Yamaha NMax

Ratusan Mahasiswa Jadi Korban Kerja Paksa di Taiwan

  Kamis, 03 Januari 2019   Arie Widiarto
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir meninjau salah satu stan pameran usai membuka Rapat Kerja Nasional Kemenristek Dikti 2019 di Kampus Undip, Tembalang, Kamis (3/1/2018). (Arie Widiarto/Ayosemarang.com)

SEMARANG, AYOBANDUNG.COM--Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir menyebutkan ratusan mahasiswa yang diduga menjadi korban kerja paksa adalah korban penipuan. Para mahasiswa itu diketahui berangkat sendiri ke Taiwan melalui calo dengan iming-iming bisa diterima di perguruan tinggi di negara tersebut, namun ternyata tidak diterima.

"Mahasiswa kerja paksa yang terjadi di Taiwan itu, saya lagi komunikasi mulai kemarin. Mereka mahasiswa yang tidak melalui jalur Kemenristek Dikti," jelasnya usai membuka Rapat Kerja Nasional Kemenristek Dikti 2019 di Kampus Undip, Tembalang, Kamis (3/1/2018).

Menurut dia, para mahasiswa tersebut tidak berangkat secara resmi dari kampus di Indonesia, melainkan lulusan-lulusan sekolah menengah atas (SMA) yang berangkat dari agensi-agensi.

"Mereka ini tidak ada yang dari kampus. Mereka lulusan sekolah, kemudian di agensi-agensi itu. Ini saya lagi lacak. Kalau ada kampus yang terjadi semacam itu," katanya.

AYO BACA : 63.000 Sarjana di Indonesia Masih Menganggur

Kemenristek Dikti, kata dia, terus berkoordinasi dengan Taipei Economic and Trade Office (TETO), yakni Kamar Dagang dan Industri Taiwan, baik yang ada di Taiwan maupun Jakarta.

Dari jajaran duta besar, kata dia, juga diminta untuk melakukan pendataan terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang sedang menempuh studi lanjut di luar negeri, termasuk Taiwan.

Selain itu, Nasir mengimbau bagi pelajar ataupun mahasiswa yang akan studi lanjut ke perguruan tinggi di luar negeri untuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Kemenristek Dikti. 

Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyebut sekitar 300 mahasiswa Indonesia menjadi korban kerja paksa yang diduga dilakukan oknum yayasan, lembaga pendidikan, hingga individu.

AYO BACA : Menristekdikti Akan Evaluasi Pemilihan Rektor Unpad

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Ismunandar, mengatakan ratusan mahasiswa itu dijebak oknum pelaksana program dengan iming-iming akan memperoleh beasiswa kuliah di Taiwan.

Para mahasiswa yang mayoritas perempuan ini mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, di antaranya dipaksa bekerja 10 jam dalam sehari dengan bayaran yang murah. Padahal, pemerintah Taiwan memiliki aturan bahwa mahasiswa yang kuliah di tahun pertama tidak mendapat izin bekerja.

Menurut aturan resmi pemerintah Taiwan, adapun izin bekerja itu didapatkan setelah melalui tahun pertama, itu pun tidak lebih dari 20 jam per minggu. Satu laporan jurnalistik di salah satu media di Taiwan menyebut setidaknya enam perguruan tinggi yang bekerja sama dengan agen penyalur tenaga kerja.

Perguruan tinggi itu mengirimkan mahasiswanya untuk menjadi tenaga kerja murah di pabrik-pabrik itu. Salah satu perguruan tinggi mempekerjakan mahasiswanya di sebuah pabrik lensa kontak, dimana mahasiswa tersebut dipaksa berdiri selama 10 jam untuk mengemas 30.000 lensa kontak tiap hari.

Sementara jadwal perkuliahan yang dijalani mahasiswa tersebut hanya dua hari dalam satu pekan, sisanya mereka harus bekerja di pabrik-pabrik itu.

AYO BACA : Menristekdikti Klaim Kehadiran Dosen Asing Menguntungkan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar