Yamaha Lexi

Akibat Gizi Buruk, Pemuda 19 Tahun Lumpuh

  Selasa, 08 Januari 2019   Mildan Abdalloh
Ilham Dwi Guna Pangestu. (Mildan Abdalloh/ayobandung)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM--Di usianya yang sudah menginjak 19 tahun, Ilham Dwi Guna Pangestu hanya bisa mengeram atau menangis untuk meluapkan emosinya.

Anak pertama pasangan Dede Irwan (41) dan Heni Mariana (39) tersebut tidak seperti pemuda pada umumnya. Kondisi badan yang terganggu membuatnya tidak bisa apa-apa, selain meluapkan emosinya, lantaran sejak kecil Ilham divonis mengalami gizi buruk.

Heni mengatakan, kondisi fisik Ilham mulai terganggu saat usianya menginjak satu tahun. Panas berkepanjangan merupakan gejala awal yang dirasakan.

"Awalnya panas terus-menerus selama tiga bulan. Sampai kejang-kejang," tutur Heni ketika ditemui di rumahnya, Kampung Babakan Desa, RT 03 RW 14, Desa Pemekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (8/1/2019).

Pada waktu itu, Heni bersama suaminya masih tinggal di Cianjur Selatan. Ilham yang sering mengalami kejang-kejang dibawa ke dokter di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.

"Setelah beberapa tahun, ternyata Ilham tidak tumbuh juga. Kata dokter sih karena gizi buruk," ujarnya.

Seharusnya Ilham mendapat perawatan yang serius. Namun, karena jarak dari kediaman Heni di Cianjur jauh dengan fasilitas kesehatan, ditambah kondisi ekonomi kurang mampu, Ilham hanya dirawat di rumah dan mendapat asupan seadanya.

Sepuluh tahun lalu, Heni bersama keluarga pindah ke Soreang. Kondisi Ilham masih tidak berkembang. Alasan ekonomi menjadikan keluarga tersebut tidak mampu memberi perawatan yang laik.

Sampai saat ini, Ilham hanya berbobot 19 kg. Untuk beraktivitas pun  dia harus dibantu orang lain.

AYO BACA : Begini Langkah Pemkot Bandung Atasi Gizi Buruk

"Inginnya diobati, tapi tidak punya uang," ucap Heni.

Penghasilan Dede sebagai buruh di perusahaan kontraktor bangunan tidak seberapa. Ditambah, dia harus membiayai empat orang anak yang lain.

"Harapannya ada yang membantu, terutama untuk asupan nutrisinya," katanya.

Heni menyebut, Ilham memang tidak tedaftar di BPJS, sehingga dia kesulitan jika harus rutin berobat. Perusahaan Dede memang mendapat fasilitas BPJS dari perusahaannya, namun Ilham tidak terdaftar karena terkendala oleh akta kelahiran yang tidak dibuatnya.

Kasie Pelayanan Desa Pamekaran Yani Rosdiana mengatakan, pihak desa bukan berpangku tangan dengan kondisi Ilham. Namun, lagi-lagi masalah administrasi menjadi kendala.

"Untuk bisa dimasukan dalam PBI (Penerima Bantuan Iuran) BPJS, sudah tidak bisa, karena anggota keluarga yang lain sudah terdaftar di perusahaan Dede," katanya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mendaftarkan Ilham menjadi peserta BPJS mandiri. Pihak desa, kata Heni, berupaya membantu dengan mengurus proses administrasi persyaratan pendaftaran BPJS.

"Untuk penanganan darurat kesehatan, bisa difasilitasi dengan SKTM, tapi fasilitasnya memang tebatas. Hanya Rp5 juta/tahun," ungkapnya.

Pihak desa juga mengajukan bantuan berupa kursi roda kepada Dinas Sosial. Kursi tersebut sudah diterima Ilham beberapa waktu lalu.

AYO BACA : Bandung Pisan: Inisiatif Warga Berantas Gizi Buruk Lewat Omaba Gedebage

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar