Yamaha

Festival Putu Wijaya: Ketika Teater Sonder Dokumentasi

  Sabtu, 05 Januari 2019   Dadi Haryadi   Netizen
Festival Putu Wijaya. (istimewa)

Dokumentasi teater Indonesia bukan saja perlu bagi para pekerja teater, tapi juga bagi perkembangan bangsa dan negara. Dan sampai hari ini sejarah Indonesia masih didominasi sejarah resmi. Relevansi dokumentasi teater menjadi lebih lagi mengingat kini tampak makin berlimpah orang hilang ingatan.

Memang sejarah dominan itu tidak lagi memandang sejarah sebagai irama kosmik. Manusia sudah didaulat sebagai pembuat sejarah. Namun, manusia yang didaulat sebagai pembuat sejarah itu kebanyakan manusia yang bukan manusia. Aspek-aspek yang dianggap negatif dibersihkan dari mereka.

Sebaliknya, aspek-aspek yang positif tak cukup dilekatkan kepadanya, tapi pun dibesar-besarkan. Peristiwa-peristiwa masa lalu diseleksi dan kemudian dirangkai dengan peristiwa-peristiwa fiktif untuk membuat masa lalu menjadi panggung tempat para pembuat sejarah digelembungkan.

Rekayasa masa lalu sehingga menjadi panggung sejarah seperti itu sulit membantu kita mengusut dan keluar dari kemelut sejarah. Tak mustahil bahkan kita menjadi makin hilang daya membaca jejak langkah para pendahulu sehingga kita dikutuk mengulang era-era kegelapan. Tentu kita ogah menjadi keledai yang jatuh kembali ke lubang yang sama. Kita sama rindu hidup dalam sejarah di mana potensi-potensi kemanusiaan kita berkembang.

Putu Wijaya memandang teater sebagai tontonan. “Seperti peristiwa memasak, dalam setiap produksi tontonan ada beberapa unsur yang akan diracik untuk ber-”gotong royong” membangun rasa. Ungkapan yang dipakai Bung Karno untuk memadatkan Panca Sila menjadi Eka Sila itu begitu “seksi” dalam pemahaman saya. Di dalamnya ada pergulatan bersama yang energetik, dinamis, dan mutual. Pamrihnya ke satu tujuan yang disepakati tanpa direcoki kepentingan pribadi.

“Dalam sebuah produksi pementasan ada naskah (yang mewakili penulis). Ada sutradara (dengan segala ambisi dan persoalan dalam proses latihan). Ada pemain (dengan berbagai latar belakang). Ada sektor penataan artistik (set, lampu, suara, musik, kostum, rias, spesial efek, multimedia, dan sebagainya). Ada sektor produksi (dengan segala usul dan kepentingan promosi). Serta ada penonton yang dibayangkan akan ada (dengan berbagai tuntutan dan kiepentingan, ingin hiburan atau masukan batin). Dan ada para pengamat (yang suka, tak suka, dan tak peduli).” Begitu Putu Wijaya menulis dalam Catatan Kaki.

Kecuali itu, penjadian teater pun bertaut dengan keuangan pekerja teater, penonton, dan pengamatnya. Peristiwa ini belakangan makin banyak yang juga dimungkinkan oleh kesertaan perusahaan bisnis. Hal ini bertaut pula dengan keadaan dan kebijakan perekonomian nasional yang makin sulit lepas dari dinamika perekonomian global.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Kedigdayaan Tubuh dan Imajinasi

Dan tontonan ini ada bedanya juga dengan memasak. Memasak merupakan kegiatan (di ruang) domestik. Tontonan adalah kegiatan (di ruang) publik. Sebagai kegiatan (di ruang publik), teater bersinggungan dengan publik dan lembaga-lembaga yang berwenang mengurusnya.

Teater pun menjadi ketika ia berlangsung. Begitu selesai, teater usai. Dan keberlangsungannya juga dimungkinkan oleh keterlibatan penonton. Puisi dan lukisan tak begitu. Puisi jadi sebelum diterbitkan. Lukisan jadi sebelum dipamerkan. Dan keduanya bisa hidup ratusan tahun, bisa dinikmati di tempat yang berbeda-beda. Konsekuensinya produksi teater dimulai dengan mengenali penontonnya. Ini berarti teater pun bertaut dengan budaya-budaya tempatnya menjadi.

Maka dokumentasi teater bukan saja dokumentasi serangkaian negoisasi dan konsensus pekerja teater dengan sesamanya, bukan saja dokumentasi serangkaian negoisasi dan konsensus pekerja teater dengan keluarga dan lingkungan sosial masing-masing. Dokumentasi teater juga dokumentasi serangkaian negoisasi dan konsensus grup-grup teater dengan berbagai kuasa yang ada seperti kuasa pemerintahan, kuasa militer, kuasa agama, kuasa ekonomi, kuasa budaya,dan kuasa media.

Pekerja teater bisa menjadikannya bahan-bahan untuk mengembangkan dirinya di panggung, di rumah, dan di masyarakat. Dokumentasi teater juga menyediakan bahan-bahan bagi penulisan sejarah bangsa yang dasar adanya dan tujuannya menumbuhkan individualitas dan sosialitas setiap anak bangsa demi kebaikan bersama. Sejarah seperti ini menghadirkan jejak langkah orang-orang yang berdarah dan berdaging, yang punya kekurangan dan kelebihan, dalam kenyataan yang kompleks. Juga sangat mungkin sumber pelajaran dan inspirasi untuk membangun masa depan seperti kita impikan.

Namun, hampir tak ada grup teater yang dihidupi teater. Kebanyakan grup teater menghidupi teaternya. Kebanyakan pekerja teater patungan untuk menjadikan tontonan. Dan ini kebanyakan jauh dari mudah.
\nMemang mungkin masalah itu ada juga kaitannya dengan posisi teater kontemporer Indonesia. Teater jenis ini dilahirkan sejumlah cendekiawan.

Di negara (bekas) jajahan, teater kontemporer lahir sebagai resistensi terhadap kolonialisme. Teater kontemporer berusaha bersama bidang-bidang lain menyetop eksploitasi kekayaan alam, budaya, dan manusia demi akumulasi kapital kaum modal global dan negara penjajah. Eksploitasi ini dilakukan dengan bantuan kaum elite pribumi. Mentalitas dan lembaga-lembaga feodal sengaja dipertahankan untuk memobilisasi rakyat dengan ongkos murah. Inilah yang membuat teater kontemporer pun melawan tatanan lama yang mendukung penjajahan. Namun, mereka belum diterima.

Sampai kini kebanyakan grup teater Indonesia masih sulit dapat penonton. Mereka masih pontang-pontang mencari penonton. Berbagai usaha dilakukan untuknya. Sejumlah grup mengerahkan para pekerja teater, bukan saja bagian produksi. Bahkan tak sedikit sutradara yang ikut ngider menjajakan tiket yang umumnya paling mahal Rp100.000.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Indonesia Beruntung Punya Putu Wijaya

Jadilah bahkan grup-grup teater kelas satu belum mampu membuat dokumentasi komprehensif. Putu Wijaya mengakui, “Dokumentasi tak pernah tergarap dalam perjalanan sastra atau teater saya. Baru kalau datang kebutuhan, kalang kabut mencari ke “gudang” dan hanya menemukan yang tak dicari. Dengan keki saya campakkan semuanya,karena gudang saya bukan dokumentasi, tapi bak sampah.”

Aktor tubuh kelas satu Tony Broer contoh lain. Digembleng di Teater Payung Hitam, Tony lebih jauh mengeksplorasi daya ekspresi tubuh dengan menyuntuki butoh. Dia terbang ke Jepang dan berguru ke tokoh-tokoh butoh.

Sekembali dari sana, hampir tiap hari melatih tubuhnya di jalan, di pasar, dan di ruang-ruang lain lagi. Proses yang niscaya bertaut dengan berbagai bidang kehidupan dan karenanya penting ini tak disertai pihak yang terus mendokumentasikannya.

Tony menyadari pentingnya dokumentasi. Namun dia sendiri sulit mendokumentasikan latihannya. Untuk meminta orang lain melakukannya tidaklah mudah, antara lain karena masalah keuangan.

Maka, sudah seharusnya pemerintahan di berbagai tingkatan membuat kebijakan mengenai dokumentasi teater. Agar perencanaan, implementasi, dan evaluasinya bukan sekadar formalitas, di dalam setiap tahap kebijakan itu para ahlinya yang berintegritas disertakan.

Pemerintahan Jabar dan Kota Bandung, misalnya, sudah patut membuat kebijakan dokumentasi teater yang sungguh-sungguh. Tradisi teater kontemporer di wilayahnya sudah panjang, kaya, dan berpengaruh terhadap perteateran Indonesia.

Untuk terus melawan kolonialisme, misalnya, Sutan Sjahrir dan kawan-kawan membentuk grup teater di Bandung. Dan untuk mencari dana bagi perjuangan, grupnya tidak saja berpentas di Bandung, tapi juga di beberapa daerah yang kini menjadi wilayah Jawa Barat.

Studiklub Teater Bandung dan Teater Payung Hitam adalah dua grup yang bukan saja diakui sudah beridentitas di Indonesia, tapi juga berpengaruh terhadap dan dihormati para pekerja teater di tanah air. Dan meski berbahasa Sunda, Teater Sunda Kiwari adalah grup teater kontemporer yang setiap tahun selalu berpentas dan mengadakan Festival Drama Bahasa Sunda yang beberapa tahun belakangan pesertanya datang dari luar Jawa Barat. Teranglah sayang benar jika tradisi teater kontemporer yang sedemikian berjalan sonder dokumentasi yang komprehensif.

Hikmat Gumelar
\nPenggiat Institut Nalar

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: dari Marlyn Monroe ke Perempuan Sejati

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar