Yamaha Aerox

Pemblokiran Situs, Penyelamatan atau Pemborosan?

  Selasa, 08 Januari 2019   Dadi Haryadi
(Pixabay.com)

Per tanggal 10 Agustus kemarin, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memblokir situs-situs internet yang bermuatan pornografi sebagai salah satu langkah dari sisi hilir mencegah rusaknya anak-anak bangsa akibat situs tersebut.

Faktanya, seperti yang dilansir oleh republika.co.id, menurut psikolog Inge Hutagalung, pornografi menyebabkan rusaknya bagian otak yang bertanggung jawab untuk logika bernama prefrontal cortex dan akan menyebabkan stimulasi berlebihan tanpa saringan lantaran otak hanya mencari kesenangan tanpa adanya konsekuensi.

Akibat dari rusaknya otak tersebut, seseorang yang kecanduan pornografi akan mudah mengalami bosan, merasa sendiri, marah, tertekan, dan lelah. Tentu, kita tidak ingin anak-anak kita memiliki sifat yang seperti itu. Mimpi kita adalah menghasilkan anak-anak muda yang cerdas, inisiatif, dan hal-hal baik lainnya untuk kemajuan bangsa kita. 

Pemblokiran situs bermuatan negatif menghabiskan dana Rp200 miliar hanya untuk membeli mesin sensor internet seperti yang dilansir oleh katadata.co.id. Dana tersebut belum termasuk dana pengadaan jasa, seperti sumber daya untuk tim analisa, tim penelusuran, dan penyedia jaringan yang memakan dana Rp74 miliar. 

AYO BACA : Blokir Dicabut, Tumblr Sudah Bisa Diakses

Pemblokiran yang dilakukan oleh pemerintah saat ini, bekerja sama dengan operator telekomunikasi dan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) adalah dengan mengaktifkan, secara otomatis, fitur yang bernama “safesearch” dari setiap mesin pencari mainstream seperti Google, Yahoo, dan Bing. Langkah ini bermaksud agar pengguna internet tidak dapat menemukan situs pornografi di mesin pencari tersebut. Padahal, penggemar pornografi sudah menghafal situs-situs favoritnya tanpa harus mencari di mesin pencari.

Lalu, apakah dengan memblokir situs bermuatan negatif dapat menghindarkan anak-anak dari mengakses situs-situs tersebut, terutama situs porno? Nyatanya, untuk mengakses situs berbau pornografi, ataupun situs bermuatan negatif lainnya, dapat diakses dengan mudah walaupun pemerintah telah memblokir situs tersebut.

Banyak bertebaran di mesin pencari Google, website yang menyediakan jasa untuk membuka situs-situs yang diblokir oleh pemerintah. Situs tersebut masih dapat ditemukan walaupun dengan mengaktifkan fitur “safesearch”. Situs tersebut dapat membuat dana yang telah dikeluarkan pemerintah terasa percuma karena pengguna internet masih tetap dapat menemukan dan membuka situs-situs keinginannya walaupun sudah diblokir oleh pemerintah.

Pemblokiran situs pun tidak hanya menyerang situs-situs yang jelas-jelas bermuatan pornografi. Situs social networking dan blogging seperti Tumblr-pun diblokir oleh pemerintah. Padahal, situs tersebut digunakan oleh netizen Indonesia sebagai media publikasi para penulis dan ilustrator sama halnya seperti Twitter dan Instagram. Akibatnya, seperti yang dilansir oleh cnnindonesia.com, netizen Indonesia menyerang Kominfo akibat kejadian ini. Ini bisa sebagai bukti bahwa pemblokiran situs masih terasa “bolong” karena masih dapat menghentikan ekspresi masyarakat Indonesia.

AYO BACA : Kominfo Blokir 100.000-an Situs Porno Selama 2018

Padahal, konten berbau pornografi pun tetap ada di situs social networking lain, seperti Twitter dan Instagram. Jadi, penyebaran konten pornografi itu bukan berasal dari situsnya, melainkan berasal dari penggunanya. Apakah pengguna dan pecandu pornografi akan langsung terhenti dengan pemblokiran situs pornografi? Apakah pecandu pornografi sudah sadar mengenai dampak negatif dari mengonsumsi konten pornografi? Apakah pemerintah, selanjutnya, akan memblokir situs Twitter karena tetap ada konten berbau pornografi di situs tersebut?

Pemblokiran situs yang berbau pornografi tidak akan serta merta menghilangkan dan “menyembuhkan” pecandu pornografi. Tidak akan pula langsung menghilangkan pornoaksi dimasyarakat kalau pecandu dan pelaku tidak dibenahi secara langsung. Hal yang mungkin bisa dilakukan oleh pemerintah agar tidak membuang uang Rp200 miliar adalah pengenalan dan pelaksanaan pendidikan seks dimasyarakat.

Masyarakat Indonesia masih tabu jika berbicara mengenai seks. Masih menjadi hal yang aneh dan membuat kikuk orang tua jika anak bertanya mengenai kegiatan seks. Edukasi seks penting agar anak-anak tidak mencari sendiri jawaban atas pertanyaan mereka mengenai hubungan badan antara pria dan wanita. Edukasi seks menjadi penting jika anak-anak ingin tahu mengenai proses pembentukan bayi yang baru lahir.

Jangan biarkan anak-anak yang tidak mengerti apa-apa mendapatkan jawaban mengenai hal-hal semacam itu dari orang lain. Jika pembenahan terhadap orang dewasa sulit, maka jalannya adalah untuk menjaga anak-anak muda untuk tidak kecanduan dan menutup rasa penasaran mereka terhadap hubungan seksual. Jaga kerabat muda terdekat dan tersayang kita dari orang-orang yang tidak sayang mereka dan melakukan hal buruk pada mereka seperti pornoaksi.

Inal Anshar Razak

mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

AYO BACA : Kominfo Blokir Aplikasi Tik Tok

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar