Yamaha Aerox

Festival Putu Wijaya: Indonesia Beruntung Punya Putu Wijaya

  Jumat, 04 Januari 2019   Dadi Haryadi
Festival Putu Wijaya

“Sastrawan Putu Wijaya telah mendedikasikan hidupnya untuk kesusastraan dan kebudayaan dalam rentang waktu yang panjang, bahkan sejak usia remaja hingga sekarang di usia 74 tahun. Ia telah menulis 30 novel, 40 naskah drama, sekitar 1000 cerpen, esai-esai, dan karya-karya lain.”

Begitu Presiden Joko Widodo (Jokowi) menulis di akun Instagramnya (10/12/2018), setelah menyerahkan Penghargaan Kebudayaan kepada Putu Wijaya pada hari terakhir (9/12/2018) Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) di Kantor Kemendikbud. Ketika menyerahkannya, Jokowi takzim berjongkok.

Ketakzimannya bertaut dengan tulisan berikutnya: “Pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia di Jakarta, semalam, saya merasa terhormat dapat menyerahkan Penghargaan Kebudayaan kepada Putu Wijaya yang datang dengan duduk di kursi roda.”

Jokowi tak keliru. Cerpen Putu Wijaya “Etsa” sudah muncul di Suluh Indonesia edisi Denpasar ketika dia baru di SMP. Tak lama cerpennya yang lain terbit di Fajar Menyingsing, rubrik remaja Mimbar Indonesia (Jakarta). Sejak itu, Putu Wijaya makin mencandu menulis cerpen, novel, drama, skenario, ulasan buku, seni rupa dan film, ulasan pementasan teater, tari, dan musik, dan esai-esai budaya, terutama tentang sastra dan teater.

Karya-karya sastranya bukan saja terbit di media sastra, tapi pun di majalah remaja seperti Hai dan Gadis, majalah perempuan seperti Femina dan Kartini, bahkan di majalah Humor dan harian yang umum dipandang sebelah mata seperti Pos Kota dan Sinar Pagi. Mutunya pun tidak kacangan.

Bagi Putu Wijaya, seperti diucapnya dalam wawancara Budiman S Hartoyo (Berita Buku, Oktober/November 1995), sastra tidak harus dikavling-kavling. Kesenian kita kan berkelindan dengan berbagai bidang kehidupan masyarakat. Budaya Baratlah yang mengkavling-kavling sastra dan kemudian menjadikannya tak punya kaitan dengan kehidupan. Sastra, tegasnya, “harus ‘menyerbu’ dan ‘bergerilya’ di mana-mana”. Ini yang membuat Putu Wijaya selalu total menulis sastra untuk media apa pun.
Totalitasnya mulai menguat di SMA. Putu Wijaya ikut pertunjukan drama “Badak” karya Chekov dengan sutradara Kirdjomuljo. Sutradara yang pula penyair ini menanamkan bahwa menulis itu perjuangan.

Kesadaran menulis sebagai perjuangan makin berakar ketika Putu Wijaya menjadi wartawan Tempo. Di majalah ini Putu Wijaya belajar menulis hal yang aktual, tulisannya mesti “enak dibaca dan perlu” bagi abang becak sampai intelektual atau jenderal, panjang tulisan tak boleh lebih dari yang sudah ditetapkan, waktu penulisan dibatasi tenggat, “dan tulisannya akan diperiksa redaktur pelaksana dan bila perlu pemimpin redaksi. Belum lagi alat yang waktu itu mesin ketik.”

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Hujan di Tengah Kemarau Menahun

Profesi itu sekitar lima belas tahun dikelola Putu Wijaya juga untuk menjadikan tubuhnya pabrik tulisan. Menulis dengan komputer yang mulai pada 1985 menaikkan eskalasinya sehingga baginya kemudian “menulis adalah bekerja. Sama dengan buruh, petani, nelayan atau cleaning service. Dan dalam bekerja, aku mendompleng pendapat Plato: Kerja adalah istirahat.”

Setelah terkena stroke pada September 2012, produktivitasnya tidak surut. Padahal, sejak itu Putu Wijaya tak bisa memakai komputer. Dia menulis dengan jempol tangan kanan memakai Blackberry. Kemudian memakai HP layar sentuh karena sudah dua Blackberry jebol. Meski begitu, setiap hari Putu Wijaya bisa menulis satu sampai dua cerpen, atau dua bab novel, dan dua naskah drama.

Namun, ucap Putu Wijaya, produktivitas dan kecepatan menulis bukanlah prestasi yang perlu dibanggakan. Itu kebiasaan yang bisa dilatih. Nilai tertinggi karya “tetap apakah karya itu memberikan sumbangan kepada kemanusiaan, perdamaian, peradaban di samping orisinal, otentik, dan, mungkin, membawa perubahan.”
Itulah keutamaan bagi Putu Wijaya. Menulis untuk media apa pun, Putu Wijaya memburu mutu. “Anjing”, misalnya, monolog yang ditulis untuk Humor, merupakan sebuah karya cemerlang.

Tokohnya seekor anjing yang ingin menjadi manusia kemudian bersyukur menjadi anjing. Menjadikan anjing tokoh saja sudah pilihan jitu. Tokoh hewan dalam sastra lisan memang biasa. Namun dalam tradisi sastra Indonesia modern, kecuali cerita anak, ini langka. Lebih langka lagi dalam khazanah lakon Indonesia. Dan Putu Wijaya lebih dari hanya mengisi kelangkaan. Dia manfaatkan kebebasan yang diberikan oleh menjadikan anjing sebagai tokoh.

Anjing di dalam rumah yang diikat ke kaki meja itu mengungkap berbagai deritanya. Ini dimulai ketika dia merespons lolong anjing-anjing lain. Respons dia membuat seseorang memuntahkan umpatan, bahkan melemparnya dengan andal. Ketika seseorang itu hengkang, anjing keluar dari kolong meja, duduk di kursi, dan mulailah berkata-kata.

“Siapa bilang enak menjadi anjing. Sementara kita meraung-raung kelaparan, kedinginan dan kesepian, manusia enak-enakan pelukan di kasur. Lempar sandal lagi. Sialan! Bajingan! Anjing lu!”

Perkataan awal itu saja sudah mengisyaratkan bara di hati anjing. Namun, kalimat pertama hingga kalimat keenam semua mengundang tawa. Bahkan, keenamnya sebagai enam anak tangga penguras tawa. Anjing mengumpat “Anjing lu!” puncaknya.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Ketika Teater Sonder Dokumentasi

Humor begitu yang berserak dalam “Anjing” menjadikan berbagai kritik terhadap manusia, masyarakat, wakil rakyat, penyair, bahkan Tuhan, jauh dari memualkan. Apalagi kritik-kritik anjing ini selalu dimulai oleh perlakuan buruk terhadapnya dari seseorang (yang mungkin pemiliknya), atau aktivitas tertentu seperti dari bagian lain rumah terdengar lagu dangdut, tetangga yang televisinya melantunkan lagu sendu, tetangga yang menyemburkan suara senggama. Semua itu disorot sebagai kelebihan dan kenikmatan manusia dan dibandingkan dengan nasib anjing yang melulu buruk. Wawasan anjing yang luas, logikanya yang kuat, dan tuturannya yang lincah menopangnya. Jadilah kritik-kritiknya terasa memikat dan membuat kita percaya.

Namun, saat kepercayaan kita sudah tumbuh, anjing tiba-tiba menikung. Dengan betotan yang pula cepat, kuat, dan kocak, pembaca dibawa untuk mengamini keinginan barunya. “Itu lihat ada konglomerat jalan-jalan menuntun anjing di dalam taman. Yang tuan itu sejatinya siapa? (KETAWA) Manusia adalah budak. Anjing bukan binatang yang tidak berdaya, tapi tuan yang berkuasa.” Anjing ambil kursi dan naik lagi ke atas meja. “Hidup anjing nikmat betul. Tidak usah dikejar-kejar petugas pajak. Tidak takut sama KPK. Tidak perlu repot punya pekerjaan atawa status sosial. Tidak terobsesi jadi caleg. Aman dari segi-segi politik. Boleh menggigit siapa saja dan tidak ada penjara buat anjing. Hidup anjing begitu bebas, begitu dimanjakan. Makanan anjing bisa lebih mahal dari pegawai negeri eselon B. Dan hanya anjing yang berani makan tai.”

Begitulah “Anjing”. Meneror mental seperti kebanyakan karya Putu Wijaya. Cara pandang mapan diguncang. Kebenaran yang dipeluk teguh dibenturkan dengan banyak kebenaran. Kemungkinan-kemungkinan lain didedahkan. Ini pun dilakukan Putu Wijaya dengan bahasanya. Dalam kumpulan cerpen Putu Wijaya Blok, HB Jassin menulis, “Kata-kata Putu Wijaya menteror pengertian-pengertian yang sudah mapan. Pengertian-pengertian itu bukan barang mati, tapi hidup, mempunyai sejarah pengalaman-pengalaman yang bersifat bukan saja masa silam, tapi juga kontemporer dan futuristis.”

Teror teater Putu Wijaya lebih lagi. Perangkat sastra Putu Wijaya adalah aksara. Perangkat teaternya lebih banyak. Berbagai suara, berbagai kata yang bermunculan dengan cepat dan kerap saling hantam, berbagai gerak, dan berbagai warna dan volume cahaya, misalnya, kerap serempak dikerahkan Teater Mandiri sehingga pertunjukannya cenderung menjadi esai visual.

Esai visual ini dirangkai para pemain yang kebanyakan bukan aktor. Agar konsentrasinya tidak buyar, ungkap Putu Wijaya, pertunjukan dibuat cepat, keras, dan padat. Siasat ini juga cara Putu Wijaya untuk “’memegang’ orang. Bukan hanya membuat orang senang, tapi menyiksa orang dengan bermacam-macam pikiran. Saya bisa membuat Orang Berpikir. Sampai rumah mereka semua berpikir bahwa inilah hidup, inilah yang membuat negeri ini.”

Jadilah karya-karya Putu Wijaya bukan saja melimpah, tapi pun menempa individualitas dan sosialitas. Caranya pun membuat kita tak merasakan nyeri ditempa, tapi malah bisa merasa terhibur, bahkan terpingkal-pingkal.

Jika seperti itu, karya-karya Putu Wijaya, baik sastra maupun teater, sangatlah mungkin bisa ikut menyuntikkan toleransi dan kolaborasi, dua hal yang ditekankan pidato Jokowi di KKI. Jokowi menyatakan bahwa yang penting kini dan ke depan bukan saja ruang kebebasan berekspresi, tapi pun menggunakannya untuk menumbuhkan budaya toleransi dan kolaborasi.

Maka, pada tempatnyalah jika Jokowi mengaku merasa terhormat menyerahkan Penghargaan Kebudayaan kepada Putu Wijaya. Pada tempatnya pula jika Indonesia merasa beruntung punya warga seperti Putu Wijaya dan mendukung lahirnya orang-orang seperti Putu Wijaya, bahkan melampauinya.

Hikmat Gumelar
Penggiat Institut Nalar

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Kedigdayaan Tubuh dan Imajinasi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar