Yamaha

Surga Bernama Curug Malela

  Kamis, 03 Januari 2019   Netizen
Curug Malela. (Herry Prapto, Kanwil DJP Jawa Barat I)

Sebuah pesan pendek masuk melalui aplikasi WhatsApp (WA) saat aku hendak beranjak pulang dari tempat bekerja. Aku membacanya di parkiran Gedung Keuangan Negara, Bandung, sambil menyaksikan sekumpulan orang berlalu-lalang.

Di penghujung tahun 2018, lalu lintas di Jalan Asia Afrika nyaris tak bergerak. Tak seperti biasa, sejak pukul 2 siang, jalan satu arah menuju ke Alun-alun Kota Bandung dan Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat itu nampak semakin sesak dengan warga yang hendak merayakan pergantian tahun.

Imbasnya, kendaraan yang hendak menuju Jalan Dalem Kaum juga terhambat. Berkali-kali, suara klakson terdengar di perempatan Jalan Asia Afrika-Dalem Kaum, meminta pengendara di depannya segera bergerak maju atau sekadar memberikan akses.

Jalan itu menjadi saksi bisu digelarnya konferensi yang amat bersejarah, yang mempertemukan 29 negara se-Asia dan Afrika pada 18-24 April 1955. Konferensi Asia-Afrika pertama tersebut terjadi di Gedung Merdeka yang berada di jalan tersebut. Konferensi membahas isu kedamaian dan kerjasama dunia yang dihadiri oleh delegasi negara se-Asia-Afrika, mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu.

Ya, Kedamaian. Kata itu lantas terlintas di kepalaku. Ketenangan yang aku butuhkan setelah seharian ini menyaksikan hingar bingar kehidupan di Ibu kota Jawa Barat ini. Aku memang tak terlalu menyukai keriuhan. Bagiku, kota besar seperti Bandung, hanya untuk bekerja dan belajar. Kemacetan yang terjadi setiap hari, hanyalah risiko keseharian yang harus aku terima sebagai konsekuensiku mencari nafkah dan belajar tadi. Maka, ketika sebentuk ajakan melalui pesan WA itu aku terima, aku langsung mengiyakan. Pesan-pesan berikutnya sudah pasti dapat ditebak, percakapan teknis menuju ke lokasi.

AYO BACA : Mitos di Balik Keindahan Curug Cinulang

Aku dan tujuh orang lainnya bersepakat berkumpul pukul 05.00 WIB di Cimahi. Matahari nampak malas untuk menampakkan wajahnya. Di salah satu sudut langit, bulan sabit masih enggan beranjak. Sesekali ia menampakkan pucat wajahnya dibalik awan. Aku beranjak menerobos udara dingin pagi hari. Mataku masih sedikit sulit berkompromi untuk membuka. Puncak pergantian tahun sudah berakhir beberapa jam lalu masih menyisakan kantuk di kedua mataku.

Malela, seperti curug (air terjun) lain pada umumnya berada jauh dari hingar bingar kehidupan perkotaan. Perjuangan kami ke curug Malela cukup melelahkan. Namun, begitu sampai di lokasi Curug Malela, semua terasa terbayarkan. Menemukan curug ini bagaikan menemukan lokasi harta karun yang begitu indah mempesona. Terletak diantara tebing tinggi dan hamparan pegunungan, Curug Malela bak surga tersembunyi yang sangat terisolir dari peradaban manusia.

Curug Malela terletak di desa Cicadas, kecamatan Rongga kabupaten Bandung Barat. Perjalanan kami dari Cimahi menuju lokasi berjarak sekitar 65 KM. Kami melewati jalan Raya Batujajar-Gununghalu, Kab. Bandung Barat. Kondisi jalan cukup baik dan berkelak-kelok. Tak jarang kami menemui tikungan, tanjakkan, dan turunan tajam sehingga kecepatan maksimal hanya 30 KM/jam. Semakin mendekati lokasi, lebar jalan semakin menyempit. Meski relatif dekat, perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam menggunakan mobil.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1,2 km dari tempat parkir wisata. Parkiran ini hanya bisa menampung sekitar 10-15 mobil saja. Sebuah gapura bertuliskan selamat datang di Curug Malela dalam bahasa Sunda, menjadi penanda akses masuk ke curug yang memiliki hulu sungai bagian Utara Gunung Kendeng itu. Gunung berapi yang telah mati itu terletak di sebelah barat Ciwidey, Kabupaten Bandung. Aliran sungainya mengalir melintasi sungai Cidadap-Gununghalu yang menjadi sumber air tak hanya curug Malela ini, namun ke-enam curug lainnya yaitu Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir, dan Curug Pameungpeuk.

Dibelakang gapura, nampak jalan setapak menurun sepanjang kurang lebih 200 meteran dengan pembatas kanan-kiri dari besi. Usai melewati jalan yang terbuat dari paving block ini, kami menemui jalan terjal dari batu dan tanah liat. Meskipun begitu, menelusuri jalan setapak menuju lokasi curug ini tidaklah membosankan karena sejauh mata memandang terhampar perbukitan yang begitu asri nan hijau.

AYO BACA : Berburu Milky Way ke Ciwidey

Tak perlu takut kehausan, karena disepanjang jalur setapak itu sudah tersedia warung. Selain itu, fasilitas ibadah dan toilet juga sudah bisa digunakan, malah di bagian bawah dekat dengan lokasi curug, kini sedang dibangun tambahan fasilitas tersebut.

Suara gemericik aliran air melewati bebatuan besar dan kecil, membuatku hanyut dalam suasana syahdu. Setelah puas mengambil beberapa foto, pada sebuah warung di sisi sungai, aku terpaku menikmati keindahan curug yang mempunyai ketinggian sekitar 60 meter dengan lebar mencapai 70 meter itu.

Jika curug umumnya tinggi menjulang, berbeda dengan curug  yang mempunyai 5 buah jalur air terjun yang indah dan megah ini. Apalagi jika debit air sedang banyak dan mengalir deras melintasi air terjun ini, akan terlihat indah sekali. Pemandangan ini mengingatkanku pada kemegahan air terjun Niagara di benua Amerika. Tak heran, curug Malela dijuluki ‘The Little Niagara’ atau Air Terjun Niagara Mini.

Hari sudah siang. Saatnya kami kembali menuju ke tempat parkir untuk mekan siang. Kami berjalan menyusuri jalan setapak tadi. Baru beberapa meter mendaki, nafasku sudah tersengal-sengal. Beberapa kali aku berhenti untuk beristirahat. Bagiku, rute ini cukup berat. Ternyata tak cuma aku, beberapa pengunjung yang tak kuat lagi mendaki, memutuskan untuk menyewa ojeg dengan ongkos sewa Rp25rb hingga ke tempat parkir.

Saat beristirahat itulah ingatanku tertuju kepada Tuhan. Sambil meneguk air mineral yang aku bawa, kembali pandanganku ke aliran sungai dari gunung Kendeng itu. “… surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,” terjemahan firman Allah dalam Alquran itu melintas. Lantas aku membandingkan dengan surga dunia yang bernama curug Malela ini. Meski tak berbayar saat kami memasukinya, perjalanan kami meraihnya cukup berat.

Maka benarlah adanya, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan menuju ‘surga’ kita masing-masing. Setiap ‘surga’ mempunyai harganya sendiri dan seringkali itu tak murah. Kadang harga surga itu senilai takwa, pengorbanan, kesusahan, ketabahan, kesabaran, dan/atau keikhlasan.

Maka, berjalanlah. Dari perjalanan itu, kita akan dapat mengambil pelajaran. Tabik.

Herry Prapto
Kanwil DJP Jawa Barat I

AYO BACA : Menelusuri Cerita di Balik Kemegahan Batu Lawang Cirebon

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar