Yamaha Aerox

Sekjen API Ungkap Alasan Industri Tekstil Jabar Melemah

  Kamis, 10 Januari 2019   Nur Khansa Ranawati
Sekjen API, Kevin Hartanto (kiri) bersama pihak Cotton USA di Hotel Sheraton Bandung, Kamis (10/1/2019). (Nur Khansa/Ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Kevin Hartanto menyebutkan alasan dibalik melemahnya industri tekstil Jawa Barat sejak sekitar 1,5 tahun belakangan. Nilai ekspor industri tekstil dan produk tekstil ( TPT) Indonesia yang meningkat di 2018 dinilai banyak ditunjang dari sektor pakaian jadi.

Menurutnya, program lingkungan Citarum Harum banyak membawa pengaruh pada penurunan produksi tekstil di seluruh lini dari hulu ke hilir. Pembenahan instalasi pengolahan limbah (Ipal) sejumlah pabrik yang memakan waktu mau tidak mau membuat industri harus mengurangi angka produksi.

AYO BACA : Industri Tekstil Masih Jalan di Tempat

"Di 2018 lalu kan masalahnya ada beberapa industri di Jabar yang berhubungan langsung dengan Citarum Harum. Begitu keluar Perpres soal ketidaksesuaian baku mutu dan sebagainya tentu membuat industri terutama di pencelupan harus mengurangi produksi," jelas Kevin ketika ditemui di Hotel Sheraton, Kamis (10/1/2019).

Pembenahan Ipal guna mengurangi pencemaran sungai dan lingkungan atas limbah produksi, Kevin mengatakan, rata-rata bisa memakan waktu hingga dua tahun untuk satu perusahaan. Selama masa tersebut, imbas pengurangan produksi di sektor hulu akan berpengaruh ke hilir sehingga melemahkan industri tekstil secara keseluruhan.

AYO BACA : UPT Tekstil Bisa Bantu IKM Tekan Biaya Produksi

"Sejak pertengahan tahun lalu produksi pencelupan kan langsung drop. Kalau ini drop pasti pengaruh ke hulu-nya. Beberapa industri di Jawa Tengah juga menelepon bahwa stok kain di gudangnya menumpuk. Mereka pun mengurangi produksi, dan pasti produksi benang juga turun. Imbasnya industri spinner dan kain jadi lesu," jelasnya.

Meski demikian, dia pun mengakui adanya kelesuan pasar tekstil secara umum. Ditambah pengurangan produksi, impor pun menjadi hal yang tidak dapat dihindari.

"Memang pasarnya lesu dan ada berkuranganya produksi. Jadi yang kita khawatirkan akhirnya terjadi, yaitu impor," pungkasnya.

AYO BACA : Menperin Kunjungi Industri Tekstil Majalaya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar