Yamaha

Menikah, Rumah, dan Negara

  Selasa, 01 Januari 2019   Adi Ginanjar Maulana   Netizen Harry Prapto
Ilustrasi rumah.(Pixabay)
Mbangun rong tiang iku kangelan, mirip luru jodoh. Ana duite, durung tentu ana sing ngedol karange, ana sing ngedole, durung tentu cocok. Kudu pas kabehanane." (Membangun rumah itu sesulit mencari jodoh. Ada uangnya, belum tentu ada yang menjual tanahnya. Ada yang menjual (tanahnya) belum tentu sesuai keinginan. Harus pas semuanya.)

Bagi yang belum menikah, pertanyaan "kapan menikah?" menjadi pertanyaan paling membosankan. Kita tahu, perkara menikah itu bukanlah hal yang mudah. Butuh persiapan yang matang. Tak hanya soal menyatukan dua insan dan keluarga yang berbeda, banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan setelah menjadi keluarga, misalnya terkait kebutuhan pokok. 

Rumah (papan) menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi selain pakaian (sandang) dan makanan (pangan). Sebagian orang berpikir pernikahan itu tidak apa-apa dimulai dari nol. Jadi, menikah dengan persiapan alakadarnya yang penting nikah dulu, lainnya gampang. Tidak memikirkan bagaimana kehidupan setelah hari H pernikahan itu. Rumah kontrak dulu tak apalah, asal bisa satu atap bersama, yang penting sandang dan pangan masih tercukupi. 

Saya masuk dalam golongan yang berfikir simpel seperti ini. Membangun rumah tangga dengan modal nekat. Akhirnya, setelah menikah tidak bisa membangun rumah dan lebih memilih mengontrak rumah. Tapi, rumah sudah menjadi prioritas utama untuk kami miliki setelah menikah. 

Beruntung, pasangan yang saya nikahi mau berjuang bersama membangun rumah. Konon, hanya sedikit orang yang bisa merasakan kebahagian dan kebanggaan membangun rumah baru dan rumah tangga hasil keringatnya sendiri. Alhamdulillah, saya merasakannya. 

Pepatah mengatakan “Rumahku Surgaku”. Sekecil apapun rumah yang kita miliki adalah tempat yang paling nyaman untuk kita tinggali, karena dari sinilah "surga" itu bermula. Untuk membuat "surga" itu hadir tidaklah mudah. Banyak sekali godaannya. 

Membangun rumah itu menguras segalanya. Tak hanya materi, energi dan perhatian kita turut terkuras. Akibatnya seringkali membuat kepala kita menjadi pening, perasaan menjadi sangat sensitif alias gampang banget tersinggung.

Seberapa pun duit yang dialokasikan, kok rasanya tidak pernah cukup. Ini juga karena banyak hal "tetek bengek" yang terkadang lupa kita kalkulasikan. Jangan sampai karena hal-hal sepele dapat memicu pertengkaran saat membangun rumah. Akibatnya, kalau tidak sama-sama berpapang dada, dapat membuat semua bubar,  rumah terbengkalai (tidak jadi-jadi), hubungan keluarga pun hancur berantakan.

Nah, maka dari itulah, selain harus pandai memenej mental, kita juga harus cermat menghitung kebutuhan dananya. Cara mengkalkulasikan (hitungan kasar) yang biasa saya lakukan adalah dengan mulai menghitung kebutuhan material bahan bangunan, biaya tukang (pengerjaan), disesuaikan dengan harga sekarang dan proyeksi kenaikan harga (misalnya 20-30%). Proyeksi ini perlu juga untuk antisipasi kalau ternyata kita kekurangan bahan dan atau memang ada kondisi tertentu yang membuat harga material menjadi naik.

Angka itu masih ditambah biaya tak terduga lainnya, biasanya sekitar 20%. Jadi misalnya kita hitung harga bahan bangunan dan upah tukang Rp100 juta, maka minimal biar "aman" kita menyediakan dana sekitar Rp140-Rp150 juta.

Kenapa ada biaya tak terduga? Dana ini biasanya untuk mengantisipasi kebiasaan yang sudah berjalan di kampung saya, seperti slametan buka teki, munjuk suwunan (munggah molo), menjaga keamanan proyek, dan lain-lain.

Agaknya, wejangan ini cocok juga untuk yang bersiap membangun rumah. 

 "Le, kowe nek mbangun omah kudu jembar dodo mu, kudu dowo nalarmu, soale mbangun omah iku cubone gede, nek kowe sembrono, ora jembar dodomu, ora dowo nalarmu, biso biso malah bubrah kabeh, soale kanggo wong saiki, mbangun omah iku podo dene mbangun negoro." (Nak, kamu kalo membuat rumah harus lapang dadamu, harus panjang nalar/fikiranmu, karena membangun rumah itu cobaannya besar, kalo kamu sembrono/ceroboh, enggak lapang dadamu, enggak panjang nalar/fikiranmu, bisa bisa malah buyar semua, soalnya untuk orang jaman sekarang, membangun rumah itu sama saja dengan membangun negara.)
Herry Prapto
Kanwil DJP Jabar I

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar