Yamaha Aerox

Negara Sumber Kenyamanan

  Senin, 07 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi negara sumber kenyamanan

Tanggal 19 Desember 2006 adalah kali pertama rakyat Indonesia merayakan Hari Bela Negara. Hari Bela Negara ini adalah buah karya Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006.

Mengapa 19 Desember disebut Hari Bela Negara? Keputusan itu datang dari sejarah pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) atau Kabinet Darurat di Sumatera Barat pada tahun 1948. Dikutip dari liputan6.com, PDRI adalah inisiatif dari Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI saat itu, atas terjadinya Agresi Militer Belanda II.  Agresi Militer Belanda II adalah saat Yogyakarta diduduki Belanda lalu Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, serta beberapa menteri ditangkap Belanda.

Untuk apa PDRI dibentuk? Menurut polkam.go.id, situs Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI, PDRI dibentuk guna menjaga keutuhan negara Republik Indonesia karena Agresi Militer Belanda II itu mengumumkan tidak adanya lagi negara Indonesia. Dengan adanya PDRI, pemerintahan tetap berlangsung dengan membawa kecintaan terhadap Indonesia walaupun Indonesia, pada saat itu, belum sepenuhnya merdeka karena belum memenuhi salah satu syarat pendirian sebuah negara, yaitu pengakuan dari negara lain, selain ada pemerintahan, rakyat, dan wilayah.

Lalu, kenapa hari pembentukkan PDRI disebut sebagai Hari Bela Negara? Menurut situs tersebut, bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaanya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dengan definisi tersebut, Sjafruddin Prawiranegara serta Teuku Mohammad Hassan (Menteri Dalam Negeri/Menteri PPK/Menteri Agama) dan rekannya yang lain telah memberikan upaya dan contoh kepada rakyat selanjutnya bahwa kecintaan pada negara itu begitu besar dan upaya mereka mendirikan PDRI adalah bentuk usaha untuk menjaga kedaulatan NKRI.

AYO BACA : Korupsi, Tolok Ukur Pemahaman atas Pancasila

Bela Negara Saat Ini

Negara bagaikan rumah tempat bernaung yang berisikan saudara, rekan, bahkan pelindung. Seperti rumah pada umumnya, negara adalah tempat beristirahat yang nyaman. Seorang tanpa negara seperti gelandangan di mata dunia yang tidak siapa pun orang yang mengakui keberadaannya. Maka dari itu, sudah jadi keharusan kita membela negara ini.

Namun, sudah berapa banyak upaya Anda untuk membela negara ini? Sayangnya, sudah berapa sering Anda mengamalkan ideologi dan dasar negara ini, yaitu Pancasila? Untuk sila pertama saja, masih ada orang yang tidak mengamalkannya. Sila yang menyebutkan 'Ketuhanan yang Maha Esa' yang saya artikan sebagai keimanan pada Tuhan bagi setiap rakyat dengan agamanya masing-masing tidak dilaksanakan dengan baik. Ada orang dengan agama tertentu yang ia anut, namun di sisi lain ia melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama tersebut.

Apalagi untuk sila selanjutnya? Masih ada empat sila lagi yang harus dijadikan oleh kita pedoman untuk bernegara.

AYO BACA : Ridwan Kamil: Pancasila Landasan Hidup Bangsa Indonesia

Pancasila dibentuk dengan maksud menyatukan rakyat Indonesia dengan seadil-adilnya, tertuang pada sila kelima 'Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia’. ‘Keadilan Sosial’ yang dimaksud bukanlah tugas pemerintah semata, melainkan tugas rakyat Indonesia untuk mewujudkan keadilan baginya. Tugas bagi pemilik perusahaan, tugas bagi guru, bahkan tugas bagi kepala keluarga, untuk memberikan keadilan.

Keadilan tersebut haruslah sejalan dengan Hak Asasi Manusia, seperti yang disebutkan dalam sila kedua, ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’. Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa negara adalah rumah tempat bernaung yang ada saudara, rekan, dan pelindung di dalamnya, rumah ini haruslah nyaman dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ada. Hukuman yang setimpal untuk orang yang bersalah, hadiah yang sepantasnya untuk orang yang benar.

Tujuan dari didirikannya sebuah pemerintahan, bahkan ‘darurat’ sekalipun, agar rakyat Indonesia tetap bersatu. Tetap menjaga silaturahmi sesama warga negara Indonesia walaupun berada di negara yang jauh di sana. Janganlah kita membuat kekicruhan sehingga kita dijadikannya musuh bersama bagi sesama warga negara Indonesia. Bertuturlah yang baik, berperilakulah yang baik, itu adalah bentuk kecintaan kita terhadap negara ini, bahkan terhadap diri kita sendiri.

Sudah tidak perlu lagi kita membawa bambu runcing, sudah tidak perlu lagi kita bertumpah darah untuk mengusir penjajah, bahkan sudah tidak perlu lagi kita untuk berteriak sekencang-kencangnya untuk bersatu. Yang perlu kita lakukan adalah bertutur kata yang baik. Dengan itu, perjuangan-perjuangan pahlawan akan tetap ada. Jadilah pahlawan masa kini yang mempersatukan Rakyat Indonesia dengan tutur kata yang indah. Negara ini adalah rumah bagi kita, jadikanlah tempat ini menjadi nyaman untuk kita dan orang lain juga.

Inal Anshar Razak

AYO BACA : Pesan Ridwan Kamil di Hari Kesaktian Pancasila

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar