Yamaha Aerox

Festival Putu Wijaya: Hujan di Tengah Kemarau Menahun

  Kamis, 03 Januari 2019   Adi Ginanjar Maulana
Festival Putu Wijaya

Di tangan orang-orang berani ambil risiko, teater bisa menjadi ledakan bom. Kekayaannya menggelegar menyedot orang-orang sehingga mereka, misalnya, ada yang menempuh malam diguyur hujan, ada yang menembus batas kabupaten/kota, batas provinsi, bahkan batas negara. Mereka meriung bukan sebagai kerumunan, tapi individu-individu yang saling sapa, bercakap-cakap hingga bersekutu dalam kerja kreatif.

Itulah yang saya saksikan dari Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya di Kota Tasikmalaya (26 November-4 Desember 2018) yang diselenggarakan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKTT). Dan itu merupakan rangkaian peristiwa budaya di tengah kebanyakan teater dan kebanyakan dewan kesenian yang puluhan tahun hanya “sibuk iseng sendiri”.

Hanya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang masih bergairah memungkinkan peristiwa teater menjadi peristiwa budaya yang menandai kota, provinsi, dan negara. DKJ memang dewan kesenian tertua di Indonesia dan lembaga kesenian yang dilahirkan dengan kesadaran bahwa kesenian memiliki daya besar memungkinkan Indonesia menjadi bangsa yang beradab dan diperhitungkan dunia.

Lahir menyusul dibangunnya Taman Ismail Marzuki pada 1968, oleh Gubernur DKI Ali Sadikin, DKJ bertugas mewujudkan gagasan pendirian TIM. TIM ini, tulis Goenawan Mohamad (Tempo, 10/11/1990), dibangun “setelah sebuah kampanye pers oleh para cendikiawan Jakarta yang menuntut didirikannya sebuah tempat umum untuk kegiatan kebudayaan”. Untuk menjalankan tugasnya menyusun program untuk TIM, “25 orang—kebanyakan penulis, pelukis, penari, dan pemusik terkemuka” diangkat menjadi anggota DKJ. Trisno Sumardjo, pelukis dan penerjemah Shakepeare, menjadi ketuanya.

Karena meninggal pada 1969, Trisno hanya setahun menjadi Ketua DKJ. Namun dia sudah menyemai benih seni sebagai ekspresi diri di TIM. Mengingat tahun 1968-1969 yang belum jauh dari tirani demokrasi terpimpin Sukarno dan dominasi doktrin seni realisme sosialis, semaian Trisno merupakan benih pembebasan seni.

Penggantinya, Umar Kayam, melanjutkan yang sudah disemai Trisno dan membuat TIM juga terbuka bagi seni pertunjukan tradisi seperti lenong, randai, dan topeng Cirebon. Ketua DKJ ketiga, Ajip Rosidi, bergerak lebih jauh. Fokus Ajip mendorong kreator menjadikan budaya nusantara menjadi pijakan. Pamor budaya daerah pun terdongkrak. Kebebasan bereksperimen menjadikan seni pertunjukan Barat atau modern dan seni pertunjukan Timur atau tradisi saling memengaruhi dan saling menguatkan di TIM.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Ketika Teater Sonder Dokumentasi

Trilogi Oedipus, “Menunggu Godot”, dan tragedi-tragedi Shakespeare dimainkan Bengkel Teater Rendra dengan sentuhan khas seni tradisi. “Kapai-Kapai”, naskah dan pementasan Arifin yang paling fenomenal, terinspirasi lenong. Teguh Karya diakui banyak pihak berhasil ketika menyutradarai Bodas de Sangre Lorca. Namun, Goenawan menganggap yang “sukses lebih besar dalam menciptakan kreasi teatrikal baru dari akar tradisional dan dalam panggung tradisonal adalah Sardono W. Kusumo”.

Putu Wijaya paling muda. Bahkan ketika di Jogja, Putu Wijaya ikut Bengkel Teater karena ingin belajar. “Di ASDRAFI, saya tak mendapatkan apa yang saya inginkan. Sebagai penyair, aktor dan sutradara, Mas Rendra bagaikan buku jurus-jurus silat yang harus diburu, dipelajari, kecuali kepribadiannya yang bertentangan dengan diri saya. Remy Sylado pernah mewawancarai apa arti Rendra bagi saya. Saya jawab, buat saya, Rendra adalah guru, sahabat, dan musuh,” ucap Putu Wijaya yang ketika di Jogja kuliah di FH UGM, Akademi Seni Drama dan Film, dan Akademi Seni Rupa.

Pindah ke Jakarta, Putu Wijaya mejadi wartawan majalah Tempo dan bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer karena ingin punya grup teater di Jakarta. Dia lihat Teater Kecil dan Teater Populer berbeda. “Dari Arifin, saya belajar berekspresi dengan idiom lokal/Indonesia. Dari Teguh, saya belajar menata produksi dan menjaga hubungan dengan penonton.”

Keinginan Putu Wijaya terkabul tahun 1971. Semula grupnya mau bernama Teater Kita. Kemudian Teater Mandiri karena Putu Wijaya “kagum pada kata itu yang saya anggap itulah yang harus kita perjuangkan untuk mengisi kemerdekaan”. Anggota awalnya karyawan majalah Tempo dan TIM, antara lain Syubah Asa, Etty Asa, Ali Said, Sutarno SK, Zubaedi, Mustafa, Rajul Kafi, Abdul Muthalib, dan Tizar. Perjalanan awal Teater Mandiri tak pernah menghadapi kesulitan karena Putu Wijaya mengajak mereka melihat kesulitan sebagai kesempatan untuk melompat lebih kreatif. Kemampuan Putu Wijaya mengolah kesulitan menjadi kesempatan melompat lebih kreatif dan menjadikannya etos kerja Teater Mandiri merupakan buah perjuangan panjang.

Kata perjuangan itu misalnya. Ketika di SMA, Putu Wijaya berteater dengan dibimbing penyair Kirdjomuljo. Satu hari Kirdjomuljo berkata bahwa untuk menulis yang utama bukan mesin tik, tapi perjuangan. Menulis sebagai perjuangan ini kemudian diimani Putu Wijaya. Dia menulis dalam Konsep Menulis, menulis “adalah sebuah peristiwa yang khusyuk, sunyi, pedih, melelahkan, menyakitkan, membosankan. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, menulis menjadi sebuah peristiwa yang “menegangkan” tetapi “indah dan sakral”. Begitu juga, atau apalagi berteater yang merupakan seni kolektif.

Perjuangan itu termasuk kesediaan menjadi murid rendah hati, teliti, tekun, disiplin, dan bernyali. Inilah salah satu yang membuat Putu Wijaya bisa menyerap kelebihan berbagai pihak dan mengolahnya hingga harmonis dan menjadi daya kreatif. Putu Wijaya pun membawa Teater Mandiri menjadi kelompok yang mengolah fasilitas berteater di Indonesia yang memprihatinkan menjadi pijakan. Jamak jika kemudian Teater Mandiri disejajarkan dengan grup-grup teater para gurunya.

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: Kedigdayaan Tubuh dan Imajinasi

“Putu Wijaya menyemarakkan panggung dengan lukisan imajinatif dan tragis-komisnya tentang realitas-realitas tak masuk akal dari kehidupan sehari-hari. Karya-karyanya—menurut saya Putu Wijaya adalah dramawan Indonesia paling orisinil—mencerminkan suasana budaya saat ini. Karya-karya Putu Wijaya, yang hampir semua memiliki judul satu kata dengan banyak tafsiran (seperti “Wah”, atau “Blong”, atau “Dor”) adalah rangkaian cemoohan halus tapi hidup atas kepura-puraan moral dan intelektual. Biasanya, Putu Wijaya, yang lahir dalam keluarga Bali yang amat terhormat, membuat rontok kefasihan bicara para pemainnya segera setelah argumen-argumen meyakinkan mereka atas isu apa pun—umumnya isu yang lagi hangat.”

Ucapan Goenawan jelas menghormati Putu Wijaya, juga DKJ. Wajar jika kemudian banyak dewan kesenian provinsi lain menjadikan DKJ rujukan. Namun lembaga-lembaga itu dibuat lebih karena iming-iming dana dari Ketua Bapenas kala itu Ginandjar Kartasasmita. Dan peran signifikan Ali terlupa. Mereka tak melihat DKJ merapuh setelah Ali diganti Tjokropanolo. Subsidi pemerintah DKI untuk TIM mengecil dan sulit mendapatkannya. Politik  otoriter makin merecoki. Suprapto, pengganti Tjokropanolo, makin membuat DKJ hilang daya dan TIM makin amburadul. Namun iming-iming dana begitu membius. Jadilah lembaga-lembaga itu jauh dari DKJ di era emasnya. Bahkan ada dewan kesenian yang didirikan lebih untuk menghabiskan anggaran belaka seperti Dewan Kesenian Jabar.

Begitupun dewan kesenian kabupaten/kota. Kebanyakan energinya habis disedot birokrasi pemerintah yang tak kompeten, berbelit-belit, dan korup. Jamak jika Dewan Kesenian Kota Bandung, misalnya, kegiatannya dalam satu tahun hanya rapat dan rapat belaka karena, seperti dikata ketuanya Rahmat Jabaril, Pemkot Bandung masih terus mempersulit legalisasinya.

Di tengah kondisi begitulah Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya diadakan. Acaranya pertunjukan, pelatihan, dan sarasehan. Ada sepuluh kelompok yang manggung dari naskah-naskah Putu Wijaya: Teater Dongkrak (Tasikmalaya), Teater Api Indonesia (Surabaya), Jurusan Teater ISI (Padang Panjang), Jurusan Teater STKW (Surabaya), Ngaos Art (Tasikmalaya), Jurusan Teater IKJ (Jakarta), Aktor Piktorial (Bandung), orasi Putu Wijaya, monolog Jais Darga, Teater Mandiri (Jakarta), dan Teater Payung Hitam (Bandung). Setiap pertunjukan dihadiri penonton yang datang bukan saja dari Kota Tasik dan Kabupaten Tasik, tapi pun dari bebagai kabupaten/kota, berbagai provinsi, bahkan ada yang dari Malaysia.

Pelatihan teater tentang tubuh dan keaktoran (sore 29-30 November) diikuti siswa sekolah menengah, mahasiswa, guru, dan kelompok-kelompok teater dari Tasik dan Ciamis. Moh. Wail dan Basir (Payung Hitam) dan Irwan Jamal (Aktor Piktorial) berhasil membangkitkan gairah peserta pelatihan.

Sarasehan (sore 4 Desember) juga sukses membuat GKT penuh. Dan mereka tertib mengikuti uraian Jakob Sumardjo dan Halim HD. Jakob membongkar sejumlah monolog Putu Wijaya. Hasilnya karya-karya Putu Wijaya merupakan teror terhadap pikiran. Dan teror ini tidak bersumber dari pemikiran Barat, tapi dari tradisi nusantara. Halim membahas “Aduh”. Menurutnya, naskah ini berhasil menggambarkan penggerusan individualitas. Maka, kepada para penggiat gerakan teater pembebasan yang muncul tahun 1970-an, Halim menyatakan bahwa teater pembebasan itu adalah “Aduh” dan drama-drama Putu Wijaya lainnya.

Pelatihan teater dan sepuluh pertunjukan yang berlangsung di dalam dan di luar GKT mengamini uraian Jakob dan Halim. Peristiwa teater pun membesar menjadi peristiwa kebudayaan yang menandai kota, provinsi, bahkan negara. Dan ini diadakan DKKT yang baru berumur tiga tahun. Jadilah, setidaknya untuk saya, Anugerah Budaya & Festival Putu Wijaya terasa seperti hujan di tengah terik kemarau menahun.

Hikmat Gumelar

Penggiat Institut Nalar

AYO BACA : Festival Putu Wijaya: dari Marlyn Monroe ke Perempuan Sejati

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar