Yamaha Lexi

Alat Peraga Kampanye Gado-Gado di Pemilu 2019

  Rabu, 02 Januari 2019   M. Naufal Hafizh
Ilustrasi.

Kontestasi Pemilu semakin dekat. Tiap politisi kian rajin mengeluarkan jurus kampanyenya. Strategi terbaik dikerahkan demi menduduki kursi penguasa, baik di daerah maupun pusat.

Setiap politisi punya cara tersendiri dalam menarik simpati rakyat. Di era modern ini, beberapa politisi sudah beralih dalam berkampanye. Mereka beralih ke dunia maya sebagai lahan untuk eksploitasi. Makanya, kita kerap mendapat pesan berantai di Whatsapp tentang kehebatan sang calon.

Linimasa media sosial pun tak luput dari sorotan tim sukses. Hal itu ditandai dengan menjamurnya akun-akun dukungan yang muncul beberapa bulan terakhir.

Canggihnya teknologi tak serta-merta membuat politisi melupakan metode kampanye konvensional. Mereka, kaum-kaum yang mengagungkan perubahan tetap menyasar ruang publik untuk dijadikan tempat kampanye. Berbagai spanduk dipasang, dari yang kecil hingga besar dikerahkan politisi. Namun, ada fenomena unik pada pola kampanye di Pemilu 2019 ini, terutama pada alat peraga kampanye konvensional.

Pemilu 2019 ini jadi ajang perdana pemilihan legislatif dan presiden dilaksanakan serentak. Pembuat kebijakan menganggap hal itu efektif menekan anggaran pemilu. Kontestasi pemilu 2019 membuat beberapa partai ketar-ketir, bingung harus memprioritaskan pemilihan legislatif atau presiden. Mengusai beberapa saat lalu, partai demokrat telah sesumbar menyatakan partainya akan menggunakan metode double track campaign. Demokrat tak hanya menyasar kursi di Kemayoran saja, pemilihan orang nomor satu pun diincarnya dengan serius.

Riuhnya alat peraga kampanye

AYO BACA : DPRD Jabar Dukung Deklarasi Damai Pileg dan Pilpres 2019

Tentu saja, dalam upaya melenggangkan kekuasaan di DPR maupun presiden perlu ada alat peraga kampanye. Namun, pernahkah anda melihat spanduk kampanye yang penuh dengan potret manusia? Jika pernah, berarti nasib kita sama.

Keberadaan spanduk yang menggelitik sering saya temui. Bagaimana tidak, dalam satu spanduk berukuran tidak lebih dari satu meter tersebut ada potret calon legistaif tingkat daerah, calon legislatif RI, serta pasangan calon presiden.

Spanduk tersebut tampaknya tidak memberi izin pada kita untuk melihat ruang kosong. Meski kontestasi pemilu dilakukan serentak, dengan “digado-gadokan”–nya alat peraga tersebut membuat rakyat pusing tidak karuan. Kondisi itu terjadi lantaran terlalu sesaknya alat peraga yang dipasang oleh salah satu peserta pemilu.

Cara tersebut memang jitu dalam menekan anggaran kampanye, yang katanya bisa sampai milirian rupiah. Namun, alangkah lebih baik bila memikirkan kesehatan mata rakyat yang melihat spanduk tersebut.

Tentu penting pula bagi rakyat dalam mengenal sang calon pemimpin dengan seksama. Bila dalam satu alat peraga berisi banyak calon, rakyat bukannya tahu calon pemimpinnya, malah berpaling dari spanduk yang riuh tersebut.

Figur pemimpin terdahulu tidak ketinggalan disematkan pada alat peraga peserta pemilu. Politisi dari partai banteng tentu tahu, figur Megawati Soekarno Putri dianggap bisa menyumbang suara bila ditaruh pada alat peraga.

AYO BACA : Peraturan Bawaslu Resahkan Para Ketua RW di Kota Bandung

Berbeda dengan partai baru buatan keluarga Cendana yakni partai berkarya. Politisi partai tersebut seakan punya kewajiban menyematkan foto Soeharto lengkap kata-kata bijak yang pernah Soeharto katakan. Harapannya, rakyat dibuat susah move on dengan alat peraga tersebut.

Problematika ini semakin pelik tatkala banyak alat peraga yang tidak layak untuk diperagakan. Sering saya temui spanduk yang gambarnya jauh dari kualitasnya, mengenaskan. Gambar yang pecah, resolusi gambar yang tidak sesuai, serta kesalahan pengetikan mewarnai alat peraga buatan calon pemimpin bangsa. Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran politisi akan komunikasi visual.

Komunikasi visual sejatinya bisa dijadikan senjata dalam meraih simpati. Bila sang politisi tahu bagaimana komposisi warna yang bisa menarik perhatian, font yang tepat, dan penempatan gambar yang pas, bukan hal yang mustahil lumbung suara bisa didapat dari efektifnya alat peraga kampanye.

Alat peraga kampanye yang layak mudahkan rakyat menentukan pilihan

Kampanye merupakan ajang bagi calon pemimpin untuk memperkanalkan diri dan visi ke masyarakat. Dengan banyaknya alat kampanye yang diperbolehkan oleh badan pengawas pemilu, rasanya bukan hal yang sulit bagi politisi dan atau timsesnya melakukan berbagai terobosan dalam kampanye.

Dengan alat peraga yang layak, rakyat pun akan diberi kemudahan dalam mengenali calon pemimpinnya. Gado-gado yang tengah dilakukan politisi agaknya harus dipikirkan kembali efektivitasnya. Melalui alat peraga kampanye, rakyat punya hak dalam mengetahui figur calon pemimpin dan visi yang ditawarkannya.

Waktu kampanye terus bergulir, namun belum terlambat bagi calon pemangku kebijakan ini memperbaiki alat peraga kampanyenya. Melalui alat peraga yang layak pula rakyat akan dimudahkan dalam memilih putra-putri terbaik bangsa yang akan memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Muhamad Arfan Septiawan

Mahasiswa Semester Tiga Program Studi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran

AYO BACA : Survei Pilpres 2019: Jokowi-Cak Imin Unggul di Mata Pemilih Muslim

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar