuh waktu dua hari mulai dari membuat adonan hingga menjadi aksesori siap pakai. Hal ini karena proses pengeringan membutuhkan waktu cukup lama supaya aksesoris dapat berbentuk maksimal.

Setelah itu, aksesori direkatkan ke besi untuk kalung, cincing, gelang, hiasan kerudung, atau syal.

"Yang paling banyak dibeli itu sorodot cinta,  buat hijab syal kayak bros dimasukin ke kerudung disilang dari  kanan kiri, Aksesoris itu buat hiasan yang cocok dicantel di kain hijab," kata dia.

Ciri khas Sofia Handycraft, nama merek aksesorisnya, yakni berwarna pastel supaya terlihat elegan dan cocok digunakan di kain berwarna apapun. Meski begitu, Sofia tetap memproduksi aksesori berwarna cerah karena pelanggan pun banyak yang mencarinya.

"Pelanggannya biasanya ibu-ibu Dharma  Wanita Kota dan Provinsi Jawa Barat, ibu-ibu DPRD Jabar, juga suka mesen waktu itu memesan kalung dari tembaga untuk kumparan listrik, saya buat jadi kalung," ujarnya. 

Aksesori Sofia Handycraft dibanderol Rp25.000 sampai Rp375.000 per buah.

Untuk menjajakan buah karyanya, Sofia biasanya mengikuti pameran  atau pertemuan bulanan Dharma Wanita Kota Bandung atau Provinsi Jawa Barat. 

"Saya hampir setiap minggu ikutan pameran," katanya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar