Yamaha NMax

Ilmu Komunikasi Bukan Lagi Soal Jago Ngomong

  Rabu, 02 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi ilmu komunikasi harus berpadu dan berpacu dalam era industri 4.0. (Pixabay)

Tren komunikasi pada era ini menjadi semakin dinamis. Kini beriring teknologi informasi yang berkembang pesat, komunikasi menjadi nyawa dalam setiap sendi kehidupan. Kajian segala ilmu yang terdapat di dunia ini tak lepas dari peran komunikasi.

Bertepatan dengan itu, maka tak heran bahwa komunikasi menjadi satu ilmu yang saat ini banyak diminati. Dalam lima tahun terakhir, jurusan Ilmu Komunikasi (Ilkom) menempati lima besar jurusan terfavorit rumpun soshum di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sadar akan prospek yang dijanjikan jurusan ini dapat mencangkup banyak bidang.

Melihat realitas tersebut, sudah sepatutnya perguruan tinggi di Indonesia menciptakan pendidikan komunikasi yang berkualitas.

Dewasa ini, terjadi realita di mana prospek kerja jurusan Ilkom justru menampung lulusan jurusan lain. Sebagai contoh, Dewan Pers dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tidak melihat latar belakang pendidikan. Ini yang harus disadari betul bahwa tak bisa lagi hanya memfokuskan pada pendidikan dasar Ilkom, namun juga dikreasikan demi terciptanya suatu hal yang hanya dapat dikuasai lulusan Ilkom.

Fakultas Ilmu Komunikasi Favorit

Berbicara tentang perguruan tinggi yang memiliki pendidikan komunikasi di dalamnya, saat ini Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) yang jadi trendsetter. Dari ratusan perguruan tinggi di Indonesia yang menjadikan Ilmu Komunikasi sebagai program studi, Unpad memberanikan diri menempatkan ilmu komunikasi menjadi fakultas tersendiri. Fikom Unpad menjadi fakultas komunikasi pertama di Indonesia.

AYO BACA : Bidang Komunikasi Penuh Persaingan, Ini Tantangannya

Penobatan fakultas komunikasi pertama menjadi tantangan tersendiri untuk dapat setidaknya selangkah lebih maju. Tak hanya itu, tantangan semakin besar karena Fikom Unpad menjadi fakultas komunikasi dengan peminat terbanyak dan semakin bertambah setiap tahunnya. Dilansir dari laman resmi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Fikom Unpad pada 2014 mencapai hampir 7.500 peminat, melonjak drastis pada 2016 menjadi 12.290 peminat, hingga terakhir pada 2017 kembali naik menjadi 13.798 peminat.

Data di atas menunjukkan eksistensi Fikom Unpad sebagai trendsetter ilmu komunikasi di Indonesia tidak diragukan lagi. Fikom terasa superior di mata perguruan tinggi lain. Oleh karena itu, Fikom Unpad harus menjadi pelopor dari pendidikan komunikasi yang modern di era ini serta harus menyadari lebih awal akan tantangan global yang semakin memanas.

Saat ini, Fikom Unpad memasuki usia ke-58, umur yang tidak muda lagi. Umur yang sepatutnya sudah mampu menemukan solusi di balik permasalahan komunikasi di Indonesia. Ulang tahun kali ini diharapkan menjadi momentum terciptanya inovasi-inovasi baru dalam menciptakan kurikulum yang kompetitif dan relevan dengan persaingan global.

Penelitian yang pernah dilakukan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bina Mulya, Teguh Priyo Sadono dan Rina Nur Chasanah yang berjudul “Kajian Ilmu Komunikasi Pandangan dan Harapan” menyebutkan, permasalahan pembelajaran ilmu komunikasi saat ini ialah pengetahuan ilmu komunikasi yang implementatif tidak tercermin dalam kurikulum yang ada di program studi.

Meski penelitian di atas dilakukan kepada lima perguruan tinggi swasta, namun fenomena ini dapat digeneralisasi sebagai permasalahan pembelajaran ilmu komunikasi.

Fikom Unpad melalui suatu karya yang diciptakan akan dapat mengikis permasalahan tersebut. Fikom dapat memberikan inovasi berupa standar kurikulum yang aplikatif terhadap dunia kerja, sehingga dapat dijadikan acuan perguruan tinggi lain dalam mengatasi masalahnya.

AYO BACA : Menelisik Peran dan Peluang Komunikasi di Era Post-Truth

Fikom pernah menduduki peringkat pertama Indonesia Best School of Communication versi majalah Mix Marketing Communication empat tahun berturut-turut (2010–2014). Indikator keberhasilan ini di antaranya Fikom mampu menciptakan lulusan yang mumpuni di dunia kerja. Hal itu tentunya berawal dari sistem pembelajaran yang selama ini diterapkan.

Akan tetapi, segala pencapaian itu saya rasa sangat disayangkan bila tidak dibagi kepada perguruan tinggi lain. Dunia hanya mengetahui pencapaian tersebut, namun tidak mengetahui bagaimana proses mencapainya. Oleh karena itu, Fikom Unpad harus menciptakan sinergi dengan perguruan tinggi lain dalam mewujudkan pemerataan prestasi. Ini nantinya dapat menjadi pencetus kemajuan ilmu komunikasi di Indonesia.

Setiap perguruan tinggi di Indonesia tak cukup hanya membenahi kurikulum pendidikan yang berupa teori-teori di saat perkuliahan. Akan tetapi, juga harus menyiapkan mahasiswa-mahasiswanya menghadapi dunia kerja di masa yang akan datang. Revolusi Industri 4.0 menjadi satu tantangan perguruan tinggi menciptakan bibit-bibit unggul dalam persaingan yang makin kejam.

Dalam konteks ilmu komunikasi, jurusan di dalamnya tak lagi hanya menuntut mahasiswanya untuk rajin baca buku dan pintar ngomong, mereka juga wajib melek teknologi. Jurnalistik, misalnya, harus mempersiapkan lulusan yang diinginkan media-media di Indonesia. Realitas saat ini, media di luar negeri sudah berorientasi pada sistem kerja robot dalam praktik jurnalistiknya, tak menutup kemungkinan suatu saat Indonesia akan menyusul. Fakultas dituntut membiasakan mahasiswanya untuk menguasai teknologi tercanggih sekalipun agar tidak “kaget” saat masuk dunia kerja.

Satu hal yang perlu dicermati, dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas tidak serta-merta diukur dari ketepatan waktu kelulusan. Jangan sampai sebuah perguruan tinggi terkesan “memaksakan” mahasiswanya untuk lulus tepat waktu. Mereka menghalalkan segala cara demi salah satu persyaratan mendapatkan akreditasi A ini terwujud.

Harapan besar untuk Fikom Unpad yaitu menghindarkan diri dari hal demikian. Fikom harus mampu mendorong mahasiswanya untuk lulus tepat waktu dengan pembekalan studi yang mendalam dan signifikan. Jangan biarkan mahasiswa lulus namun nyatanya pembelajaran di kampus tak dapat diaplikasikannya di dunia kerja. Jangan pula niat menciptakan lulusan yang berkualitas namun melalui ambisi menonjolkan kuantitas.

Quadiliba Al-Farabi

Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad

AYO BACA : Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan untuk Generasi Muda

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar