Yamaha Aerox

Alasan Perlunya Mengembalikan Senyum Anak Setelah Bencana

  Senin, 07 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi alasan perlunya mengembalikan senyum anak setelah bencana. (Pixabay)

Kejadian gempa di Palu dan Donggala menyisakan pilu yang mendalam bagi seluruh Indonesia, khususnya para korban.

Kejadian gempa di Palu ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Tirto.id melaporkan bahwa pada 1 Desember 1972, gempa dan tsunami pernah terjadi di Teluk Palu yang menewaskan 14 jiwa. Lalu, tiga tahun kemudian, yaitu 30 Januari 1930, kejadian serupa terjadi di Pantai Barat Donggala. Tak sampai disitu, delapan tahun kemudian, 14 Agustus 1938, gempa dan tsunami kembali mengguncang Teluk Tambu Balaesang Donggala. Tsunami mencapai ketinggian 8-10 meter dan memakan korban sejumlah 200 korban meninggal dunia, 790 rusak dan seluruh desa di pesisir pantai Barat Donggala hampir tenggelam.

Tak hanya pada masa penjajahan Belanda, 1996 adalah tahun pertama setelah hampir 58 tahun bencana ini seolah “terdiam”. Tsunami yang mencapai ketinggian 3,4 meter dan mencapai daratan sejauh 300 meter menewaskan 9 orang dan merusak bangunan-bangunanan di Bangkir, Tonggolobibi, dan Donggala.

Dua tahun berselang, tahun 1998 gempa kembali mengguncang Donggala dengan merusak ratusan bangunan. Enam tahun yang lalu, guncangan gempa terjadi di Kabupaten Sigi dan Parigi Montong dan menewaskan 8 orang.

Tahun ini, gempa yang membuat sedih dan pilu banyak orang itu terjadi lagi. Dengan memakan korban (per 25 Oktober 2018) sejumlah 2.081 orang, menggerakkan hati berbagai macam pihak termasuk United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF). 

AYO BACA : Pergerakan #MeToo dan Trauma Seksual Perempuan

Dikutip dari harian Analisa Medan yang terbit pada Rabu, 24 Oktober 2018, UNICEF membantu para korban yang ditinggalkan dengan mengisi berbagai macam hiburan untuk anak-anak di Palu. Hal ini sangatlah penting dan perlu untuk dilakukan karena pemulihan trauma masih kurang untuk diperhatikan, khususnya pada anak-anak.

Anak-anak dan remaja adalah pihak yang paling tentan mengalami trauma akibat bencana. Hal ini disebabkan karena mereka belum memiliki kapasitas yang memadai dalam mengontrol emosi dan menyelesaikan masalah secara adaptif.

Dwi Utari Nugroho dkk. menuliskan dalam jurnalnya yang berjudul “Sekolah Petra (Penanganan Trauma) Bagi Anak Korban Bencana Alam” bahwa trauma dapat menyebabkan masalah besar dalam kehidupan pascabencana alam yang saya artikan bahwa trauma dapat berkelanjutan dan dapat bermasalah dalam menjalankan kehidupan di masa yang akan datang.

Ada beberapa faktor yang menjadi kendala perlindungan anak dalam penanganan bencana alam di Indonesia, yaitu belum adanya Undang-Undang tentang penanggulangan bencana, belum adanya rumusan kebijakan tentang perlindungan khusus bagi anak dalam situasi darurat seperti bencana, penanganan bencana selama ini masih terpusat pada tahap penyelamatan korban dan belum menyentuh pada pemulihan hak korban anak bencana, terbatasnya pengetahuan orang tua dan masyarakat, terbatasnya sumber daya bagi perlindungan korban anak bencana, dan koordinasi dan kerja sama antara lembaga yang belum efektif.

Faktor-faktor ini haruslah segera diselesaikan karena perlindungan korban bencana alam tidak hanya terkait dengan penyembuhan fisik, tetapi yang tidak kalah penting adalah penanganan luka trauma akibat bencana dan dikhususkan kepada anak-anak karena pada umumnya anak-anak lebih rentan mendapatkan trauma.

AYO BACA : Korban Penyerangan KKB Asal Garut Diberi Trauma Healing

Anak-anak dapat kehilangan senyum di wajahnya secara berkelanjutan jika penangan trauma (trauma healing) ini tidak segera dilakukan. Seperti yang ditulis pada harian Analisa Medan bahwa anak korban bencana langsung murung setelah ia menghabiskan waktu siangnya untuk membantu dan bermain lalu kembali ke tempat pengungsian.

Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa haruslah dijaga agar terhindar dari masalah-masalah kesehatan fisik dan mental, apalagi terhadap anak-anak korban bencana. Bantulah anak-anak yang terlihat murung, cemas, gugup, sensitif, karena bisa jadi ini adalah tanda-tanda bahwa anak tersebut memiliki trauma pascabencana.

Kita sebagai orang dewasa haruslah dapat membantu dengan menumbuhkan rasa optimistis kepada anak-anak korban bencana agar mereka terhindar dari rasa takut, cemas, dan pesimistis akibat dari trauma pascabencana ini.

Cara yang dapat dilakukan oleh kita adalah mendorong anak untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya agar mereka tidak memendam perasaan tersebut. Selalu tanya keadaan mereka karena beberapa dari mereka dapat, dengan pandainya, memainkan tubuhnya agar tidak terlihat sedih dan cemas. Selain itu, kita juga haruslah menjadi role model yang positif dan selalu memberikan petuah optimistis kepada anak-anak karena ada kemungkinan dari 2.081 korban itu adalah orang tua mereka.

Inal Anshar Razak

Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

AYO BACA : Tsunami Selat Sunda: Pengungsi di Lampung Masih Khawatir Tsunami Susulan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar