Yamaha NMax

Gambaran di Balik Film Preman Pensiun Menurut Aris Nugraha

  Kamis, 03 Januari 2019   Fathia Uqimul Haq
Pemeran film Preman Preman bersama Wali Kota Oded Danial di Pendopo Kota Bandung, Kamis (3/1/2019).(Fathia/ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Film Preman Pensiun merupakan kelanjutan dari serial yang sempat ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. 

Menurut Sutradara, Aris Nugraha, film ini menggambarkan apa yang terjadi setelah  tiga tahun  pensiun. 

"Ternyata seperti ramalan Muslihat itu terbukti, untuk menjadi orang baik itu tidak mudah," katanya,  saat ditemui di Balai Kota, Kamis (3/1/2019).

Ketika ada orang menganggal preman sebagai titel negatif dan kurang bagus di masyarakat. Saat mengakhiri titel tersebut stigma masyarakat terhadap preman masih negatif. 

"Ingin menjadi orang baik, tetep susah, mau kerja juga tetap susah kan mantan preman. Siapa yang mau ngasih pekerjaan," ujarnya. 

Kemudian, melihat  pandangan masyarakat ketika  anak- anak preman  bergaul, maka timbul perbincangan menyudutkan seperti bapaknya adalah preman. Sehingga, anak-anak pun menjadi tidak betah dengan kondisi tersebur. 

"Nah sekarang kondisi itu yang pengen kita ceritakan, jadi tiga tahun setelah pensiun," tutur Aris. 

Aris mengatakan film ini belum bisa dikatakan sebagai akhir dari serial Preman Pensiun. Karena semua tergantung dari respon penonton terhadap karyanya ini. Jika film ini bagus dan penonton menyukainya, bisa jadi ada film keduanya atau serial televisinya muncul kembali.

"Kalau kita bikin dan enggak suka ngapain, kalau banyak yang suka oke lanjut. Kita berhenti ketika kita merasa harus berhenti, enggak akan mengikuti arus pasar," ujarnya. 

AYO BACA : Preman Tobat: Ujang Koswara, Preman Cicadas yang Tak Pernah Tinggalkan Salat

Aris mencontohkan seperti pembuatan serial televisi Preman Pensiun beberapa tahun lalu. Meski digilai para penggemar,  Aris hanya membuat 36 episode awal. Kemudian,  setelah para artis pulang umrah, mereka melanjutkan shooting hingga 40 episode. 

Terbukti dari nama pemeran yang melekat di masyarakat.  Aris mengaku banyak orang yang lebih mengenal nama di layar daripada nama asli sang artis. 

"Tahunya Muslihat, Dikdik, kalau nama aslinya pasti enggak tahu. Karena imagenya sudah sangat lekat sampai orang enggak mau tahu nama aslinya," ujarnya. 

Film yang berdurasi 90 menit masih tetap mempertahankan Bandung sebagai latar belakang. Proses shooting selama 21 hari ini tak luput mengalami kendala seperti cuaca yang tidak menentu.  

"Turun hujan di saat  tidak menentu, pendek tapi berkali kali. Di bulan April itu, pas awal awal hujan tahun lalu, kami kendala cuaca," katanya.  

Wali Kota Bandung,  Oded M. Danial mengatakan  bahwa  film ini luar biasa  karena sudah mengangkat tentang muatan lokal terkait  potensi kota Bandung. 

"(Film ini) mengangkat kultur bandung Mang Oded sangat mengapresiasi," katanya. 

Oded berharap film Preman Pensiun menjadi sebuah prototipe untuk para sutradara dan para insan film lain di Bandung  supaya mengangkat  hal hal yang bisa dijadikan sebuah ciri khas.

"Tinggal pinter pinternya para sutradara dalam melihat potensi Kota Bandung sehingga film ini masyarakat ikut merasa memiliki," ujarnya. 

AYO BACA : Preman Tobat: Jatuh-bangun Kang Murad Keluar dari Jerat Dunia Malam (Bag. 1)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar