Yamaha Lexi

Festival Putu Wijaya: dari Marlyn Monroe ke Perempuan Sejati

  Jumat, 04 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Jais Darga sedang bermain dalam monolog ”Perempuan Sejati” di Gedung Kesenian Tasikmalaya, Tasikmalaya, Selasa (4/12/2018). Naskah ditulis dan disutradarai sastrawan Putu Wijaya. (Foto: Faisal Sulistio)

Jais Darga menangkap tangan suaminya yang menghunus pisau. Pisau itu cepat dibalikkan arahnya. Si suami terjengkang ke atas meja. Jais melakukannya sambil berkata, “Lalu saya tangkap tangannya. Saya belokan tikamannya ke jantungnya sendiri. Setelah jantungnya terbelah, darah tumpah dan dia tak mampu ngomong lagi. Saya pergi membawa anak saya.”

Begitulah salah satu adegan “Perempuan Sejati”, monolog yang ditulis dan disutradarai Putu Wijaya di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 4 Desember 2018, malam terakhir Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya yang diadakan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya.

Seusai itu, Jais menyulap rumahnya menjadi kantor polisi, dengan antara lain dua kali memutari meja dan kursi. Dia melapor. Polisi dia posisikan membelakangi penonton. Jais di tengah panggung. Wajah ke arah penonton. Ekspresi menguatkan ucapannya, “Tapi percaya atau tidak, polisi itu juga sudah gila. Mereka tertawa mendengar pengakuan saya. Bahkan mereka lalu menggoda saya. Saya ingatkan mereka bahwa tugas mereka mendengarkan keluhan rakyat dan melindungi. Bukan tertawa apalagi mau memperkosa.”

Polisi tak peduli. Kembalilah Jais membunuh. “Ketika mereka mau memperkosa saya, di depan anak saya sendiri, pisau bukti itu saya hunus lagi. Saya mainkan dan sekali lagi saya bunuh mereka semua.”

Kata-kata itu diucapkan dengan suara bergetar, wajah marah, dan gerak tangan, bahu, pinggul, dan kaki yang cepat dan lebih bertenaga. Posisinya seperti ketika membunuh suaminya. Namun, sebelumnya Jais sudah melontar kata-kata sambil bergerak dan berdiri di beberapa posisi sehingga bloking pembunuhan di kantor polisi ini menjadi klimaks.

Penonton tak melihat itu kejahatan, tetapi penegakkan keadilan. Yang dilakukan Jais dianggap reaksi atas penindasan. Suaminya berkultur maskulin. Dia merasa berhak melakukan apa pun terhadap istrinya. Istri idealnya pandir dan pasrah. Istri mencandu baca buku, berdialog dengan pikiran pemikir besar seperti Einstein, Karl Marx, Machiavelli, Sukarno, dan Putu Wijaya adalah perselingkuhan. Inilah yang dilakukan Jais setiap habis mengurus kebutuhan suaminya, anaknya, dan membereskan rumah mereka. Di mata si suami, itu selingkuh. Itulah yang membuat si suami mau membunuhnya.

Tugas polisi pun jelas, menyuburkan rasa aman. Namun, kewenangan untuk menggunakan kekerasan demi hukum dan keadilan malah dipakai melanggar keduanya. Maka penonton menyambut apa yang dilakukan Jais sebagai laku sepatutnya.

Penerimaan pun dimungkinkan naskah “Perempuan Sejati”. Naskah ini bahan tontonan serupa longser, melibatkan penonton sebagai pemain dan penuh humor. Jais sejak awal berhasil mewujudkan potensi naskah. Padahal, dia main di panggung prosenium. Tentu Putu Wijaya pun memungkinkannya.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Hujan di Tengah Kemarau Menahun

Putu Wijaya terlatih mengendus pontensi orang untuk berteater dan mewujudkannya. Tak sulit baginya mengendus potensi Jais. Dia tahu Jais pernah main “Perempuan Sejati”. Dia tahu tubuh Jais yang proporsional, hidup dan bertenaga pas untuk “Perempuan Sejati”. Dia tahu wawasan luas, keberanian, kelenturan pembawaan dan imajinasi Jais cocok dengan sosok “Perempuan Sejati”. Putu Wijaya pun tahu Jais berteater sejak 1970-an.

Ketika kuliah di Akademi Sekretaris, Jais bersama mahasiswa Akdemi Sinematografi mendirikan Teater Tekel. Remy Sylado sempat melihat latihan mereka. Dia melihat Jais berbakat besar. Setelah Jais main dalam pementasan Teater Tekel, Remy mengajaknya ikut “Exodus II” garapan Dapur Teater 23761.

Jais sudah merasakan makna teater. Orang tuanya bercerai. Bapaknya kemudian meninggal. Dia merasa terkurung di ruang kosong dan ulat-ulat berbiak di kepalanya. Dia pun menjadi pasien tetap Dokter Iskarno. Semua ini berakhir karena kegiatannya di teater. Maka Jais menyambut ajakan Remy dan menerima Marlyn Monroe, peran yang porsinya besar.

Jais makin bergairah ketika latihan pindah dari sebuah gedung di Jalan Wastukencana ke rumahnya di Cirateun. Di rumahnya yang luas dengan halaman yang juga luas dan rimbun yang merupakan salah satu warisan dari bapaknya ini, Jais makin serius latihan.

Galib jika Jais main bagus dalam pementasan di Gedung Kesenian Rumentangsiang, dengan penata artistik Jeihan dan penata musik Harry Roesli, Purwacaraka, dan Nicky Ukur ini. Misalnya, Jais penuh menghayati Monroe ketika ciuman dengan Yesus yang dimainkan Jan Hartland. Sayang adegan ini kemudian digoreng media sehingga itulah yang menjadi buah bibir publik, bukan pertunjukan yang mengisahkan para selebriti dunia tengah menunggu diadili di akhirat.

Namun teater telah membantu Jais menemukan diri dan keluarga baru. Maka Jais ikut produksi berikutnya: “Indonesia Kamu Indonesia Kami”, naskah Remy yang mengkritik kekuasaan yang rakus.

Setelah itu, Remy pindah ke Jakarta. Boy Worang sibuk sebagai karyawan bank. Anggota lainnya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jais menerima ajakan Rahmat Hidayat untuk main dalam “Bunga-Bunga Perjuangan”. Dalam film yang diputar setiap 17 Agustus selama beberapa tahun di TVRI ini, Jais menjadi gadis yang setiap hari rindu kekasihnya yang sedang menjalani pendidikan Taruna Angkatan Udara.

Film itu mengantar Jais ke dunia film. Dia main di sejumlah film, termasuk “Gadis Maraton” bersama Roy Marten dan Yenny Rachman. Namanya makin berkibar. Dunianya makin lebar. Dia makin kenal banyak karakter dan seluk-beluk berbagai kejadian. Jejaring pertemanan pun makin luas. Inilah modal penting Jais masuk dunia seni rupa sehingga kemudian dia menjadi perempuan pertama di Asia yang sukses menjadi art dealer kaliber dunia.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Indonesia Beruntung Punya Putu Wijaya

Dunia seni rupa yang dimasukinya adalah dunia bergelimang dolar dan persaingan sengit dan penuh muslihat. Kemampuan Jais membangun galeri di Paris yang mengoleksi dan memamerkan karya maestro seperti Picasso, Basquiat, dan Warhol merupakan prestasi gemilang seorang art dealer. Kritikus seni rupa James Supangkat mengakui prestasi Jais itu.

Namun teater tak dilupa. Di tengah kesibukan sebagai art dealer, di negara-negara Eropa, dia masih sempat menonton pertunjukan-pertunjukan teater dan opera, juga mempelajari manajemennya. Setelah merasa usaha di dunia seni rupa tak lagi terlalu menguras waktu dan energi, dia kembali main dalam sejumlah pertunjukan, termasuk beberapa kali bermonolog.

Dari situ, Jais kagum dan prihatin terhadap pekerja teater. Setiap garapan, mereka berbulan-bulan latihan keras dan mencari-cari sponsor yang lebih banyak berbuah kecewa. Dia berpikir mungkin baik bagi teater di Indonesia untuk membenahi manajemennya. Mulainya bisa dari hal-hal kecil.

Misalnya, pekerja teater perlahan menjadi berpenampilan bersih dan santun. Setiap pertunjukan menjual tiket dengan harga yang membuat orang merasa terhormat membelinya. Setiap pertunjukan juga jadi ruang pemasaran buku-buku tentang teater, kaos-kaos bergambar atau bertuliskan ucapan dari drama yang dimainkan, mug, gantungan kunci, dan cendera mata lainnya yang semua bertalian dengan teater. Hasilnya sebagian untuk pekerja teater, sebagian ditabung untuk membuat warung kopi. Jika dikelola dengan baik dan kreatif, warung kopi teater tak mustahil bisa mekar menjadi kafe dan kemudian restoran.

Putu Wijaya tidak asing dengan perjalanan kesenian Jais. Bisa dipastikan itu sebagian pijakannya memilih Jais untuk main “Perempuan Sejati”. Di awal latihan, kata Jais, Putu Wijaya banyak melakukan perubahan tiba-tiba. Tapi kemudian Jais bebas. Dia paham banyak perubahan tiba-tiba itu cara Putu Wijaya membuka berbagai kemungkinan bagi aktor. Aktor menjadi, misalnya, punya banyak cara untuk lolos dari masalah yang tiba-tiba mencegat di panggung. Aktor pun masuk ke panggung dengan percaya diri dan santai.

Putu Wijaya juga menjadi pembawa acara. Di sudut kanan depan dari arah penonton, dia sampaikan profesi prestisius Jais. Tapi malam itu Jais akan bermain “Perempuan Sejati”. Ini trik cerdik. Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya adalah forum pengukuhan Putu Wijaya sebagai tokoh teater Indonesia. Dengan begitu, sang tokoh menjamin pertunjukan “Perempuan Sejati” akan enak dan perlu.

Makin muluslah jalan bagi Jais. Dan dia tak menyia-nyiakannya. Cara dia masuk pangung, dari sayap kanan dari arah penonton dengan satu tangan membawa pisau dibungkus koran dan tangan lainnya menyeret kursi, langsung membetot. Dan lima kalimat pembuka diucapkan dengan bloking, gestur, dan suara yang membuat kalimat kelima disambut ledakan tawa penonton. Robohlah batas pemain dan penonton. Modal awal ini terus dipakai Jais bermain dengan timing, ritme, dan takaran yang pas. Permainan berulang keluar-masuk peran membuat penonton makin terbetot dan empati mereka terhadap perannya makin kuat.

Laiklah jika Jais merasa dari sejak berteater di tahun 1970-an, “Perempuan Sejati” yang paling memuaskan. Dia begitu karena “Perempuan Sejati” merupakan gugatan terhadap dominasi kuasa maskulin yang hingga kini masih salah satu penyakit menular bangsa Indonesia. Dan penyutradaraan Putu Wijaya adalah penyutradaraan yang dia rasakan paling genah.

Setelah sakit strok, Putu Wijaya berjalan dengan kursi roda. Namun, ungkap Jais, “Ketika menyutradai, saya tidak melihat Bli Putu di kursi roda. Dia terasa seorang yang tegap. Suaranya lantang. Dan tetap peka pada musik dan cahaya. Inilah yang membuat saya sangat total main ’Perempuan Sejati’.”

Hikmat Gumelar

Penggiat Institut Nalar

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Kedigdayaan Tubuh dan Imajinasi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar