Yamaha NMax

300 Mahasiswa Kerja Paksa di Taiwan, Menaker: Perlu Cek Mendalam

  Senin, 07 Januari 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dakhiri. (Ananda M Firdaus/Ayobandung.com)

BEKASI, AYOBANDUNG.COM--Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dakhiri mengaku telah mendengar kabar tentang 300 mahasiswa Indonesia yang diduga dijadikan tenaga kerja paksa di Taiwan.

Hanif menyebut sejumlah kementrian terkait telah berkoordinasi sebelumnya dengan Pemerintah Taiwan perihal kasus ini. Pihaknya pun tidak lama ini telah menghubungi Kamar Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taiwan untuk memastikan kabar tersebut.

"Itu memang sebelumnya ada kerjasama dari kemenristekdikti dengan universitas yang ada disana. Dan ternyata ada kasus itu makanya oleh Kemlu program itu ditutup untuk diinvestagi dulu," kata Hanif usai membuka agenda di Balai Besar Pengembangan Latiihan Kerja Bekasi, Bekasi Selatan, Senin (7/1/2019).

Menurut Hanif jika kabar tersebut benar, maka hal tersebut termasuk kasus penipuan dan bisa diperkarakan ke ranah pidana. Pasalnya Kemenristekdikti bekerja sama dengan universitas di sana dalam rangka kuliah-magang bukan selebihnya.

AYO BACA : Ratusan Mahasiswa Jadi Korban Kerja Paksa di Taiwan

Namun, lanjutnya, pemerintah belum bisa memastikan lebih jauh kebenarannya kendati akan menelusuri lebih dalam sehingga tepat ketika melakukan tindakan, termasuk upaya pemulangan para mahasiswa yang diduga menjadi korban.

"Kita perlu cek lagi karena dari sisi ranah kerjasama itu urusan kemendistekrikti, tapi kalau ada yang memanfaatkan kerjasama itu pasti sudah diluar prosedur. Tapi kita akan cek dan investagi lebih jauh," ujarnya.

Sebelumnya, diberitakan oleh media lokal Taiwan bahwa 300 pelajar Indonesia dipaksa kerja selama 40 jam sepekan di salah satu pabrik lensa kontak di negara setempat.

Disebutkan, 300 pelajar itu berusia di bawah 20 tahun dan terdaftar di Universitas Hsing Wu melalui jasa agen. Sementara dalam laporan media lokal itu, sebanyak enam universitas di Taiwan yang mengirimkan mahasiswa asing di pabrik tersebut.

Politikus lokal Taiwan, Ko Chih-en mengatakan bahwa para pelajar hanya dibolehkan mengikuti kelas dua hari sepekan dan satu hari libur. Empat hari lainnya digunakan untuk bekerja dengan mengemas 30.000 lensa kontak selama 10 jam per harinya.

AYO BACA : Belajar Campur Magang di Taiwan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar