Yamaha NMax

Merasa Depresi? Bakteri Usus Anda Bisa Jadi Penyebabnya

  Rabu, 09 Januari 2019   Nur Khansa Ranawati
Ilustrasi depresi. (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Depresi adalah gangguan kondisi mental yang cukup banyak menimpa orang-orang. Sebagaimana dilansir dari Psychology Today, Kamis (9/1/2019), diperkirakan 1 dari 5 orang di seluruh dunia pernah mengalami fase depresi dalam hidup mereka. 

Selama ini, terapi kognitif dan pemberian antidepresan masih dianggap ampuh untuk menangani depresi. Padahal, perawatan ini tidak bekerja untuk lebih dari sepertiga pasien depresi.

Teori depresi yang lebih baru menunjukkan, ketidakseimbangan mikrobiota usus dan disfungsi pada poros yang menghubungkan usus dan otak bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Sebanyak 90% hingga 95% sel dalam usus terdiri atas mikroorganisme, termasuk bakteri, virus, jamur, dan lain-lain. Keseimbangan mikroorganisme yang baik dinilai sangat penting untuk kesehatan mental dan fisik.

AYO BACA : Depresi Memperpendek Usia, Ini Penjelasannya

Praktisi psikolog klinis dan penulis buku The Stress Proof Brain menerangkan, aspek kehidupan modern di perkotaan banyak memberi kontribusi dalam menurunkan jumlah kekayaan mikrobiota usus yang sehat, sekaligus meningkatkan mikrobiota jahat dalam usus.  Beberapa di antaranya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan olahan, antibiotik, pestisida, sanitasi buruk hingga lingkungan perkotaan yang penuh polusi. 

Dia mengatakan, pasien yang depresi menunjukkan profil mikrobiota usus yang berbeda dari orang sehat. Mikrobiota usus mereka kurang beragam dan kurang kaya dibandingkan dengan orang yang sehat.

"Kita sekarang tahu bahwa depresi bukan hanya gangguan mental. Pasien depresi menderita banyak kondisi pada saat yang sama, termasuk disfungsi otak, disregulasi sistem kekebalan tubuh, dan gangguan pada hormon stres," tambahnya.

Mikrobiota usus dinilai mempengaruhi perkembangan sumbu HPA, yang mengatur respons stres dan terlibat dalam pelepasan kortisol.

AYO BACA : 4 Hal Sepele Sehari-Hari yang Jadi Gajala Depresi

Pada orang yang mengalami depresi dan stres kronis, aksis HPA dapat menjadi tidak teratur, sehingga kortisol (hormon stres) berlebih diedarkan ke tubuh. 

"Mikrobiota usus juga memainkan peran dalam fungsi sistem kekebalan tubuh dan mengatur produksi kurir kimia yang disebut sitokin. Ketidakseimbangan sitokin pro-inflamasi dapat menyebabkan peradangan kronis dan kondisi autoimun yang sering terjadi bersamaan dengan depresi," jelasnya.

Mikrobiota usus juga berperan dalam memengaruhi fungsi sistem saraf. Ketidakseimbangan mikrobiota usus dapat memengaruhi tingkat neurotransmiter otak seperti serotonin, yang diketahui memiliki peran besar dalam kemunculan depresi.

Penelitian lain menghubungkan ketidakseimbangan mikrobiota usus dengan penurunan kadar GABA—bahan kimia otak yang terlibat dalam menenangkan kecemasan. 

"Otak dan usus dapat berkomunikasi melalui saraf vagus, saraf besar yang bergerak ke seluruh tubuh," ungkapnya.

Untuk mengembalikan keseimbangan mikrobiota usus, Melanie menyarankan pasien dengan depresi dapat mengonsumsi makanan dan atau suplemen yang mengandung probiotik dan omega 3. Keduanya telah teruji secara klinis pada hewan dan manusia mampu menekan gejala tertekan dan cemas yang berhubungan dengan depresi melalui kandungan nutrisinya.

AYO BACA : Yuk Kenali Ciri-ciri Depresi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar