Yamaha Lexi

Bahaya Seksualitas dalam Media Online

  Senin, 07 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi bahaya seksualitas dalam media online (Pixabay).

Kemajuan teknologi begitu terasa di setiap kalangan, mulai khalayak dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas. Tidak dipungkiri bahwa semua yang dilakukan manusia tidak luput dengan yang namanya teknologi, begitu pun dengan media massa. Dulu media massa hanya berupa lembaran kertas. Kini berevolusi seiring kemajuan teknologi, seperti televisi, radio, dan online.

Dampaknya, kita semakin mudah mengakses informasi, baik informasi umum bahkan sampai yang berbau negatif.

Sudah menjadi rahasia umum di era modern ini konten-konten video porno mudah diakses semua orang. Hal tersebut dapat dilihat di Whatssapp, Line, Instagram, dan lain-lain. Media komunikasi yang memudahkan masyarakat mendapatkan informasi juga dapat dengan mudah dipakai akses untuk hal tabu berbau pornografi.

Dalam Instagram contohnya, banyak akun-akun yang sangat vulgar dan mudah diakses semua orang, walau dengan durasi yang cukup singkat namun hal tersebut berbahaya jika ditonton anak-anak di bawah umur.

Banyak juga remaja Indonesia yang berani meniru foto-foto vulgar tersebut, yang tentunya sangat miris jika terlihat di budaya kita yang mengedepankan sopan santun dan tata krama. Tak hanya meniru, bahkan mereka bisa berpenampilan seperti idola-idola mereka di Instagram tersebut.

Dalam Line pun tidak luput dengan akses video porno, mereka dengan mudah mengirim konten-konten pornografi melalui media tersebut, bahkan banyak juga Official Account yang menyediakan konten-konten video porno gratis maupun berbayar. Bahkan ada juga jasa yang mencari ataupun dengan sengaja mengakses bagian-bagian intim wanita Indonesia dengan menyediakan jasanya, ada yang berani menyediakan jasa video call bertema seks dengan diiming-imingi uang ataupun pulsa.

Dalam Whatssapp pun tidak beda jauh dengan line, banyak dengan mudah orang-orang mengirim konten-konten pornografi, banyak juga seperti Line grup-grup yang berbau pornografi. Miris memang hal yang positif pun bisa menjadi hal yang negatif jika dipegang oleh oknum.

Dan hal yang berada di media massa online tersebut dikenal dengan istilah sexting. Sexting meurupakan aktivitas berkirim pesan yang temanya seksual atau pornografi.

Sangat miris jika kita melihat anak muda zaman sekarang yang mudah sekali mengakses segala hal yang berbau negatif, terutama para remaja yang melakukan sexting, mereka dengan mudah mengirim bentuk tubuhnya ke pacarnya seakan-akan kepercayaanlah yang mereka kirim.

Para remaja tersebut biasanya laki-laki yang dominan meminta foto telanjang dari wanitanya, dan sering kita dengar dengan istilah PAP (Post a picture) dari obrolan-obrolan menyimpanglah biasanya hal tersebut terjadi.

Tidak sedikit juga wanita yang menolak hal tersebut bahkan tidak sedikit juga yang percaya dan mengirim begitu saja.

Bahkan banyak juga cara yang dilakukan lelaki untuk mendapatkan foto syur tersebut, lelaki yang biasanya memiliki gombalan-gombalan maut yang biasanya dengan mudah menaklukan kepercaya dari para wanita.

Bahkan lebih gilanya lagi beberapa lelaki mengirimkan foto telanjangnya terlebih dahulu agar wanita mau mengirimkan dan percaya terhadap lelaki tersebut. Namun, saya kisahkan ini tidak semua pasangan remaja, banyak juga remaja Indonesia yang masih sehat dan belum tercemar pornografi.

Dikutip dalam survei yang dilakukan majalah Hai bahwa 59 dari 250 wanita mengaku pernah mengirimkan foto telanjang kepada pacar/teman mereka. Foto-foto tersebut dapat mereka perjualbelikan untuk memenuhi uang sakunya.

AYO BACA : Sutradara Video Porno Anak Dituntut 7 Tahun

Harga dari foto tersebut bisa dijual Rp10-30 ribu. Bahkan, video pun bisa diperjualbelikan dengan harga yang lebih mahal yaitu Rp50 ribu hingga ratusan ribu. Bahkan banyak pula dijadikan kepuasan tersendiri dan menjadi koleksi-koleksi bagi mereka, dan hingga tersebar begitu saja

Sungguh miris memang, negara yang menjunjung tinggi nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak mencerminkan nilai yang dianut bangsa Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia, khususnya kaum generasi milenial, sudah seharusnya kita dapat menggunakan teknologi dengan bijak agar tidak disalahgunakan yang dapat menyebabkan penyebaran informasi berbentuk pornografi.

Kasus penyebaran foto secara luas tersebut merupakan salah satu bentuk pelecehan kepada kaum wanita, seperti penyebaran kasus video porno misalnya, masyarakat cenderung untuk lebih menyalahkan wanita dibandingkan pria.

Wanita dalam kasus video tersebut lebih gencar dicari keberadaannya dibandingkan pria. Citra dan reputasi wanita tersebut terancam hancur karena dikucilkan oleh masyarakat luas.

Sementara itu, pria dalam kasus video porno tidak sehancur dengan wanita. Wanita harus benar-benar menanggung malu keluarga besar terutama ketika wanita tersebut hamil dan melahirkan seorang anak. Kasus video porno tersebut tidak akan pernah selesai dan akan berimbas pada keberlangsung hidup sang anak.

Anak yang lahir di luar nikah diatur dalam Pasal 43 ayat (1) UU No 1/1874 tentang Perkawinan. Pasal ini sebelumnya dianggap bertentangan dengan UUD 1945, sehingga telah diamandemen melalui Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) berdasar Putusan MK No 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012. Tujuan amandemen tersebut agar anak di luar nikah tidak hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya saja, tetapi juga dengan ayah dan keluarga ayahnya. Sebelum mengurus dokumen pengesahan anak di luar nikah ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Anda harus memperoleh penetapan pengadilan yang dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi atau biasanya dengan melakukan tes Deoxyribonucleic Acid (DNA).

Hubungan seks dan bagian tubuh wanita merupakan hal pribadi yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh khalayak luas, dicari keberadaannya bahkan menjadi trending topic dalam akun media sosial dan pencarian Google terpopuler.

Sulit memang hal seperti itu tidak terjadi di era sekarang, karena seakan-akan semua sudah difasilitasi di mana pun dan bisa diakses kapan pun, tergantung dari setiap individu-individu menolak maupun lebih menjaga diri dari setiap hal-hal negatif. Kurangnya pengawasan dari orang tua tidak luput dari hal seperti ini, mungkin banyak faktor yang meliputi namun kita bisa lihat di zaman sekarang anak yang lebih muda lebih mengerti dan menguasai dibanding dengan orang tuanya, hingga akhirnya para orang tua melepas tanggung jawab tersebut karena tidak memahami hak tersebut.

Solusinya, pihak orang tua terus mengawasi tingkah laku anak, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Solusi besarnya, mungkin pemerintah lebih waspada dengan hal-hal yang berbau pornografi, seperti terus-menerus berkampanye tentang penggunaan teknologi bagi anak di bawah umur dan remaja.

Pemerintah pun harus ikut andil dalam hal-hal yang bisa merusak moralitas bangsa, karena kita tahu pemudalah yang akan menjadi tongkat estafet dari kemajuan bangsa, karena pemuda yang korup akan mengubah bangsa di kemudian hari menjadi bangsa yang korup, dan jika banyak pemuda yang candu dengan pornografi akan sering terjadi juga tindak kejahatan terumatama tindak kejahatan seksual.

Dan walaupun perkembangan media massa adalah hal yang sangat baik, tetapi tentu saja semua hal itu harus tetap diawasi dan dijaga.

Bachtiar Rojab

Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

AYO BACA : Polisi Ciduk Sutradara dan Pelaku Video Porno Bocah di Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar