Yamaha Aerox

Menelisik Peluang Bagi Pelaku E-Commerce pada 2019

  Minggu, 06 Januari 2019   Dadi Haryadi
Cooperative Fair 2018. (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

Siapapun yang menjadi pemenang dalam Pilpres mendatang akan tetap membuat Indonesia menjadi negara terbuka, baik secara politik maupun investasi. Kondisi yang membuat perusahaan yang bersandarkan kepada teknologi komunikasi, lebih makin bertumbuh dan berkembang.

Singapura misalnya, suatu ketika akan menghadapi dilema. Pendapatan penduduknya mencapai US$61.766 per orang, separuh dari  Luksemburg US$ 120.061 namun hampir 20 kali lipat dari pendapatan penduduk per orang di Indonesia. Meskipun begitu, penduduk Singapura kurang memiliki kebebasan mengemukakan pendapat dan berserikat, padahal yang mereka berpendapatan tinggi umumnya sangat ingin mengaktualisasikan diri.

Jadi Indonesia sesungguhnya merupakan negara yang secara relatif sangat ideal. Kebijaksanaan ekonominya liberal dan meskipun gaduh namun sistem politik yang demokratis yang dianutnya telah teruji.

Kondisi di atas relatif nyaman bagi bisnis e-commerce. Apalagi pendapatan penduduk bertabah. Jumlah pengguna HP meningkat dan tambahan lagi masyarakat sangat cepat menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi komunikasi.

AYO BACA : UMKM di Jabar Diajak Go Online

Pasar Yang Besar

Indonesia merupakan pasar dengan jumlah kelas menengah yang terus tumbuh, berkali lipat dari jumlah penduduk Malaysia. Pengguna komputer dan smartphone dipastikan lebih dari seratus juta. Masyarakat pun mulai terdidik memanfaatkan gadget buat membeli tiket maskapai penerbangan, konser, pertandingan sepakbola,  bioskop, membeli barang-barang konsumsi, bayar listrik, air minum,  BPJS, zakat, pajak dan sebagainya.

Kementerian Perindustrian menargetkan nilai e-commerce Indonesia bisa mencapai US$130 miliar pada tahun 2020, naik beberapa kali lipat dari 2017 dan tahun 2018. Target yang tinggi itu masuk akal sebab telah  pemerintah membangun infrastruktur dengan membangun jaringan optik, Palapa Ring, yang menghubungkan serat optik tiap kabupaten dan kapasitas Bandwith yang diperbesar, kata Menperin Airlangga Hartarto beberapa bulan lalu.

Dalam menanggapi perkembangan itu, puluhan perusahaan ritel yang menggeser fokusnya kepada e-commerce. Sebagai contoh, Uniqlo memberi hadiah selembar T-Shirt Airism kepada konsumen asalkan mau memberikan e-mail-nya. Taktik ini memotong biaya sebab manajemen Uniqlo langsung mengiklankan produknya ke konsumen. Bila mau membeli sudah tersedia lamannya.  

AYO BACA : UMKM Jabar Masih Terhambat Pemasaran

Peluang UMKM

Pemerintah menargetkan 8 juta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia melakukan perdagangan secara online pada 2019. Berbagai upaya percepatan terus dilakukan agar pelaku usaha dalam negeri menjadi pemain utama.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 61,41%, dengan jumlah UMKM hampir mencapai 60 juta unit. Namun, baru sekitar 8% atau sebanyak 3,79 juta pelaku UMKM yang sudah memanfaatkan platform online untuk memasarkan produknya.

Sekalipun ini pasar dalam negeri, tetapi peluang harus direbut. Nama-nama besar dalam e-commerce dunia mulai ikut campur tangan karena ceruk pasar e-commerce Indonesia masih terbuka luas dan nilainya amat besar. Mereka yang memiliki manajemen yang yang prima, penguasaan teknologi komunikasi mutakhir, jejaring yang luas dan dukungan pemerintahnya, pastilah akan menguasai pasar domestik. Kecenderungan ini mengingatkan kita kepada penguasaan asing di sektor perbankan/keuangan, ritel dan sebagainya.

Dengan demikian selagi masih ada peluang, pemerintah pusat maupun daerah hendaknya all out mendukung UMKM karena manfaatnya amat luas. Tambahan pula, pengusaha nasional tentu lebih faham dinamika pasar domestik dari perusahaan asing.

Farid Khalidi

AYO BACA : OVO QR Code Dukung UKM untuk Go Digital

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar