Yamaha

Bandoeng Baheula: 8 Banjir Besar yang Pernah Terjadi di Cikapundung

  Jumat, 04 Januari 2019   Rahim Asyik
Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung menggunakan alat berat mengeruk lumpur, pasir, dan batu, dari dasar Sungai Cikapundung di kawasan Jalan Sukarno, Kota Bandung, Selasa (13/11/2018). (Irfan/ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Warga Kota Bandung sekarang mungkin tak bisa membayangkan kalau air Sungai Cikapundung bisa meluap, merendam perkampungan, dan menghentikan penerbitan koran. Dulu, berbagai rencana sempat disusun untuk mengatasi banjir.

Tampaknya rencana itu tak benar-benar tereksekusi. Bisa jadi lantaran pemerintah keburu lupa karena banjir tak rutin setiap tahun. Sebagai catatan, banjir di Cikapundung berulang antara 3, 4, 8, sampai 16 tahun.

Kini, sudah lebih dari setengah abad banjir tak mampir lagi. Tentu saja bukan karena berhasil ditangani dengan baik. Di beberapa tempat, airnya sudah tidak memadai untuk membawa hanyut sampah alakadarnya dan merendam bebatuan sungai.

Berikut banjir Cikapundung yang diberitakan koran dan berhasil didata:

  1. De Locomotief, 21 November 1898: Hujan yang turun di pegunungan tetangga (Bandung) seperti air yang ditumpahkan dari langit. Desa Lengkong yang berada di tepi Cikapundung terendam air. Sejauh ini, berita ini masih merupakan berita pertama tentang banjir Cikapundung yang berhasil ditemukan.
  2. Bataviaasch Nieuwsblad, 24 Februari 1916: Hujan deras di bagian hulu Sungai Cikapundung menyebabkan gangguan terhadap pembangkit listrik di perusahaan listrik NV Cultuur Maatschappij ”Tjikapoendoeng”. Kampung Pangeran Pondok terendam dan jembatan di Kampung (Kebon?) Sirih juga terseret arus air.
  3. Bataviaasch Nieuwsblad, 13 April 1920: Koran ini mengambil berita telegram dari Kantor Berita Aneta (Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap) mengenai banjir di Cikapundung. Banjir melanda penerbit dan percetakan NV Mij. Vorkink di Groote Postweg (Jalan Asia Afrika 54). Vorkink belakangan menjual majalah dan buku impor. Akibatnya, koran Preangerbode yang dicetak di Vorkink tidak terbit.
  4. Indische Courant, 2 Februari 1928: Banjir tampaknya terjadi satu dua hari sebelumnya. Soalnya diberitakan, mengenai hilangnya jembatan bambu di antara Villa Park dan Lembangweg. Sawah di kedua sisi tertutupi air, terlihat seperti pantai. Rumah-rumah penduduk ambruk dan penghuninya mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Warga di semua rumah kampung di sepanjang Engelbert van Bevervoordeweg (Jalan Wastukancana), Merdika Lio (Pajajaran), Bragaweg, mengungsi sambil membawa barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Toko buku dan percetakan Visser & Co (di Jalan Asia Afrika, depan Gedung Merdeka) terendam air setengah meter. Polisi berjaga-jaga untuk memperingatkan penduduk bilamana sewaktu-waktu air meninggi lagi. Semua warga di Kampung Pangeran menyelamatkan diri dengan membawa binatang peliharaannya dan unggas. Banyak rumah hancur dan perabotannya tersapu air. Desa Regol yang lokasinya lebih tinggi dari Sungai Cikapundung terkena dampaknya. Tidak disebutkan adanya korban meninggal dunia dalam musibah itu.
  5. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 20 Maret 1931: Sungai Cikapundung kembali meluap, ”mencapai ketinggian yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Sebagian rumah warga di Kampung Regol terendam air. Permukaan air hampir masuk ke percetakan koran AID (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode). Beruntung, malam harinya air surut.
  6. Bataviaasch Nieuwsblad, 19 Maret 1940: Banjir tampaknya terjadi sehari sebelumnya. Dalam berita disebutkan, ”hujan deras kemarin malam” menjadikan permukaan air Cikapundung ”lima meter di atas normal”. Desa-desa di sepanjang sungai kebanjiran. Warga harus menyeberang air setinggi dada. Meskipun beberapa rumah ambruk dan banyak furnitur hancur, tidak ada yang terluka dalam musibah itu.
  7. Het Volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 20 Maret 1940: Enam desa terendam air. Percetakan Vorkink dan pabrik es Petedjo (Petodjo?) terimbas air. Air surut meninggalkan lumpur setebal sekitar setengah meteran.
  8. Algemeen Indisch Dagblad de Preangerbode, 29 November 1952: Air Cikapundung kembali meluap. Sejumlah rumah terendam, puluhan rumah ambruk, dan tiga kios yang berada di Jalan Asia Afrika hanyut.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Sungai Cikapundung di Mata Para Penyair

Rumah-rumah yang terendam terletak di Babakan Ciamis (antara Jalan Wastukancana dan Pabrik Kina), Cibantar (antara Banceuy dan Braga) serta Pangarang yang terletak di belakang Hotel Savoy Homann.

Air meninggi setengah meter kurang dari sejam. Banjir terjadi malam hari setelah hujan mengguyur siang harinya. Keesokan harinya, banjir surut, tapi Jalan Kebon Sirih ditutup lantaran tertutup lumpur sampai setengah meteran.

Banjir Sungai Cikapundung yang tak Tercatat

Tak semua banjir terlaporkan. Selain itu, koran Belanda hanya melaporkan, banjir Cikapundung menyebabkan kerugian materi. Sementara korban jiwa tak pernah disebut-sebut.

AYO BACA : Kabar Gembira, Sampah Kemasan Karton Kini Bernilai Ekonomi

Adanya korban jiwa dalam banjir Cikapundung disebutkan oleh John RW Smail dalam buku Bandung Awal Revolusi 1945-1946. Tanggal 24 November 1945 malam, para pemuda Bandung di bawah komando Aruji Kartawinata (Komandan Tentara Keamanan Rakyat Divisi Ketiga (Priangan)), melakukan serangan terbuka terhadap tentara Inggris dan Belanda. Mereka berhasil merebut Andir, meski tak lama.

Serangan balasan tiba 25 November 1945 malam. Sialnya, serangan balasan bersamaan dengan meluapnya Sungai Cikapundung. Banjir menghancurkan 500 rumah dan menelan lebih dari 200 korban jiwa.

Situasi diperparah oleh serangan Gurkha. Mereka menembaki orang-orang yang sedang menyelamatkan diri atau menolong orang lain dari banjir. John RW Smail tampaknya tak membaca cukup koran sehingga menyebutkan bahwa banjir 25 November itu adalah satu-satunya banjir yang terjadi sepanjang sejarah Sungai Cikapundung.

Banjir juga menelan korban koran harian Soeara Merdeka. Koran ini semula bernama Tjahaja dan terbit di bawah pengawasan Jepang. Setelah Jepang kalah, para jurnalis mengambil alih manajemen Tjahaja. Koran pertama di bawah pemimpin redaksi dan tata usaha yang baru bertitimangsa Kemis Manis 6 September 2605 (tahun Jepang) atau 6 September 1945 (tahun Masehi).

Artinya, Soeara Merdeka (saat itu masih memakai nama Tjahaja) terbit lebih awal sepekan dari koran Berita Indonesia-nya BM Diah yang disebut-sebut sebagai koran pertama setelah Proklamasi. Soeara Merdeka beralamat di Jalan Groote Postweg-Oost No 54-56 (sekarang Jalan Asia Afrika).

Boerhanoeddin Ananda bertindak sebagai pemimpin umum sementara pemimpin redaksinya Mohamad Koerdie. Kendati usianya hanya enam bulan (berhenti terbit Maret 1946), koran ini sebenarnya menjanjikan. Oplahnya 5.000 sampai 7.500 eksemplar.

Banjir Cikapundung merusak mesin percetakan koran. Pegawainya pun terpecah. Sebagian menerbitkan Perdjuangan Kita di Ciparay. Pada Februari 1946, Perdjuangan Kita kembali ke Bandung dan lalu menjadi Soeara Merdeka lagi. Terkait peristiwa Bandung Lautan Api, koran pindah ke Tasikmalaya. Kantornya di Jalan Galunggung No 46, Tasikmalaya. Situasi politik yang kacau menyebabkan Soeara Merdeka berhenti terbit sama sekali.

AYO BACA : Sampah Kiriman di Sungai Cikapundung Terus Berdatangan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar