Yamaha Aerox

Benarkah Bahasa Daerah Kini Menjadi Masalah?

  Senin, 07 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi benarkah bahasa daerah kini menjadi salah?. (Pixabay)

Berbicara mengenai bahasa, mulai dari bahasa daerah hingga bahasa sansakerta, tentu penggunaannya selalu terikat dengan konteks.         

Sayangnya, jika dilihat lebih dalam lagi, kini Bahasa seakan akan menjadi bumerang bagi para penggunanya terutama di kota-kota besar di Indonesia. Secara tidak langsung, gaya bahasa seseorang bisa menunjukkan branding orang tersebut.

Mereka yang menggunakan bahasa daerah ketika berada di lingkungan tertentu seperti kampus, pusat perbelanjaan, kantor hingga sekolah dianggap sebagai orang yang udik dan kampungan. Mereka yang berbicara medok terlihat seakan-akan berasal dari tempat yang jauh dan tidak layak ketika bersanding dengan orang-orang kota yang katanya hidup mewah dan sosialita.

Tentu hal tersebut sangat tidak dibenarkan mengingat Indonesia merupakan negara dengan banyak bahasa, bahkan menurut Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Kebudayaan menyatakan, berdasarkan data terakhir, Indonesia memiliki 652 bahasa daerah. Survei tersebut selalu diperbarui setiap bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa.

AYO BACA : Bahasa Kesatuan atau Bahasa Kekinian?

Nyatanya, dengan adanya branding mengenai orang yang menggunakan bahasa daerah tersebut memaksa mereka untuk bisa menyesuaikan dengan kaum perkotaan dan bahkan tidak sedikit sampai menghilangkan bahasa lokal tersebut di kehidupan sehari-harinya.

Dampaknya, bahkan cukup buruk sehingga menjadikan Bahasa daerah mengalami kepunahan tercatat oleh UNESCO bahwa Bahasa daerah di Indonesia setiap 15 hari sekali mengalami kepunahan.

Tentu hal tersebut bukanlah hal sepele mengingat bahasa daerah merupakan salah satu dari budaya Indonesia. Jika terus-menerus terjadi, negara berbudaya ini akan sedikit demi sedikit kehilangan identitasnya. Perlu diingat Indonesia bukanlah negara Adikuasa, bukan juga negara berteknologi tinggi, bukan pula negara militer, tetapi Indonesia merupakan negara yang berbudaya.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan poin B yang menjelasakan bahwa keberagaman kebudayaan daerah merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang sangat diperlukan untuk memajukan kebudayaan Nasional Indonesia di tengah dinamika perkembangan dunia.

AYO BACA : Kata ”Tolong”, ”Maaf”, dan ”Terima Kasih” dalam 24 Bahasa Daerah

Menyinggung hal tersebut entah sudah terealiaisasikan atau belum hal tersebut tetap menjadi problematika tersendiri di Indonesia di tengah kemajuan zaman. Mungkin pemerintah perlu melangkah lebih lagi untuk bisa mendorong rakyatnya agar bisa bersaing dengan dunia namun tidak melupakan kebudayaannya.

Salah satunya dengan cara terus-menerus mengedukasi kepada masyarakatnya mengenai pentingnya bahasa daerah serta melakukan pemahaman dengan mendorong citra bahwa bahasa daerah merupakan bahasa yang mengagumkan serta menunjukkan persatuan di tengah perbedaan. Hal tersebut bisa dipropagandakan dengan menggunakan media konvensional atau-pun menggunakan media sosial, yang mungkin sedikit demi sedikit akan menghasilkan dampak yang positf.

Dengan begitu, masyarakat akan tidak merasa malu ataupun minder ketika berbahasa daerah, justru akan sebaliknya, mereka akan lebih percaya diri ketika membawa bahasa daerah ke daerah perkotaan. Lebihnya lagi, masyarakat yang membawa logat bahasa daerahnya masing-masing akan menimbulkan keingintahuan yang lebih dari orang-orang sekelilingnya dan menjadikan mereka untuk saling bertukar dan mempelajari bahasa daerah tersebut.

Tentu sangat sulit semua itu dilakukan jika tidak didasari dari peran individunya masing-masing terutama oleh pemuda, antara lain kita sendirilah yang harus menimbulkan kebanggaan sedari awal. Maka dari itu, dari sekarang berhentilah beranggapan bahwa bahasa daerah merupakan bahasa yang kuno dan kampungan. 

Bachtiar Rojab

Mahasiswa Jurnalistik, Universitas Padjadjaran

AYO BACA : Kata ”Tolong”, ”Maaf”, dan ”Terima Kasih” dalam 35 Bahasa Daerah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar