Yamaha Aerox

Endometriosis yang Masih Mengancam Kualitas Hidup Perempuan

  Rabu, 02 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi endometriosis yang mengancam kualitas hidup perempuan

Perempuan diciptakan Tuhan dengan segenap keistimewaan. Di dalam Alquran, kitab suci umat Islam, Allah mengabadikan ucapan istri Imran pada surah Ali-Imran ayat 36 yang berbunyi: “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan,“ yang menegaskan bahwa satu di antara banyak keistimewaan perempuan adalah amanahnya dalam melanjutkan keturunan. Perempuan dianugerahi sistem reproduksi yang membuatnya dapat hamil dan melahirkan.

Karunia sangat spesial yang diberikan kepada perempuan ini membuat perempuan diharapkan mau menjaga dan peduli pada kondisi kesehatannya terutama kesehatan reproduksi.

Berdasarkan data dari Globocan, IARC (International Agency for Research on Cancer) pada tahun 2012 kanker payudara dan kanker leher rahim merupakan jenis kanker tertinggi untuk perempuan Indonesia. Insiden kanker payudara di Indonesia sebesar 40 per 100.000 perempuan sementara insiden kanker leher rahim sebesar 16 per 100.000 perempuan.

Pada tahun 2014, WHO menyatakan bahwa kanker leher rahim menyumbang 10,3 persen kematian pada 92 ribu kasus kematian wanita Indonesia yang disebabkan oleh kanker. dr. Laila Nuranna SPOG menyebutkan seperti yang dikutip oleh Antara (27/08/2017), setiap tahunnya, terjadi 21 ribu kasus kanker leher rahim (serviks) di Indonesia sehingga menempati nomor dua dalam jumlah tertinggi di dunia. Dalam kejadian di Indonesia ini, WHO mengungkapkan tingginya angka ini disebabkan oleh dua hal yakni kurangnya tindakan pemeriksaan awal (Skrining)penyakit kanker di Indonesia dan kurangnya pemahaman wanita akan kesehatan organ reproduksinya sendiri.

Umumnya, perempuan memang tidak terlalu memahami kesehatan reproduksi karena gejalanya yang mungkin tidak mengganggu aktivitas fisik (kesehatan secara umum), perempuan baru menyadarinya setelah rasa sakit yang dialami semakin berlebihan, ini terjadi umumnya pada penderita kanker. Sementara itu, penyakit yang sudah diderita terlanjur masuk pada stadium general akut. Padahal, kedua penyakit kanker mematikan pada perempuan ini dapat dideteksi secara dini (dengan tingkat kesembuhan 100 persen) dengan pemeriksaan awal rutin melalui pap smear serta pemeriksaan mamografi.

Tidak hanya dua penyakit tadi, perempuan juga masih menghadapi tantangan penyakit lainnya yakni endometriosis. Meski tidak mematikan seperti kanker leher rahim, Endometriosis memiliki kompleksitas melebihi kista atau mioma yang biasanya juga dialami oleh perempuan. Nyeri yang dirasakan wanita pemilik mioma atau kista akan lebih besar dibandingkan dengan saat menstruasi. Ini karena ukuran benjolan yang semakin membesar namun tidak berhubungan dengan siklus menstruasi itu sendiri.

Pada kasus kista ovarium yang berhubungan dengan siklus menstruasipun biasanya bisa menghilang dengan sendirinya bersamaan dengan siklus menstruasi. Baik kista maupun mioma akan semakin berkurang dan dapat disembuhkan dengan terapi pengobatan serta alternatif pengangkatan. Ada sebagian pula yang berpendapat bahwa kista ataupun tumor bisa jadi merupakan bagian dari endometriosis. Sementara itu, endometriosis hingga saat ini masih belum ditemukan dengan pasti apa penyebabnya dan tidak bisa benar-benar disembuhkan karena berhubungan dengan menstruasi, sehingga selama seorang perempuan masih dalam masa reproduksi, gejala sakit yang diakibatkan olehnya akan selalu muncul terus-menerus setiap menstruasi dan inilah yang dapat mengganggu kualitas hidup perempuan.

Endometriosis sendiri didefiniskan sebagai jaringan mirip selaput lendir yang menutupi permukaan rongga rahim (endometrium) yang berada di luar rongga rahim pada tempat yang tidak semestinya (Center For Young Women’s Health, 2006).

AYO BACA : Sutopo Inspirator Terbaik 2018 Penyintas Kanker Paru Indonesia

Endometriosis ini memicu reaksi inflamasi kronis yang mengakibatkan timbulnya rasa nyeri dan perlengketan. Keluhan karena endometriosis dapat sangat bervariasi pada setiap penderita seiring dengan fluktuasi hormon. Gejala bisa jadi akan dirasakan sebelum, selama dan sesudah masa menstruasi. 

Sebuah fakta yang dipublikasikan oleh The World Endometriosis Society and The World Endometriosis Research Foundation pada Januari 2012 memperkirakan bahwa endometriosis memengaruhi 1 dari 10 wanita dalam tahun-tahun reproduksinya.  Kompleksitas pada endometriosis yang lainnya adalah mekanisme perkembangan endometriosis sendiri yang belum terungkap secara menyeluruh hingga saat ini.

Selain itu, gejala yang sulit diketahui pada penderitanya, membuat Endometriosis seringkali tidak dapat dideteksi secara dini. Pun, diagnostik medis baru bisa ditegakkan secara pasti satu-satunya ialah dengan jalan laporoskopi diagnostik dengan biaya yang tidak murah. Melalui operasi bedah laporoskopi, barulah bisa ditegakkan seberapa dalam tingkat keparahan endometriosis, ada empat grade yang akan diputuskan oleh dokter yakni grade satu, dua, tiga, empat. Semakin besar angkanya, menunjukkan semakin dalam level endometriosis yang diderita.

Satu-satunya gejala yang mungkin bisa dirasakan adalah keluhan nyeri saat haid. Namun, keluhan nyeri bisa jadi bukan disebabkan endometriosis, sebaliknya pada endomestriosis grade yang lebih berat, bisa jadi keluhan yang dirasakan lebih ringan dibanding endometriosis grade rendah. Jadi semua serba tidak pasti.

Sementara itu, keluhan menjelang-saat-sesudah menstruasi telah mengganggu hari-hari penderita endometriosis. Bentuknya dapat bermacam-macam, pusing berlebihan, mual-muntah, demam, gangguan pencernaan, kelelahan bahkan pingsan hingga sakit luar biasa pada bagian panggul dan sekitarnya.

Fluktuasi hormon juga memengaruhi kondisi psikologis perempuan, pramenstruasi yang biasanya ditandai dengan emosi yang labil dapat dialami oleh penderita endometriosis dalam level yang jauh lebih parah. Hal ini akan berpengaruh pada pola hubungannya dalam aktivitas interaksi sosial dengan yang lainnya. Bahkan, saking sakitnya, perempuan terpaksa harus berbaring saja, menarik diri dari aktivitas luar atau mengurus surat izin sakit bagi yang masih sekolah dan bekerja.

Keadaan ini akan terus berulang, karena endometriosis tidak bisa benar-benar disembuhkan sepanjang seorang perempuan mengalami masa menstruasi. Saya sering membahasakannya dengan “Perempuan dengan Setengah Kehidupan”. Mengapa setengah? Sebab dalam hidup perempuan endometriosis, setengah hidupnya dalam setengah periodik akan sehat dan sangat produktif, setengahnya lagi ia akan mengalami masa abnormal dan sakit luar biasa. Begitu terus mengikuti siklus menstruasinya.

Tentu ini akan berdampak tidak hanya pada kehidupan keseharian, tetapi juga pada pola hubungan sosialnya.

AYO BACA : Cara Hidup Sehat untuk Mencegah Kanker Payudara

Penelitian terbaru yang dilakukan De Graaf, dkk pada 2013 memperlihatkan bahwa gejala-gejala yang menyertai endometriosis, seperti dysmenorrhea, dyspareunia, dan nyeri panggul kronis, memiliki dampak buruk terhadap aspek pendidikan (16%), pekerjaan (51%), dan hubungan dengan pasangan (51%). (De Graaff, et al. 2013).

Hal di atas masih diperparah dengan banyaknya perempuan yang tidak mau menyatakan rasa sakitnya saat menstruasi. Rasa sakit memang alamiah akan dialami oleh setiap perempuan saat menstruasi, tetapi rasa sakit yang berlebihan terkadang masih dianggap tabu dan memalukan untuk diutarakan. Hatta itu diutarakan kepada sesama perempuan karena bagi perempuan normal yang hidup tanpa endometriosis, kehidupan mereka masih sangat produktif dan aktif bahkan saat menstruasi. Masih agak janggal rasanya jika menuliskan di surat permohonan sakit, “sakit karena haid” dibandingkan menuliskan alasan sakit karena demam atau flu parah.

Selain itu, masih banyak perempuan yang merasa sakit berlebihan saat menstruasi adalah hal yang harus diterimanya dengan lapang, sehingga merasa tidak perlu untuk ditindaklanjuti dengan pemeriksaan ke dokter kandungan.

Hingga saat ini, pengobatan endometriosis hanya dapat dilakukan dengan menekan keluhan. Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah dengan membuat perempuan tidak mengalami menstruasi beberapa waktu, hal ini dimungkinkan dengan menggunakan pola pengobatan hormonal atau secara alamiah melalui proses hamil-melahirkan dan menyusui. Sayangnya lagi, penderita endometriosis harus mengalami keinginan yang sangat tidak diinginkan padanya, yakni peluang infertilitas atau kemandulan. Speroff (2015) menyatakan bahwa endometriosis sangat erat kaitannya dengan fertilitas, diperkirakan 20 sampai 40 persen perempuan infertil menderita endometriosis. Pada penelitian lain disebutkan bahwa sekitar 30 sampai 50 persen perempuan penderita endometriosis adalah infertil. Sebaliknya, perempuan infertil memiliki risiko menderita endometriosis 6-8 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan normal.

Sehingga pilihan terapi lainnya yang dapat dilakukan ialah memperbesar peluang kehamilan yakni dengan tindakan laporoskopi operatif atau melalui pemanfaatan Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) yang biasa dikenal dengan istilah bayi tabung yang tentu biayanya lagi-lagi tidak murah.

Pun, ternyata, pengangkatan rahim disertai indung telur yang merupakan senjata pamungkas tetap tidak akan menyelesaikan permasalahan endometriosis. Sehingga dengan ini kesimpulan yang mungkin dapat diambil ialah, agar setiap perempuan selalu peduli dengan apa yang terjadi pada siklus menstruasinya. Jika terjadi permasalahan seperti haid yang tidak teratur, pendarahan, ataupun rasa nyeri yang berlebihan, segera utarakan dan berupaya untuk konsultasi secara medis ke dokter spesialis kandungan.

Dugaan terhadap endometriosis dapat diketahui dengan mengetahui gejala umum ataupun akibatnya. Bagi perempuan yang belum menikah, keluhan nyeri berlebihan bisa jadi pertanda, sementara bagi perempuan yang telah menikah, gejala tidak kunjung hamil lebih dari 6 bulan dengan intensitas hubungan intim teratur bisa mengarah pada kasus infertilitas yang berpeluang pada endomestriosis ataupun bisa jadi pertanda ada sesuatu yang tidak beres pada organ reproduksi.

Maka dengan ini, saya mengajak setiap perempuan untuk mulai mau memberanikan diri “speak up” dengan kondisi yang dialaminya, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dapat segera mendapatkan solusi. Dan mengajak perempuan sehat lainnya untuk mau peduli serta memberikan “support system” yang baik terhadap setiap perempuan yang hidup dengan endometriosis. Salam!.

Nurin Ainistikmalia, SST

Survivor Endometriosis, Pemerhati Perempuan dan Masalah Sosial

AYO BACA : Darah Saat BAB Adalah Tanda Kanker Usus Besar

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar