Yamaha NMax

Festival Putu Wijaya: Kedigdayaan Tubuh dan Imajinasi

  Jumat, 04 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Teater Payung Hitam memainkan lakon ”Aduh” di halaman Gedung Kesenian Tasikmalaya, Desember 2018 lalu. Rahman Sabur, sutradaranya, jadi pemungkin utama lakon “Aduh” jadi tontonan yang menyedot, bernas, dan memorable. (Foto: Faisal Sulitio)

Di dalam Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya (27 November-4 Desember 2018), Payung Hitam adalah satu dari sepuluh grup teater yang paling menonjol. Kemenonjolannya bukan saja dari segi artistik pertunjukan (“Aduh” di halaman Gedung Kesenian Tasikmalaya (GKT)), tapi pun perannya dalam memungkinkan berlangsungnya Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya.

Memang Teater Dongkrak pun bermain di halaman GKT. Namun permainan kelompok ini belum didasari pemahaman yang mendalam mengenai karakter ruang indoor dan outdoor serta konsekuensinya bagi pementasan teater. Rahman Sabur, sutradara dan pendiri Payung Hitam, adalah seorang yang sudah banyak makan asam garam baik sebagai aktor dan pimpinan panggung maupun sutradara dan pemimpin grup teater. Kecuali itu, Babeh, demikian Rahman Sabur galib dipanggil, membangun Payung Hitam dengan penyangga utama pengembangan tubuh aktor dan penguasaan ruang. Dan Babeh seorang sutradara yang punya kemampuan lebih menggenjot aktor-aktornya hingga mereka mau berlatih mengeksplorasi tubuh dan ruang melampaui batas-batas dirinya. Inilah pemungkin utama “Aduh” Payung Hitam di lapangan GKT menjadi sebuah tontonan yang menyedot, bernas, dan memorable.

Ambulans dan menara dari bambu yang dipakainya jauh dari hanya gimik. Sirene, pintu-pintu, ruang dalam, bagian depan, belakang, samping kiri, kanan, dan atas ambulans semua dimanfaatkan aktor-aktor Payung Hitam sehingga mobil itu berkembang dari benda menjadi bernyawa, menjadi aktor. Begitu halnya dengan menara bambu yang menjulang melampaui tiang bendera di GKT. Aktor-aktor Payung Hitam bermain dengannya dengan tubuh-tubuh yang kuat, liat, lentur, bernyali, banjir keringat, dan imajinatif, sehingga mereka berkelindan dengan menara bambu yang hidup dan berkilauan tersiram cahaya. Dan suara-suara, termasuk suara yang menggaungkan liukan lagu Sunda buhun dari megafon dan raungan mesin dan knalpot kendaraan bermotor yang melintas di jalan depan GKT, dikelola dengan cermat dan imajinatif sehingga menjadi menyatu dengan elemen-elemen pertunjukan lainnya.

Kecuali itu, Payung Hitam sudah hadir di GKT sejak dua hari sebelum mulai Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya. Dan sejak itu kelompok ini latihan siang malam di lapangan GKT. Tongkrongan ambulans dan menara bambu di situ saja sudah membetot perhatian. Terlebih lagi ketika itu dijadikan teman bermain aktor-aktor yang dipimpin Babeh. Selain latihan-latihan itu sudah menjadi pertunjukan tersendiri, itu pun membuat orang-orang yang datang ke GKT menjadi penasaran, semakin ingin tahu bagaimana ”Aduh” Payung Hitam. Ini siasat ciamik sutradara yang sudah punya jam terbang tinggi.

Namun, Babeh bisa disebut sudah lebih dari itu. Pengajar di Institut Seni Bandung Indonesia (ISBI) ini bukan saja sudah menyadari benar bahwa eksistensi teater itu penting bagi masyarakat, tapi pun tahu cara bagaimana mengembangkannya dan mau memenuhi konsekuensinya. Hanya seorang dua yang tahu bagaimana perjalanan Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya dalam tautannya dengan Babeh.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Hujan di Tengah Kemarau Menahun

Bode Riswandi, Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT), spontan berkisah mengenai itu di satu ruang GKT. Dia mengakui bahwa Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya bukanlah program DKKT yang sudah direncanakan sejak tahun 2017 seperti program-program DKKT lainnya. “Ini kayak Sangkuriang saja, Kang,” ucapnya separuh berkelakar. “Cuma 24 hari persiapannya.”

Saya sangsi. Bagaimana mungkin acara sebesar Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya bisa berjalan dengan lancar hanya dengan persiapan sependek 24 hari?

Namun Bode tak main-main. Dia sampaikan bahwa Anugerah Budaya adalah program ujung tahun DKKT yang sudah berjalan bertahun-tahun. Tahun 2018 direncanakan akan dilaksanakan dengan ditandai orasi budaya seorang tokoh seni dan budaya nasional. Namun, tiba-tiba Babeh mengajaknya bercakap tentang Festival Putu Wijaya dan menawarkan untuk dilaksanakan DKKT.

Bode tertarik. Dalam benaknya, Festival Putu Wijaya seperti yang disampaikan Babeh dapat menyuntikkan berbagai inspirasi berkesenian sedikitnya di Tasikmalaya. Namun, pertama, sejak mula berdiri DKKT adalah buah rembukan berbagai pihak. Kegiatan-kegiatan DKKT selalu direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi oleh segenap elemen-elemennya. Mekanisme ini dipilih demi memungkinkan DKKT benar-benar menjadi lembaga yang memfasilitasi dan mengembangkan kesenian khususnya di Kota Tasikmalaya. Dan dalam menjalankan ini disadari benar kemungkinan adanya penyimpangan soal anggaran seperti yang biasa sudah dilakukan para pejabat pemerintah dan sekutunya. Oleh karena itu, Bode harus lebih dulu merapatkannya di DKKT. Kedua, Anugerah Budaya dan Festival Putu Wijaya niscaya memerlukan dana besar. Sedangkan dana yang ada di DKKT hanya tinggal untuk program yang sudah direncanakan itu.

Babeh paham. Dia dan Payung Hitam pun tentu saja bukan bank. Namun, dia menyebut beberapa pihak yang bisa membantu pendanaan, menunjukkan jalan dan cara untuk mendapatkannya. Dia sendiri menyatakan siap untuk bersama-sama mencari dana. Pun untuk membantu mendatangkan grup-grup teater yang akan meramaikan Anugerah & Festival Putu Wijaya. Meski begitu, Babeh mempersilakan Bode untuk lebih dulu merapatkannya. Memang begitu seharusnya lembaga seperti DKKT bekerja.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Indonesia Beruntung Punya Putu Wijaya

Babeh sendiri semula mau mengadakan Festival Putu Wijaya di ISBI. Dia secara resmi sudah mengajukan rencananya. Dan Rektor ISBI sudah menyetujui. Maka Babeh menghubungi Putu Wijaya. Dia sampaikan apa yang direncanakannya. Putu Wijaya menyambut. Babeh dan kawan-kawannya pun mulai bergerak. Namun tiba-tiba entah karena apa rencana ini dibatalkan. Tentu pembatalan ini mengejutkan dan mengecewakan Babeh. Namun Babeh tidak kalap, apalagi sampai kehilangan kepala.

Babeh mencari jalan keluar di seputar Bandung. Dia menghubungi beberapa kawan dan lembaga yang dianggap punya tanggung jawab mengembangkan seni dan budaya, khususnya teater. Pencarian ini mentok. Kota sebesar dan semaju Bandung ternyata jauh dari yang diharapkan Babeh. Namun Babeh tidak meleleh. Dia terus mencari sampai bertemu Bode.

Pertemuan dengan Ketua DKKT yang pula penyair dan pengajar di Universitas Siliwangi ini akhirnya sampai pada yang diharap. Setelah berkali mengadakan rapat dan berbicara dengan berbagai pihak yang berkomitmen mengembangkan DKKT dan kesenian di Kota Tasikmalaya, Bode menyampaikan bahwa DKKT bersedia mengadakan Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya. Hanya saja, Bode kembali menyampaikan cara kerja DKKT dan kondisi keuangannya.

Babeh paham dan menghormati cara kerja DKKT. Dia juga memenuhi janji ikut membantu mencari dana dan mendatangkan grup-grup teater. “Hasilnya, ya, alhamdulillah, Kang,” ucap Bode dengan mata berbinar pada malam kelima Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya. “Acara sampai sekarang lancar. Dana juga cukup. Memang masih ada kurang sedikit. Tapi insyaallah akan bisa diatasi.”

Saya tidak tahu “kurang sedikit” itu berapa dan apa itu sudah bisa atau belum bisa diatasi. Yang pasti saya melihat Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya itu merupakan rangkaian peristiwa yang memungkinkan peristiwa teater membesar menjadi peristiwa budaya. Selain antara lain berisi keempuan Putu Wijaya sebagai penulis (lakon), aktor, dan sutradara, Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya ini dipungkas dengan “Aduh” Payung Hitam, sebuah tontonan yang merayakan kedigdayaan tubuh dan imajinasi menjebol batas-batas yang mengerdilkan manusia dan kemanusiaan dan sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan menuju kebaikan bersama.

Hikmat Gumelar

Penggiat Institut Nalar

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: dari Marlyn Monroe ke Perempuan Sejati

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar