Yamaha NMax

Mengapa Tak Berlibur Untuk Kerja Sosial?

  Rabu, 02 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi kerja sosial. (Pixabay)

Masa liburan selama tiga minggu usai sudah. Seberapa banyak yang menghabiskannya dengan melakukan kerja sosial di tempat-tempat peribadatan, panti asuhan, atau panti jompo? Adakah yang mengunjungi masyarakat terpencil dan memfasilitasi pembangunan fasilitas umum serta fasilitas sosial? Atau sekedar melawat ke wilayah tak terjamah.

Memanfaatkan waktu luang untuk memahami kebiasaan atau budaya orang lain belakangan ini sangat penting. Tidak perlu ke luar negeri, cukup ke satu atau beberapa provinsi di Tanah Air.

Pemanfaatan serupa itu akan membuka perspektif baru, pengalaman baru sekalipun belum tentu positif. Pada akhirnya ia akan memperkaya khazanah pengetahuan dan pemikiran kita.

Jauh sebelum teknologi komunikasi berkembang pesat, sebuah perusahaan telah menjadi melting pot karyawan dari berbagai daerah. Dengan demikian, friksi dapat terjadi lantaran alasan-alasan sepele, yang berawal dari ketidakpahaman atas budaya dan kebiasaan masing-masing. Ada karyawan yang berbicara lantang dan menohok, sedangkan yang lain menyuarakan pendapat secara diplomatis sampai tak dimengerti karena demikian halus.

AYO BACA : Berbagi Kebersamaan ala Komunitas Share

Makin Penting

Mengetahui dan memahami daerah-daerah lain serta budaya dan penduduknya akhir-akhir ini menjadi semakin penting. Hal ini seiring dengan hadirnya teknologi komunikasi serba canggih yang ditanamkan pada berbagai aplikasi dalam ponsel. Jumlah pengguna ponsel di Indonesia sendiri pada 2018 mencapai lebih dari seratus juta, sedangkan internet 123 juta orang.

Ponsel pintar dan komputer pribadi, melalui berbagai aplikasi, telah mempersatukan jutaan orang ke dalam berbagai kegiatan, seperti bisnis, pendidikan dan lainnya. Dalam hubungan ini, kecanggihan teknologi komunikasi telah melampaui keharusan mengenal lebih dulu rekanan bisnis. Suatu pendekatan yang berisiko, meskipun kerap diabaikan seperti yang tercermin dalam transaksi pengiriman barang kepada penerima yang tak dikenal sama sekali.

Manfaat Piknik  

AYO BACA : Sukarelawan, Bukan Hanya Berbagi Tanpa Pamrih

Mereka yang memanfaatkan liburnya sebagaimana yang digambarkan di atas, akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan bisnis yang menggunakan ponsel atau komputer. Sekurang-kurangnya karena yang bersangkutan sudah memahami mitra bisnis sebelumnya.

Barangkali inilah sebabnya mengapa masyarakat Barat mendukung generasi mudanya keliling dunia, sekalipun dengan dana keuangan yang terbatas. Menjumpai hal-hal yang baru akan memperkaya pemahaman tentang masyarakat negara lain.

Itu pula sebabnya, mengapa pemerintah asing mengirimkan para calon diplomat maupun diplomat belajar bahasa Indonesia di Yogyakarta. Anggota masyarakat diplomatik itu bila bertugas di Indonesia sudah berbekal kemampuan bahasa dan memahami perilaku orang Indonesia yang tak mudah dimengerti.

Kesimpulannya, betapa pun canggihnya teknologi komunikasi dalam mempersatukan manusia, lebih baik lebih dulu mengenal manusia lain. Bagaimanapun  atau komputer hanyalah alat.

Farid Khalidi

AYO BACA : Jadibaik, Gerakan Berbagi Sarapan untuk Kaum Duafa

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar